Pengusiran Rakyat Palestina dari Tanahnya: Sebuah Jejak Para Nabi dan Rasul

11 Min Read
Foto: Freepik

Jejak Luka yang Berulang

Sejarah, kata seorang sejarawan Arab, adalah cermin panjang yang memantulkan wajah manusia dari masa ke masa. Ada yang tersenyum karena kemenangan, ada pula yang menunduk karena luka. Dan salah satu luka terbesar umat manusia di abad modern adalah pengusiran rakyat Palestina dari tanahnya. Sebuah luka yang, jika ditarik lebih jauh, bukan sekadar tragedi politik, tetapi juga cermin dari pola yang dialami para nabi dan rasul sepanjang zaman: diusir, dipaksa meninggalkan tanah airnya, hanya karena membawa kebenaran atau karena dianggap penghalang bagi ambisi kaum berkuasa.

Maka mari kita menelusuri jejak itu: dari ucapan-ucapan ideologis, program kolonial, perjanjian internasional, hingga peristiwa berdarah yang melahirkan Nakba. Lalu, kita sandingkan dengan kisah-kisah para nabi yang juga terusir dari tanahnya. Agar jelas bagi kita bahwa apa yang menimpa Palestina bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari pola sejarah yang telah diingatkan Al-Qur’an.

—

1. Ucapan dan Ideologi: Kata-kata yang Menjadi Senjata

Sebelum peluru dan tank bergerak, pengusiran Palestina dimulai dari kata-kata. Kata-kata yang membentuk ideologi, lalu menjelma menjadi program, dan akhirnya menjadi kenyataan pahit.

Theodor Herzl (1896, Der Judenstaat) menulis dengan lantang: “Tanah tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah.” Kalimat ini, yang sekilas terdengar sederhana, sejatinya memuat pengingkaran besar: bahwa di tanah Palestina sudah ada rakyat yang hidup, bertani, berdagang, membangun kota, dan mewariskan peradaban ribuan tahun. Tetapi dalam retorika Herzl, mereka seakan tidak ada. Hilang dari peta.

BACA JUGA:  Saat Ramai Pengakuan Palestina di PBB, Bisakah Mengisolasi Israel dari FIFA? Belajarlah dari Soekarno

David Ben-Gurion (1937), sang pendiri Israel, lebih tegas lagi: “Kita harus mengusir orang Arab dan mengambil tempat mereka.” Kata “mengusir” di sini bukan metafora, tetapi program nyata yang kelak dieksekusi dengan senjata.

Menachem Begin (1948), pemimpin milisi Irgun yang kemudian menjadi perdana menteri, menyebut operasi militer melawan desa-desa Arab sebagai “pembebasan tanah.” Pembebasan bagi siapa? Bagi mereka yang baru datang, dengan harga pengusiran penduduk asli yang telah hidup di sana turun-temurun.

Inilah awal: kata-kata yang meniadakan eksistensi, ideologi yang mempersiapkan pengusiran.

2. Program dan Strategi: Dari Kongres Basel hingga Plan Dalet

Tahun 1897 di Basel, Swiss, Kongres Zionis pertama merumuskan tujuan: membentuk “rumah nasional Yahudi” di Palestina. Bagi mereka, ini adalah proyek kebangkitan. Tetapi bagi rakyat Palestina, ini adalah awal bencana. Sebab sebuah “rumah” akan dibangun di atas rumah orang lain.

Program ini kemudian menurunkan strategi militer konkret. Plan Dalet (1948) menjadi tonggak penting. Dokumen ini berisi instruksi untuk menguasai desa-desa Arab, dengan metode intimidasi, pembantaian, hingga penghancuran rumah-rumah. Sejarawan Israel, Ilan Pappé, menyebutnya terang-terangan sebagai “ethnic cleansing of Palestine.” Bukan sekadar perang, tetapi program pembersihan etnis yang sistematis.

Plan Dalet melahirkan Nakba. Lebih dari 750.000 rakyat Palestina diusir, 500 desa dihancurkan, dan generasi demi generasi hidup dalam pengungsian. Inilah bukti bahwa ideologi bukan hanya berhenti di atas kertas; ia menjelma menjadi strategi yang menoreh luka panjang.

—

3. Perjanjian dan Deklarasi: Tangan Kolonial di Balik Tirai

Sejarah pengusiran Palestina tidak bisa dilepaskan dari kekuatan kolonial. Inggris dan Perancis, sebagai pemenang Perang Dunia I, membagi-bagi tanah Arab seakan kue di meja.

Perjanjian Sykes–Picot (1916): membagi wilayah Ottoman di Timur Tengah antara Inggris dan Perancis, tanpa bertanya pada penduduk lokal.

Deklarasi Balfour (1917): surat Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, yang menjanjikan tanah Palestina sebagai “national home for the Jewish people.” Ironisnya, dalam surat itu tidak ada satu kata pun menyebut hak-hak bangsa Arab yang menjadi mayoritas penduduk.

Mandat Inggris (1922–1948): Palestina diletakkan di bawah mandat Inggris. Dalam masa ini, pintu imigrasi Yahudi dibuka lebar, sementara protes dan perlawanan rakyat Palestina ditekan keras.

Resolusi PBB 181 (1947): membagi Palestina menjadi dua negara: Yahudi (55%) dan Arab (45%). Padahal saat itu, Yahudi hanya 7% populasi dan memiliki 6% tanah. Dengan kata lain, dunia internasional “menghadiahkan” tanah orang lain demi proyek Zionis.

Sejarawan Palestina Rashid Khalidi menyebut periode ini sebagai “kolonialisme modern dengan wajah legal.” Apa yang lahir dari meja perundingan internasional menjadi malapetaka di lapangan.

—

4. Peristiwa Pengusiran Massal: Dari Nakba hingga Blokade

Kata-kata dan perjanjian kemudian meledak menjadi peristiwa nyata:

Revolusi Arab Palestina (1936–1939): rakyat Palestina bangkit menolak kolonialisme Inggris dan imigrasi Yahudi massal. Revolusi ini dipatahkan dengan kekerasan. Ribuan tewas, dan kekuatan politik Palestina dilemahkan.

Nakba 1948: lebih dari 750.000 orang Palestina diusir. Desa-desa dibakar, rumah diratakan. Pembantaian Deir Yassin (9 April 1948) menjadi simbol: lebih dari 100 warga desa dibantai oleh milisi Irgun dan Lehi. Ketakutan menyebar, eksodus massal pun terjadi.

Perang Enam Hari (1967): Israel menduduki Tepi Barat, Gaza, Yerusalem Timur, Sinai, dan Golan. 300.000 rakyat Palestina kembali mengungsi. Dengan sekali perang, peta Palestina semakin mengecil.

Intifada (1987–1993, 2000–2005): rakyat Palestina bangkit dengan batu dan perlawanan sipil. Israel merespons dengan tembok pemisah, blokade Gaza, dan ekspansi pemukiman di Tepi Barat. Pengusiran kali ini bukan hanya fisik, tetapi juga ekonomi dan psikologis.

Blokade Gaza (sejak 2007): dua juta warga Palestina hidup dalam penjara terbuka. Keluar masuk dibatasi, listrik hanya beberapa jam sehari, obat-obatan langka. Ini bukan sekadar pengusiran dari tanah, tetapi pengusiran dari kehidupan normal.

Sejarawan Edward Said menyebut kondisi ini sebagai “tragedi kolonial yang tidak pernah selesai.”

—

5. Ucapan dan Program Kontemporer: Dari Trump hingga Sayap Kanan Israel

Pengusiran Palestina bukan hanya kisah 1948. Hingga kini, ide-ide itu terus berulang dalam bentuk baru.

Donald Trump, dalam beberapa pernyataannya:

1. “Clean out Gaza” – ia mengusulkan agar warga Gaza dipindahkan ke Yordania dan Mesir.

2. “The United States will take over Gaza … Palestinians who live there should leave” – ia bahkan menyebut Palestina sebaiknya pergi dari Gaza yang dianggap hanya puing.

3. Ia menolak hak kembali bagi pengungsi Palestina.

Pemerintah Israel sayap kanan merespons dengan serius. Militer diperintahkan menyiapkan skenario jika warga Gaza “ingin pergi.” Bahkan ada pembicaraan resmi dengan negara-negara tetangga soal kemungkinan relokasi.

Di Tepi Barat, strategi pengusiran dilakukan melalui pemukiman ilegal. Tanah-tanah Palestina diambil alih, rumah dihancurkan, izin bangunan ditolak. Proses ini disebut “pengusiran de facto” — orang Palestina tidak diusir langsung, tetapi dipaksa pergi karena hidupnya dibuat mustahil.

Bagi rakyat Palestina, semua ini mengingatkan pada Nakba. Sejarah berulang, dengan wajah baru.

—

6. Jejak Para Nabi: Pengusiran Sebagai Pola Sejarah

Al-Qur’an tidak hanya menceritakan kisah para nabi sebagai dongeng, melainkan sebagai pola yang berulang dalam sejarah manusia. Salah satu pola itu adalah pengusiran.

Nabi Ibrahim عليه السلام

Diusir dari tanah kelahirannya, Ur, karena menentang berhala. Namrud membakar api besar untuk membunuhnya. Allah menyelamatkan Ibrahim, tetapi ia harus meninggalkan tanah airnya. (QS. Al-Anbiya: 70)

Nabi Musa عليه السلام

Memimpin Bani Israil keluar dari Mesir karena penindasan Firaun. Hijrah besar ini menjadi simbol pembebasan dari tirani. (QS. Asy-Syu’ara: 52)

Nabi Luth عليه السلام

Kaumnya berkata: “Usirlah Luth dan keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang menganggap dirinya suci.” (QS. An-Naml: 56)

Nabi Syu’aib عليه السلام

Kaumnya menolak dakwahnya dan berkata: “Hai Syu’aib, sesungguhnya kami akan mengusirmu bersama orang-orang yang beriman dari kampung kami, kecuali engkau kembali kepada agama kami.” (QS. Al-A’raf: 88)

Nabi Muhammad ﷺ

Diusir dari Mekah oleh Quraisy. Ketika hijrah, beliau menatap kota itu dan berkata: “Demi Allah, engkau (wahai Mekah) adalah negeri Allah yang paling aku cintai. Seandainya kaummu tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu.” (HR. Tirmidzi)

Inilah pola: kebenaran selalu diusir dari tanahnya. Dan Allah menjadikan hijrah sebagai sunnah sejarah: dari pengusiran lahirlah kekuatan baru.

—

7. Refleksi: Palestina dalam Cermin Para Nabi

Jika kita letakkan kisah Palestina hari ini dalam cermin Al-Qur’an, kita akan melihat pola yang sama. Rakyat yang hidup di tanahnya diusir, hanya karena mereka dianggap penghalang bagi proyek besar: kekuasaan, ekonomi, atau ideologi.

QS. Al-Mumtahanah: 1 menegaskan: “Mereka itulah orang-orang yang mengusir Nabi dan kamu dari negerimu, karena mereka tidak beriman kepada Allah.”

BACA JUGA:  Vatikan, Roma, dan Hati Italia yang Berdenyut untuk Palestina

Ayat ini seakan bergaung kembali di Gaza, di Tepi Barat, di kamp-kamp pengungsi. Yang diusir bukan hanya rakyat biasa, tetapi sebuah bangsa yang membawa identitas, keyakinan, dan ikatan dengan tanah suci.

Bagi umat Islam, Palestina bukan sekadar tanah, tetapi juga amanah spiritual. Di sanalah Masjid Al-Aqsha berdiri. Di sanalah para nabi diutus. Dan di sanalah kita diuji: apakah akan diam melihat pengusiran berulang, ataukah mengambil pelajaran dari jejak para nabi.

—

Epilog: Luka yang Menjadi Saksi

Seorang pengungsi Palestina pernah berkata: “Mereka bisa mengambil rumahku, tetapi tidak bisa mengambil kuncinya dari tanganku.” Kalimat sederhana itu menggambarkan keteguhan hati: meski diusir, ingatan dan hak tidak pernah bisa dihapus.

Sejarah membuktikan: tidak ada imperium yang abadi di Palestina. Babilonia datang dan pergi. Romawi datang dan pergi. Tentara Salib datang dan pergi. Dan Israel, yang kini berdiri di atas pengusiran, bukanlah pengecualian. Sebab tanah yang dirampas dengan kezaliman, pada akhirnya akan dikembalikan oleh sejarah.

Jejak para nabi mengajarkan: pengusiran bukan akhir. Ibrahim menemukan tanah baru. Musa membawa umatnya ke negeri yang dijanjikan. Muhammad ﷺ mendirikan Madinah, peradaban baru. Dan Palestina, meski kini terluka, menyimpan janji Allah: bahwa kebenaran yang diusir akan kembali dengan wajah yang lebih kuat. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *