MALAM liqo datang lagi.
Tidak pakai pengumuman.
Tidak pakai poster.
Datang begitu saja.
Musala kecil itu sama.
Lampu kuning.
Karpet hijau.
Aroma kayu basah.
Geng Empat Tanpa HP datang barengan.
Langkah santai.
Hati agak tegang.
Fadil paling depan.
Rio bercanda tipis.
Raka diam.
Bagas kelihatan siap.
Dimas mengangguk-ngangguk.
BACA JUGA: Geng Empat tanpa HP: Ke Mana Svida?
Ade Lesmana sudah duduk.
Mushaf di pangkuan.
Kacamata sedikit melorot.
Bang Roy masuk terakhir.
Seperti biasa.
Tenang.
Tidak terburu-buru.
“Bismillah,” katanya.
Liqo dimulai.
Tilawah lagi.
Satu-satu.
Suara Fadil lebih mantap.
Seperti habis dibersihkan.
Rio masih terbata.
Tapi lebih berani.
Raka fokus.
Bagas rapi.
Dimas lembut.
Ade tetap tenang.
Hari ini MC lagi.
Dan lagi-lagi Bagas.
Bagas memulai.
Kali ini tidak grogi.
“Assalamu’alaikum,” katanya.
Lebih yakin.
Bang Roy tersenyum kecil.
Setelah pembukaan singkat,
Bang Roy duduk bersila.
Mushaf ditutup.
Cerita dimulai.
“Kalian tahu Imam Syafi’i?”
tanyanya.
Rio mengangguk cepat.
Raka ikut.
Yang lain diam.
“Beliau ulama besar,” kata Bang Roy.
“Tapi ada satu kisah kecil.
Yang sering dilupakan.”
Musala hening.
Angin malam masuk pelan.
“Suatu hari,” kata Bang Roy,
“Imam Syafi’i berkunjung
ke rumah Imam Ahmad bin Hambal.”
Nama itu terasa berat.
Imam Syafi’i, Geng Empat masih tahu. Tapi Imam Ahmad, siapa?
Tapi Bang Roy membuatnya ringan.
“Imam Ahmad punya putri,” lanjutnya.
“Shalihah.
Siangnya puasa.
Malamnya ibadah.
Dan suka kisah orang-orang shalih.”
Dimas menelan ludah.
Rio menyender.
“Putri itu ingin sekali melihat Imam Syafi’i,” kata Bang Roy.
“Karena ayahnya sangat menghormati beliau.”
Bang Roy berhenti sebentar.
Seperti memberi jeda.
“Malam itu,” katanya lagi,
“mereka makan bersama.”
“Imam Syafi’i makan banyak,” tambahnya.
“Banyak sekali.”
Bagas mengangkat alis.
Rio nyengir.
“Setelah itu,” Bang Roy melanjutkan,
“Imam Ahmad shalat malam.
Dzikir.
Wirid.”
“Dan Imam Syafi’i?”
Bang Roy menatap mereka.
“Tiduran,” katanya.
Sunyi.
“Putri Imam Ahmad memperhatikan,” lanjut Bang Roy.
“Dari malam sampai fajar.”
“Paginya,” kata Bang Roy,
“Sang putri bertanya pada ayahnya.”
Bang Roy menirukan suara pelan.
“Wahai ayahku,
apakah benar dia Imam Syafi’i
yang sering ayah ceritakan?”
Bang Roy mengubah nada.
“Benar, anakku.”
Lalu Bang Roy kembali menatap mereka.
“Putrinya bingung,” katanya.
“Karena ia melihat tiga hal.”
“Tiga?”
Raka berbisik.
“Pertama,” kata Bang Roy,
“Imam Syafi’i makan banyak.”
“Kedua,” lanjutnya,
“tidak shalat malam alias nggak tahajjud.”
“Ketiga,” katanya lagi,
“shalat Subuh tanpa wudhu.”
Musala senyap.
Seperti ditarik napas bersama.
“Imam Ahmad lalu bertanya,” kata Bang Roy.
“Dan Imam Syafi’i menjawab.”
Bang Roy tersenyum.
“Katanya,” Bang Roy menirukan,
‘Aku makan banyak karena aku tahu
makananmu halal.
Makanan orang mulia itu obat.’”
Rio membuka mulut sedikit.
Bagas terdiam.
“Bukan untuk kenyang,” lanjut Bang Roy,
“tapi untuk berobat.”
Bang Roy menarik napas.
“Lalu soal shalat malam,” katanya.
“Imam Syafi’i berkata,
ketika kepalanya diletakkan,
Al-Qur’an dan Hadits
seolah ada di depannya.”
“Malam itu,” Bang Roy menurunkan suara,
“Allah bukakan
tujuh puluh dua masalah fiqih di kepala Imam Syafi’i.”
“Untuk kemaslahatan umat,” tambahnya.
Dimas memejamkan mata.
Ade menggenggam mushaf.
“Dan soal wudhu,” kata Bang Roy.
“Imam Syafi’i bersumpah,
matanya tidak terpejam semalaman.”
“Shalat Subuh,” katanya,
“dengan wudhu Isya.”
Bang Roy berhenti.
“Lalu beliau pamit,” katanya.
“Dan pulang.”
Bang Roy menatap lantai.
Lalu menatap mereka.
“Imam Ahmad berkata pada putrinya,” katanya pelan,
‘Apa yang dilakukan Imam Syafi’i
dalam keadaan tiduran,
lebih utama
daripada shalat malamku.’”
Kalimat itu jatuh.
Tidak keras.
Tapi dalam.
Musala diam lama.
Tidak ada yang bicara.
Rio menelan ludah.
“Berat,” gumamnya.
Raka mengangguk.
“Ilmu,” katanya pendek.
Bagas menatap sajadah.
“Selama ini,” katanya,
“gue kira ibadah itu
cuma yang kelihatan.”
Bang Roy tersenyum.
“Ibadah,” katanya,
“itu luas.”
Liqo ditutup doa kafaratul majelis.
Pelan.
Hangat.
Selesai.
Mereka beres-beres.
Seperti biasa.
Di luar,
udara malam dingin.
Geng Empat Tanpa HP berjalan bareng.
Tidak banyak bicara.
“Dil,” kata Rio.
“Bang Roy keren ya.”
Fadil mengangguk.
“Banget.”
Di belakang,
Bang Roy memanggil Fadil.
“Sebentar.”
BACA JUGA: Geng Empat tanpa HP: Diajak Ngaji oleh Bang Roy
Mereka duduk di pos satpam.
Berdua.
Lampu kecil.
Mereka bicara.
Pelan.
Tentang sesuatu.
Tentang seseorang.
Nama itu tidak keluar.
Tapi terasa.
Ketika Fadil berdiri,
wajahnya berubah lagi.
Lebih cerah.
Lebih yakin.
Seperti orang yang tahu,
bahwa berjalan pelan
tidak selalu berarti
berjalan mundur.
Enam tahun kemudian, Fadil tahu, perkataan Bang Roy benar semua adanya. []
BACA SEMUA TENTANG GENG EMPAT TANPA HP DI SINI
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

