Liburan, Kompas Murahan, dan Nasi Bungkus

6 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

TIDAK ada yang lebih gila dari ide spontan lima anak SMA yang sok berjiwa petualang.
Bagas.
Rio.
Fadil.
Raka.
Dimas.

Setelah drama panjang,
setelah futsal yang berakhir dengan kekalahan pahit,
setelah gengsi yang hancur pelan-pelan,
mereka merasa butuh udara baru.

Udara yang lebih jujur.
Udara yang tidak seperti kantin sekolah yang baunya campur antara bakso, parfum murahan, dan keringat panik sebelum ulangan.

Dan seperti biasa,
ide gila selalu lahir dari orang yang paling tampak paling tenang.
Bagas.

“Gue punya usulan,” katanya suatu hari setelah pulang sekolah.
“Weekend ini, kita camping di Bukit Payung.”

Rio mengerutkan alis.
“Serius lo? Yang jalannya kayak ular kena angin malam itu?”

Fadil menertawakan.
“Bro, kata kakak gue, itu bukan jalur pendakian. Itu jalur pemakaman mental.”

Raka langsung ciut.
“Eh, gue bawa selimut lengkap ya? Gue nggak mau mati kaku kayak ayam frozen.”

BACA JUGA:  Geng Empat Tanpa HP — Kalah Boleh. Berhenti Jangan.

Dimas menepuk bahunya.
“Tenang, Rak. Kalau lo mati kaku, kita taruh lo di freezer Indomaret. Biar diskon.”

Mereka tertawa.
Tawa paling renyah setelah sekian drama.

Dan seperti biasa,
aturan wajib tetap berlaku:
Tidak boleh bawa HP.
Tidak ada GPS.
Tidak ada Google Maps.
Tidak ada update story, filter, dan semua sampah digital yang bikin lupa cara hidup.

Semua terasa kembali ke 90-an:
kalender kertas,
jam tangan biasa,
peta sobekan majalah wisata,
dan satu kompas murahan yang jarumnya suka goyang sendiri
dibeli Bagas di pasar malam seharga lima belas ribu.

Sabtu pagi, mereka berangkat.
Ransel besar.
Nasi bungkus.
Senter jadul.
Dan ego yang sudah jauh lebih kecil daripada sebelumnya.

Bus kota melaju. Tenang.
Angin masuk lewat jendela.
Baju seragam olahraga SMA karena mereka lupa punya baju outdoor.

Perjalanan satu setengah jam.
Begitu turun,
jalan setapak menanjak menyambut.
Pepohonan tinggi.
Suara serangga seperti musik latar film petualangan.

Rio menarik napas panjang.
“Gila. Tenang banget di sini.”

Fadil setuju.
“Gue baru sadar, hidup selama ini berisik banget ya.”

Langkah terus naik.
Sesekali berhenti untuk minum.
Dimas selalu paling dulu ngos-ngosan.
Raka paling sering mengeluh.
Dan Bagas paling sering sok yakin dengan kompasnya.

“Lurus terus, arah barat daya,” kata Bagas.
Padahal jarum kompas berputar kayak spinner zaman SD.

Hingga setengah perjalanan,
mereka sadar.
Mereka tersesat.

Garis peta nggak cocok.
Kompas goyang kayak habis disembur angin kencang.
Jalur makin sempit.
Hutan makin rapat.

“Gas… lo yakin ini jalur?” tanya Rio.

Bagas menelan ludah.
“Harusnya sih iya.”

“Harusnya?” Fadil mendecak.
“Harusnya itu bukan jawaban untuk yang jaraknya sama dengan kemungkinan kita muter-muter ga tentu arah.”

Raka mulai panik.
“Ntar kita masuk berita nggak? Lima anak SMA hilang tanpa sinyal?”

Dimas mengangkat tangan dramatis.
“Aku ingin dimakamkan dengan gaya superhero.”

Dan di detik paling menegang,
di tengah pikiran terburuk yang tumbuh seperti jamur musim hujan,
mereka berhenti.
Diam.
Hanya mendengar suara alam.

Lalu Rio tertawa.
Tawa pelan.
Namun menular.

“Bro, kita bisa kalah futsal. Kalah lomba kelas. Tersesat di hutan.”
“Tapi gue yakin, kita nggak akan kalah sebagai sahabat.”

Fadil ikut tertawa.
“Bisa lo bayangin kalau kita panik dan saling nyalahin? Kita mungkin berantem lagi.”

Raka menghela napas lega.
“Bener juga.”

Dimas berdiri, tangan ke pinggang.
“Oke. Mulai sekarang, semua keputusan kita ambil bareng. Demokrasi. Bukan raja-rajaan.”

Bagas menyentuh kompas yang goyang.
“Maaf ya. Gue sok pintar.”

Rio menepuk bahunya.
“Kalau lo nggak sok pintar, kita nggak bakal ada di sini.”

Dan entah bagaimana,
mereka menemukan jalan kecil menurun.
Mengikuti suara gemericik air.
Menuju sungai jernih di bawah lembah.
Tempat itu indah.
Seindah komik petualangan masa kecil.

Di sana,
mereka makan nasi bungkus dingin.
Minum air sungai yang rasanya seperti es teh tanpa gula.
Tiduran di batu hangat terkena matahari sore.
Tanpa suara notifikasi.
Tanpa drama dunia maya.

Hanya tawa.
Hanya langit biru.
Hanya persahabatan yang mengeringkan segala luka tersisa.

Saat matahari turun perlahan,
mereka duduk berbaris menghadap langit jingga.

BACA JUGA:  Geng Empat tanpa HP: Surat untuk Fadil dan Rio

“Guys,” kata Bagas pelan.
“Gue janji. Mulai sekarang,
kalau gue salah, bilang ya.”

Rio mengangguk.
“Gue juga. Kita semua belajar, ya?”

Fadil tersenyum.
“Persahabatan bukan tentang selalu menang.”

Raka menambahkan.
“Bukan tentang siapa paling hebat.”

Dimas menyimpulkan.
“Tapi tentang tetap ketawa bersama,
walaupun lagi kalah dan tersesat.”

Lalu mereka saling mengaitkan jari kelingking.
Janji lima sahabat.
Janji yang sederhana.
Tapi kuat.

Dan dari bukit itu,
mereka pulang tanpa piala,
tanpa sinyal,
tanpa foto keren untuk dipamerkan.

Tapi mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berharga:
rasa punya satu sama lain.

Persahabatan kokoh.
Walau hidup kalah berkali-kali. []

 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *