Geng Empat Tanpa HP: Uang Pangkal

5 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

MASALAH itu datang tanpa suara.
Tidak berisik.
Tidak dramatis.

Ia muncul dari wajah Bagas yang berubah.
Lebih sering diam.
Lebih sering menolak nongkrong.
Lebih sering pulang duluan.

“Gas kenapa sih?” tanya Raka suatu sore.

Bagas hanya mengangkat bahu.
“Capek.”

Rio memperhatikan.
Dimas juga.
Fadil tentu saja.

Tas Bagas makin tipis.
Bukan isinya.
Tapi caranya disandang.
Seperti ada beban yang tidak kelihatan.

BACA JUGA:  Geng Empat Tanpa HP: Hujan, An-Nāzi‘āt, dan Tangis yang Datang Sendiri)

Suatu hari,
Bagas tidak masuk sekolah.

Satu hari.
Dua hari.
Tiga hari.

“Dia sakit?” tanya Dimas.

“Enggak,” jawab wali kelas singkat.
“Masalah administrasi.”

Kata itu jatuh keras.
Administrasi.

Di bangku belakang,
mereka saling pandang.
Tidak ada yang tertawa.

Sore itu mereka berkumpul.
Bukan di warung kopi.
Tapi di lapangan kecil belakang sekolah.

“Uang pangkal,” kata Rio pelan.
“Gue dengar-dengar.”

Raka menendang kerikil.
“Orang tua Bagas lagi seret.”

Dimas menghela napas panjang.
“Terus?”

Tidak ada yang langsung menjawab.
Angin lewat.
Daun jatuh satu.

“Jangan bilang ke Fadil dulu,” kata Rio tiba-tiba.
“Biar kita pikirin dulu.”

Anehnya,
kali ini Fadil memang tidak tahu.
Atau pura-pura tidak tahu.

Mereka mulai berhitung.
Diam-diam.

Dimas buka tabungan kecilnya.
Isinya receh dan beberapa lembar biru.
Rio ingat uang hasil ngajar les sepupu.
Raka menyebut motor bututnya bisa digadai sebentar.
Bagas… tidak ada di situ.

“Kurang,” kata Raka.
“Masih jauh.”

Hening lagi.

“Kalau kita ngomong ke Bagas?” tanya Dimas.
Rio menggeleng cepat.
“Dia pasti nolak.”

Semua tahu.
Bagas paling tidak suka dikasihani.

Malamnya,
di pos ronda,
Fadil datang seperti biasa.
Bawa kopi.
Bawa gitar.

“Kok pada aneh?” tanyanya.

Tidak ada yang jawab jujur.
Raka malah bercanda.
Rio sibuk mengaduk kopi.
Dimas pura-pura main ponsel.

Fadil tidak memaksa.
Ia hanya duduk.
Memetik senar pelan.

Besoknya,
Fadil tidak melihat Bagas lagi.
Dan kali ini,
ia bertanya.

“Bagas kenapa?”
“Masalah duit,” jawab Rio singkat.

Fadil terdiam.
Tidak bicara.
Tidak bereaksi berlebihan.

Siang itu,
Fadil tidak ke kantin.
Ia ke ruang TU.
Keluar dengan wajah datar.

Sore harinya,
ia ke rumah Bagas.
Sendiri.

Rumah itu kecil.
Catnya pudar.
Ibunya menyambut dengan senyum lelah.

Bagas duduk di kursi kayu.
Menunduk.

“Gue cuma nunggu,” kata Bagas lirih.
“Nunggu bokap dapet kerjaan lagi.”

Fadil mengangguk.
“Lo pengen tetep sekolah?” tanyanya.

Bagas tidak langsung jawab.
Lalu mengangguk pelan.

Malam itu,
Fadil mengumpulkan mereka.

“Denger,” katanya.
“Besok pagi kita ke sekolah bareng Bagas.”

Rio mengerutkan kening.
“Buat apa?”

“Buat beresin,” jawab Fadil singkat.

Tidak ada yang membantah.
Aneh.
Tapi mereka ikut.

Pagi itu,
mereka berenam berdiri di depan ruang TU.
Bagas paling belakang.
Gugup.

Fadil bicara.
Tenang.
Tidak menggurui.

Tentang keringanan.
Tentang cicilan.
Tentang niat.

Petugas TU menatap lama.
Lalu mengangguk.
“Bisa diatur.”

Bagas terdiam.
Matanya berkaca.

Keluar dari ruangan,
Bagas menatap Fadil.

“Lo ngapain?” katanya pelan.
“Gue nggak minta.”

Fadil menepuk bahunya.
“Lo juga nggak nolak,” katanya.

Bagas menunduk.
Marah.
Malu.
Campur.

Sore itu,
Bagas tidak ikut nongkrong.
Ia pulang duluan.

Raka memecah sunyi.
“Dia marah ya?”

Fadil menggeleng.
“Dia lagi jaga harga diri.”

Malamnya,
Fadil datang ke rumah Bagas lagi.
Bawa dua kantong plastik.

“Ini titipan ibu gue,” katanya.
“Katanya kebanyakan masak.”

Bagas menatap kantong itu.
Beras.
Telur.
Minyak.

“Lo kenapa sih, Dil?”
“Kenapa repot amat?”

Fadil tersenyum kecil.
“Karena kalau lo berhenti sekolah,” katanya,
“geng kita kependekan satu.”

Bagas tertawa kecil.
Air matanya jatuh.

Beberapa minggu berlalu.
Bagas kembali sekolah.
Lebih pendiam.
Tapi hadir.

Tidak ada yang membicarakan uang lagi.
Tidak ada yang menagih.
Tidak ada yang pamer kebaikan.

Di pos ronda,
malam kembali seperti biasa.

Kopi.
Angin.
Lampu kuning.

Fadil memetik gitar.
Lagu lama.
Bukan Wonderwall kali ini.

Bagas duduk di sampingnya.
Tidak bicara.
Hanya mendengar.

Rio memandang mereka.
Raka dan Dimas ikut diam.

Mereka tahu satu hal.
Persahabatan bukan soal siapa paling lucu.
Atau siapa paling berisik.

Tapi siapa yang datang
saat hidup mulai minta bayaran.

BACA JUGA:  Geng Empat Tanpa HP: Kenapa Harus Fadil?

Lagu selesai.
Fadil meneguk kopi.

“Besok masuk pagi,” katanya santai.

Bagas mengangguk.
“Iya.”

Tidak ada pelukan.
Tidak ada pidato.

Hanya malam yang pelan-pelan habis.
Dan lima anak SMA
yang belajar satu hal baru.

Menolong itu seni.
Dan menjaga harga diri teman
lebih sulit
daripada mengeluarkan uang. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *