Prolog: Di Balik Jeruji Tak Kasatmata
SEORANG anak Gaza bertanya kepada ibunya di bawah langit yang tak lagi biru:
“Bu, kenapa dunia tak membuka pintu untuk kita?”
Sang ibu tersenyum getir, “Karena mereka telah lama membuat sangkarnya, Nak. Sangkarnya tak terlihat, tapi terasa di dada.”
Metafora The Iron Cage—sangkar besi—yang dipinjam Rashid Khalidi, bukanlah sekadar simbol penindasan. Ia adalah gambaran struktur sejarah yang melilit Palestina sejak awal abad ke-20: jaringan politik kolonial, diplomasi yang menipu, dan kekuatan militer yang menindih harapan.
Khalidi menulis bukan untuk mengulang kisah sedih, melainkan untuk menjelaskan mengapa bangsa dengan tanah, bahasa, dan sejarah sendiri bisa kehilangan segalanya—bahkan kemerdekaannya.
Sangkar itu, tulisnya, dibangun sedikit demi sedikit: oleh Inggris, oleh Zionisme, oleh kepentingan Arab yang gamang, dan bahkan oleh kesalahan internal bangsa Palestina sendiri. Ia bukanlah sangkar yang dijatuhkan dari langit, melainkan jeruji yang ditempa oleh tangan manusia—dalam ruang diplomasi, dalam perang, dalam propaganda, dan dalam kelengahan sejarah.
—
Sangkar Sejarah: Dari Mandat Inggris hingga Nakba
Khalidi membuka kisahnya dari tahun 1917—tahun ketika Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour. Sebuah surat pendek dari Menteri Luar Negeri Inggris kepada Lord Rothschild yang mengakui “tanah nasional bagi orang Yahudi di Palestina”. Dalam satu kalimat itulah sejarah Palestina diretas. Inggris, yang diberi mandat oleh Liga Bangsa-Bangsa untuk “memandu” Palestina menuju kemerdekaan, justru menjadi arsitek penghapusan Palestina itu sendiri.
Di dalam arsip yang diteliti Khalidi, tersingkap bagaimana otoritas Inggris membangun infrastruktur kolonial yang memungkinkan migrasi besar-besaran Yahudi ke tanah Palestina—sementara warga Arab Palestina dilarang bersenjata, dipinggirkan dari lembaga politik, dan dituduh pemberontak setiap kali menuntut haknya.
“Mandat itu bukan jembatan menuju kemerdekaan,” tulis Khalidi, “melainkan jalan yang dibangun untuk membawa orang lain menguasai negeri itu.”
Revolusi Arab 1936–1939, yang menjadi perlawanan besar pertama terhadap kolonisasi Inggris-Zionis, dihancurkan dengan kekuatan brutal. Ribuan pemimpin Palestina dibunuh atau diasingkan. Dan ketika tahun 1948 tiba—tahun Nakba, bencana nasional—tidak ada kepemimpinan yang tersisa untuk menahan arus militer Zionis.
Sejarawan Inggris Ilan Pappé menyebutnya sebagai “pembersihan etnis yang terencana.”
Lebih dari 750.000 warga Palestina diusir dari rumah mereka, dan lebih dari 500 desa dihapus dari peta.
Begitulah sangkar pertama dibangun: sejarah yang dipelintir, mandat yang dikhianati, dan tanah yang dirampas.
—
Sangkar Politik: Nasionalisme yang Terpecah dan Dunia Arab yang Patah
Namun Khalidi tidak berhenti menyalahkan penjajah. Ia menatap ke dalam—menembus jeruji batin yang membuat bangsa Palestina sendiri sulit bersatu.
“Tragedi Palestina,” tulisnya, “adalah tragedi bangsa yang berjuang tanpa negara, dipimpin oleh kaum elit yang tercerai, dan dikhianati oleh sekutu yang berpura-pura.”
Gerakan nasional Palestina yang muncul di bawah Hajj Amin al-Husayni pada 1930-an, meski penuh semangat, terperangkap dalam politik keluarga dan kabilah. Ketika Israel memproklamasikan kemerdekaannya pada 1948, dunia Arab memang mengirim pasukan, tapi bukan untuk menyelamatkan Palestina—melainkan untuk membagi-bagi wilayahnya.
Raja Abdullah dari Yordania mengincar Tepi Barat, Mesir ingin mengontrol Gaza, dan Suriah serta Irak sibuk dengan kudeta internal.
“Palestina,” tulis Khalidi lirih, “bukan hanya dijajah oleh musuhnya, tapi juga dijadikan pion oleh saudaranya sendiri.”
Kegagalan dunia Arab melindungi Palestina bukan hanya soal militer, tapi politik.
Khalidi menunjukkan bagaimana sejak Konferensi Arab pertama di Bludan (1937) hingga Liga Arab pasca-1945, isu Palestina selalu menjadi alat legitimasi rezim—tidak pernah benar-benar menjadi komitmen pembebasan.
Palestina dijadikan slogan, bukan perjuangan.
—
Sangkar Janji: Diplomasi Palsu dan Ilusi Perdamaian
Setelah perang 1967, sangkar itu berubah bentuk. Bukan lagi besi kolonial, melainkan jebakan diplomatik.
Khalidi menelusuri jejak dari Perjanjian Camp David hingga Oslo Accords (1993) yang disebut banyak analis sebagai “perangkap emas”—karena memberi ilusi kedaulatan, namun tanpa kemerdekaan sejati.
Amerika Serikat, dengan wajah mediator, pada dasarnya memainkan peran penjaga sangkar itu.
Dalam setiap perundingan, Israel selalu datang dengan pasukan di lapangan dan AS di meja diplomasi. Palestina datang dengan harapan, tapi tanpa kekuatan.
“Dalam sistem internasional yang timpang,” tulis Khalidi, “setiap perundingan adalah kekalahan yang disamarkan.”
Buku ini mencatat secara rinci bagaimana Oslo menciptakan Otoritas Palestina (PA) yang justru berfungsi seperti “subkontraktor penjajahan”—mengelola urusan sipil di bawah bayang-bayang militer Israel.
Edward Said, sahabat sekaligus kolega Khalidi di Universitas Columbia, menyebut perjanjian itu “bukan langkah menuju kemerdekaan, tapi legitimasi terhadap status quo penjajahan.”
Khalidi tak hanya menganalisis teks politik, tapi juga bahasa perjanjian. Kata “negara” tak pernah muncul dalam dokumen Oslo.
Yang ada hanyalah “administrasi sementara,” “koordinasi keamanan,” dan “tahapan negosiasi” yang tak pernah berakhir.
Begitulah jeruji itu disamarkan dalam bahasa diplomasi—indah di atas kertas, mematikan di lapangan.
—
Sangkar Diri: Perlawanan yang Bangkit dari Puing dan Duka
Namun The Iron Cage bukan hanya kisah tentang penderitaan. Ia juga tentang keteguhan.
Khalidi menulis dengan kekaguman yang tenang terhadap ketahanan rakyat Palestina—terutama mereka yang hidup di pengasingan dan di Gaza.
Ia menyebut tiga nilai yang menjadi fondasi batin bangsa itu:
karāmah (martabat), ʿizzah (kebanggaan), dan ṣabr (kesabaran).
Nilai-nilai ini, kata Khalidi, bukan teori moral, melainkan energi eksistensial—yang membuat seorang ayah di kamp pengungsi masih mampu mengajarkan anaknya menulis “Filastin” di atas pasir, meski tank melintas di belakangnya.
Dari intifada pertama (1987) hingga kini, setiap generasi Gaza tumbuh dalam sangkar, namun tak kehilangan nyala.
Mereka tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga mempertahankan narasi—melawan penghapusan dengan kata-kata, seni, dan ingatan.
Ketika wartawan Anadolu Agency melaporkan bahwa “di tengah reruntuhan Deir al-Balah, para perempuan menjemur pakaian di atas reruntuhan tank Israel,” itu bukan sekadar gambar; itu simbol.
Sangkar besi mungkin mengurung tubuh, tapi tak mampu menundukkan kehendak.
Bahkan para pakar di luar dunia Arab mengakui paradoks ini.
Sejarawan Eropa John Keane menulis dalam Global Civil War (2023):
“Palestina adalah satu-satunya bangsa yang berhasil mempertahankan solidaritasnya di bawah kondisi yang oleh teori politik mana pun dianggap mustahil: hidup tanpa negara, tanpa tentara, tanpa perlindungan hukum internasional.”
—
Sangkar Baru: Gaza dan Arsitektur Genosida Modern
Dalam refleksi pasca-2023, Khalidi memperbarui tesisnya melalui wawancara dan tulisan di The Nation serta Middle East Eye. Ia menyebut perang genosida Israel atas Gaza sebagai “puncak dari proyek sangkar besi itu sendiri.”
“Ketika dunia menyaksikan, diam, dan membiarkan ratusan ribu orang dibunuh, kita tahu bahwa sangkar itu kini global,” ujarnya.
Namun ia juga menegaskan bahwa Israel, tanpa sadar, sedang memperkuat musuhnya sendiri.
Dalam setiap pemboman, setiap kamp pengungsi yang hancur, identitas Palestina justru mengeras—menjadi baja moral.
Gaza hari ini, tulis Khalidi, bukan sekadar wilayah terkepung, tetapi sekolah jiwa bagi dunia tentang makna keberanian di tengah kepungan maut.
Bukti paling nyata datang dari laporan-laporan Reuters dan Anadolu:
anak-anak di Rafah masih menari debka di tengah reruntuhan, influencer kecil seperti Maria Hannoun masih membacakan puisi Mahmoud Darwish sambil berkata:
“Kami bukan korban, kami penjaga kehidupan.”
Dari perspektif sejarah, ini menciptakan kontradiksi yang bahkan militer Israel tak mampu pahami.
Negara yang dibangun di atas trauma kini menanam trauma yang akan menelannya sendiri.
Sangkar yang mereka buat untuk Gaza, kini menjadi penjara moral bagi Israel di mata dunia.
BACA JUGA: Ketika Wikipedia Menulis Ulang Zionisme Sebagai Proyek Kolonialis di Palestina
Epilog: Kunci di Tangan Sejarah
Rashid Khalidi menutup The Iron Cage dengan kalimat yang getir namun penuh harapan:
“Sangkar itu mungkin tampak kokoh, tapi besi pun berkarat ketika disentuh waktu dan keyakinan.”
Ia mengingatkan bahwa kebebasan bukan selalu berarti perbatasan terbuka, tapi keberanian untuk menolak tunduk.
Sejarah Palestina mungkin adalah sejarah kekalahan yang berulang, tetapi juga sejarah keteguhan yang tak pernah padam.
Dan seperti kata seorang tua di kamp pengungsi Nuseirat kepada seorang reporter:
“Mereka bisa mengambil tanah kami, tapi tidak bisa menutup langit tempat doa kami terbang.”
Hari ini, dua abad setelah Deklarasi Balfour, dunia menyaksikan Gaza bertahan.
Bukan karena senjata, tetapi karena ruh yang menolak padam.
Sangkar besi yang dulu ditempa kolonialisme kini bergetar, karena penghuni di dalamnya telah belajar satu hal:
bahwa besi pun bisa dilelehkan oleh api keyakinan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
