“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka pewaris bumi.” (QS. Al-Qashash: 5)
—
1. Pintu Besi yang Tidak Benar-Benar Terbuka
Hari itu, beberapa pintu besi penjara Israel terbuka.
Kamera menyorot wajah-wajah pucat yang baru saja menghirup udara luar setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, terkurung dalam ruang tanpa cahaya.
Namun pemandangan itu tidak seperti kemenangan. Tak ada pelukan panjang. Tak ada tangisan bahagia.
Beberapa tahanan Palestina yang baru dibebaskan hanya berdiri terpaku, menunduk dalam jarak yang ganjil dari keluarga mereka.
Mereka tidak berani memeluk ibu atau anaknya.
Bukan karena mereka tak ingin — tapi karena tubuh mereka penuh luka dan gatal yang menular: kudis, penyakit yang tumbuh dari kelembapan dan pengabaian.
New Arab menulis: “Kurang dari 20% tahanan Palestina dibebaskan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Amerika. Sebagian dari mereka bahkan tak bisa merangkul keluarga karena kudis yang mereka derita di penjara-penjara Israel.”
Mereka yang dibebaskan itu bukan orang-orang yang kalah.
Mereka hanya dibebaskan dengan tubuh yang dilemahkan, dengan tangan yang masih gemetar oleh ketakutan, dan kulit yang belum sempat sembuh dari luka yang tak dirawat.
Di mata dunia, mereka “dibebaskan.”
Tapi di mata sejarah, mereka adalah saksi — bahwa penjara bisa lebih luas dari dindingnya.
—
2. Angka yang Tak Mengandung Keadilan
Gencatan senjata yang disambut pujian itu sejatinya hanya menyentuh sedikit dari luka yang menganga.
Hanya 17,7 persen — kurang dari satu dari lima tahanan Palestina — yang benar-benar dibebaskan.
Sisanya, ribuan orang masih dikurung, sebagian tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, dan tanpa cahaya matahari.
Al Jazeera menulis bahwa banyak dari mereka menunjukkan tanda-tanda “penyiksaan dan kelaparan” setelah keluar dari penjara Ketziot.
Tangan mereka kurus, kuku patah, kulit terkelupas.
Beberapa masih membawa bekas borgol di pergelangan tangan.
Dan di balik kulit yang gatal itu, tersembunyi kisah panjang tentang keputusasaan manusia yang sengaja diciptakan.
Sebuah laporan dari Times of Israel menyebutkan: “Wabah kudis telah melanda penjara Israel, terutama di sayap tahanan keamanan.”
Ironinya, sumber berita Israel sendiri mengakui kondisi itu, namun tetap menyebutnya sebagai “masalah kebersihan tahanan.”
Seolah penderitaan itu lahir dari kelalaian individu, bukan dari sistem penahanan yang disengaja untuk menghancurkan martabat.
—
3. Kudis Sebagai Bahasa Politik
Di dunia medis, kudis hanyalah infeksi kulit.
Tapi di dunia geopolitik, kudis di tubuh tahanan Palestina adalah simbol:
bahwa penjajahan modern tidak selalu memakai senjata, melainkan pengabaian.
Dalam laporan Le Monde, seorang mantan tahanan berkata lirih, “Kami tidak diperbolehkan mandi selama berminggu-minggu. Sabun dihapuskan. Handuk menjadi barang mewah. Kami tidur berhimpit, 12 orang di ruangan kecil tanpa ventilasi.”
Setiap kalimatnya adalah testimoni dari rezim yang menggunakan tubuh manusia sebagai ruang eksperimen kekuasaan.
Pengabaian menjadi metode penaklukan baru.
Bukan lagi dengan peluru, tetapi dengan membuat manusia kehilangan rasa dirinya.
Mereka ingin tahanan Palestina keluar dari penjara bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai orang yang malu terhadap tubuhnya sendiri.
Malu untuk dipeluk. Malu untuk disambut.
Itulah makna terdalam dari “penahanan kolektif.”
—
4. Pembebasan yang Tidak Benar-Benar Bebas
Para pakar HAM Palestina menulis bahwa sebagian tahanan yang dibebaskan dipaksa menandatangani dokumen pengasingan.
Beberapa dipindahkan ke daerah yang jauh dari keluarga.
Sebagian lagi dilarang berbicara di depan media atau menghadiri acara publik.
Ini bukan pembebasan, melainkan reposisi tahanan — sebuah cara halus untuk menghapus simbol perlawanan dari ruang sosial.
Di luar penjara, mereka tetap terkurung oleh stigma, trauma, dan penyakit.
Seorang aktivis dari Palestinian Prisoner’s Society menyebut:
“Israel tidak sekadar menahan tubuh kami, tetapi juga ingin menahan narasi kami. Bahkan dalam pembebasan, mereka ingin menentukan bagaimana kami harus merasa.”
Dan di sinilah luka itu menjadi refleksi dunia.
Bahwa modernitas telah menciptakan bentuk penjara baru — bukan sekadar tempat, tetapi keadaan eksistensial.
Kebebasan kini bisa diberikan dalam bentuk paling ironis: ketika seseorang dibebaskan hanya agar dunia percaya bahwa sistem itu masih punya nurani.
—
5. Dunia yang Membisu di Antara Statistik
Ada kalimat yang sering muncul dalam laporan-laporan internasional:
“Sejak dimulainya perang di Gaza, Israel telah menahan ribuan warga Palestina.”
Tapi tidak banyak yang bertanya, siapa mereka?
Apakah angka-angka itu sekadar statistik, atau manusia yang punya nama, ibu, dan anak?
Sebagian ditahan karena menulis di media sosial, sebagian karena berpartisipasi dalam unjuk rasa, sebagian bahkan tanpa alasan yang dijelaskan.
Sistem hukum Israel mengizinkan “penahanan administratif” — bentuk penahanan tanpa dakwaan atau pengadilan — yang dapat diperpanjang tanpa batas.
Ini adalah penjara yang bahkan tidak membutuhkan alasan.
Di titik ini, kata “demokrasi” kehilangan maknanya.
Israel menyebut dirinya “negara demokrasi di Timur Tengah.”
Namun di balik dinding penjara, demokrasi itu berlumur luka kudis — penyakit yang menular karena kebebasan hanya berlaku bagi sebagian bangsa.
—
6. Ketika Pelukan Menjadi Ancaman
Bayangkan seorang ibu yang menunggu anaknya bertahun-tahun.
Hari itu, ia berdiri di depan pintu rumah, mengangkat tangan, menahan air mata.
Di hadapannya, anaknya berdiri dalam jarak dua meter, dengan sarung tangan plastik, wajahnya pucat, tubuhnya gemetar.
“Ibu, jangan dekat-dekat. Aku masih menular,” katanya.
Dan air mata sang ibu akhirnya jatuh — bukan karena sedih, tapi karena tak bisa menyentuh darah dagingnya sendiri.
Inilah tragedi yang paling sunyi dari penjajahan:
Ketika pelukan, simbol kemanusiaan paling sederhana, menjadi hal yang berbahaya.
Ketika cinta pun harus tunduk pada ketakutan.
Satu tahanan berkata dalam wawancara dengan Mizan Online:
“Aku ingin memeluk ibuku, tapi aku tahu, tubuhku sudah diubah menjadi senjata oleh penjara mereka. Bahkan setelah keluar, aku masih membawa penjara itu di kulitku.”
Kata-kata itu lebih tajam dari peluru.
Karena penjajahan tidak hanya menghancurkan tanah — ia mengubah tubuh manusia menjadi alat penyiksaan bagi diri mereka sendiri.
—
7. Luka yang Disembunyikan Dunia
Organisasi HaMoked di Israel mencatat bahwa wabah kudis di penjara sudah dilaporkan berbulan-bulan, namun tidak ada tindakan medis memadai.
Bahkan, menurut laporan Arabi 21, beberapa tahanan yang terinfeksi sengaja dipindahkan ke sel lain untuk menyebarkan penyakit.
Jika benar demikian, maka ini bukan lagi kelalaian — tapi bentuk penyiksaan biologis.
Namun dunia lebih sibuk menghitung gencatan senjata daripada menghitung luka.
Lebih sibuk menonton pertukaran tawanan di televisi daripada memahami bahwa “pembebasan” itu sendiri adalah bentuk penghinaan yang terselubung.
Setiap kali ada satu tahanan dibebaskan, kamera dunia berpaling sejenak — tapi kemudian lupa, bahwa di balik satu nama yang keluar, masih ada seribu yang dikurung tanpa suara.
—
8. Kudis Sebagai Simbol Perlawanan
Namun di balik ironi itu, ada sesuatu yang lebih besar:
bahwa penderitaan Palestina selalu berubah menjadi simbol ketabahan.
Bagi dunia modern, kudis adalah tanda kotor.
Bagi pejuang Palestina, ia menjadi tanda kesabaran — bukti bahwa mereka bertahan di tengah kebiadaban yang direncanakan.
Sayyid Qutb pernah menulis:
“Orang-orang yang beriman tidak akan dibiarkan begitu saja berkata: kami beriman, sebelum mereka diuji.”
(Fi Zhilal al-Qur’an)
Bagi Qutb, penjara bukan tempat kekalahan, melainkan tempat penyingkapan hakikat iman.
Seperti Nabi Yusuf yang diuji dalam penjara sebelum diangkat menjadi pemimpin, Palestina pun diuji dengan penderitaan agar kelak menjadi saksi bagi kebusukan zaman.
Hasan Al-Banna, dalam surat-suratnya tentang jihad dan sabar, menulis:
“Penjara hanyalah bagian dari jalan dakwah. Siapa yang berjalan di jalan ini harus siap menanggung rasa lapar, dingin, dan kesendirian. Tapi Allah tidak pernah meninggalkan mereka.”
Sementara Muhammad Shalabi, sejarawan perlawanan Islam, melihat penjara-penjara Israel sebagai “madrasah perlawanan.”
Ia menulis:
“Setiap tahanan yang keluar dari penjara Israel membawa dua hal: tubuh yang lemah, dan hati yang tidak lagi takut pada apa pun kecuali Allah.”
—
9. Dunia yang Tak Lagi Peka
Kita hidup di dunia yang cepat melupakan.
Di mana penderitaan harus memiliki nilai visual agar dianggap nyata.
Tapi luka Palestina sering kali terlalu sepi untuk menarik headline.
Mungkin karena penderitaan mereka sudah dianggap “biasa.”
Atau karena mereka tidak memiliki kekuatan ekonomi dan teknologi seperti musuhnya.
Namun di situlah letak ujian bagi dunia modern: apakah ia masih memiliki hati nurani, atau hanya statistik?
Kita membaca tentang “gencatan senjata,” “pertukaran tahanan,” “perdamaian yang dimediasi,”
namun jarang mendengar tentang “kulit yang terkelupas,” “tangan yang gatal hingga berdarah,” “ibu yang tak bisa memeluk.”
Padahal di sanalah letak kemanusiaan yang sejati — bukan pada meja diplomasi, tetapi pada tubuh yang menderita.
—
10. Geopolitik dari Sebuah Luka
Jika dilihat dari kacamata geopolitik, fenomena ini memperlihatkan wajah kolonialisme modern yang semakin canggih.
Israel menggunakan hukum, teknologi, dan bahasa keamanan sebagai alat legitimasi kekuasaan.
Tahanan administratif, penyiksaan terselubung, dan pengabaian medis — semuanya diatur dalam sistem yang tampak “legal.”
Di sinilah perbedaan antara penjajahan lama dan baru:
penjajahan lama memakai senjata, penjajahan baru memakai prosedur.
Dan tubuh manusia menjadi arena di mana hukum dan kekuasaan saling bersekongkol.
Namun tubuh-tubuh itu juga yang kemudian melahirkan simbol-simbol perlawanan.
Setiap luka, setiap kudis, setiap bekas rantai di pergelangan tangan, menjadi bukti bahwa kekuasaan tidak pernah benar-benar bisa menundukkan iman.
Sebagaimana dikatakan oleh seorang mantan tahanan dalam Muslim Network TV:
“Mereka bisa menahan tubuhku, tapi tidak bisa menahan kesadaranku.”
BACA JUGA: Tahanan Palestina yang Ditolak Dibebaskan oleh Israel: Menunggu Momentum Nabi Yusuf Keluar Penjara?
11. Cermin bagi Dunia
Kita, umat manusia, seharusnya gemetar saat melihat berita itu.
Karena apa yang dilakukan terhadap tahanan Palestina bukan sekadar tragedi lokal — itu adalah refleksi dari bagaimana dunia memperlakukan yang lemah.
Kita mungkin tidak memegang borgol, tapi kita ikut membisu saat borgol itu dikencangkan.
Dan ketika tubuh-tubuh itu keluar dari penjara dengan kudis di kulitnya,
sesungguhnya itu bukan hanya luka mereka, tetapi juga luka nurani dunia.
—
12. Pelukan yang Ditunda
Suatu hari nanti, mungkin di masa depan yang lebih bersih dari kebohongan,
para tahanan Palestina itu akan pulang tanpa harus takut menulari siapa pun.
Mereka akan memeluk ibu mereka dengan bebas, tanpa sarung tangan, tanpa jarak.
Dan dunia akan menyadari — bahwa pelukan itu bukan sekadar pertemuan dua tubuh,
melainkan kemenangan atas sistem yang berusaha mencabut makna kemanusiaan.
Di saat itu, mungkin kita akan mengingat bahwa dari tubuh yang penuh kudis pun,
Allah mampu menumbuhkan kemuliaan.
Bahwa dari kulit yang terkoyak, bisa lahir sejarah yang menyembuhkan.
Karena sebagaimana janji-Nya:
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas, dan menjadikan mereka pemimpin di muka bumi.”
Dan siapa tahu — mungkin di antara tahanan-tahanan yang kini tak bisa memeluk,
terdapat satu jiwa yang kelak akan memeluk dunia dengan kebenaran. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
