HUBUNGAN antara emosi dan pola makan bukanlah hal yang baru. Banyak orang mungkin menyadari bahwa ketika mereka sedang stres, sedih, atau bahkan bahagia, pilihan makanan mereka ikut berubah. Fenomena ini disebut emotional eating atau makan berdasarkan emosi. Tapi, mengapa suasana hati bisa begitu memengaruhi apa dan seberapa banyak kita makan? Mari kita bahas lebih dalam.
Hubungan Emosi dan Otak
Ketika suasana hati berubah, otak merespons dengan cara yang kompleks. Misalnya, saat stres, tubuh melepaskan hormon kortisol. Hormon ini dapat meningkatkan nafsu makan dan membuat seseorang lebih ingin mengonsumsi makanan tinggi gula atau lemak, yang dikenal dapat memicu pelepasan dopamin—zat kimia yang memberikan rasa senang sesaat. Akibatnya, makan menjadi semacam “pelarian” untuk meredakan stres atau kesedihan.
Sebaliknya, ketika seseorang merasa bahagia, tubuh juga menghasilkan dopamin dan serotonin secara alami. Namun, dalam kondisi bahagia, seseorang mungkin justru lebih sadar terhadap apa yang mereka makan, sehingga cenderung memilih makanan yang lebih sehat.
BACA JUGA: Tidak Minum Air Setelah Makan, Apakah Ada Dampaknya?
Makan sebagai Respons Emosional
Makan tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga bisa menjadi cara untuk mengatur emosi. Misalnya, seseorang yang sedang kecewa mungkin mencari kenyamanan melalui makanan manis seperti cokelat atau es krim. Tindakan ini memberi rasa tenang sementara, namun sering kali diikuti rasa bersalah setelahnya.
Selain itu, kebiasaan ini bisa membentuk pola jangka panjang. Jika setiap kali menghadapi masalah seseorang selalu “mengobati diri” dengan makanan, maka makan akan menjadi mekanisme coping utama. Hal ini dapat berujung pada kenaikan berat badan, masalah pencernaan, dan bahkan gangguan makan.
Dampak Suasana Hati terhadap Nafsu Makan
Tidak semua emosi meningkatkan nafsu makan. Pada beberapa orang, stres atau cemas justru menurunkan keinginan makan. Hal ini terjadi karena sistem saraf simpatik bekerja lebih aktif, membuat tubuh fokus pada “mode bertahan hidup” dan bukan pada pencernaan. Maka, hubungan emosi dan nafsu makan bisa berbeda-beda pada tiap individu.
Cara Mengontrol Pola Makan Berdasarkan Emosi
Agar tidak terjebak dalam siklus emotional eating, penting untuk mengenali penyebabnya. Cobalah beberapa langkah berikut:
– Sadari pemicu emosional Anda. Catat kapan Anda makan bukan karena lapar fisik.
– Alihkan perhatian. Saat merasa ingin makan karena emosi, coba lakukan hal lain seperti berjalan, mendengarkan musik, atau berbicara dengan teman.
BACA JUGA: Kebanyakan Makan Daging Bisa Bikin Cepat Tua? Waduh!
– Latih kesadaran diri (mindful eating). Nikmati setiap gigitan makanan dan rasakan apakah Anda benar-benar lapar atau hanya ingin menenangkan diri.
– Jaga keseimbangan tidur dan aktivitas fisik. Kurang tidur dan kurang gerak bisa memperburuk suasana hati, yang akhirnya memengaruhi pola makan.
Kesimpulan
Suasana hati memiliki pengaruh besar terhadap pola makan kita, baik secara biologis maupun psikologis. Mengenali hubungan ini membantu kita lebih bijak dalam mengatur emosi dan memilih makanan. Dengan menjaga keseimbangan mental, tubuh pun akan lebih mudah mempertahankan pola makan yang sehat dan stabil.[]
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
