DI banyak halaqah kader dakwah, ada satu kitab klasik yang tak pernah benar-benar absen dari perbincangan: Ihya Ulumuddin. Ditulis hampir sembilan abad lalu oleh Imam Al-Ghazali, kitab ini bukan sekadar karya tasawuf. Ia adalah proyek besar menghidupkan kembali ilmu agama—mengawinkan fikih, akidah, dan penyucian jiwa.
Namun bagaimana kader dakwah modern memandang Ihya’? Apakah ia dibaca apa adanya? Atau disaring, ditata ulang, bahkan dikritisi?
Jawabannya membawa kita pada dua figur penting abad ke-20: Said Hawa dan Yusuf al-Qaradawi.
—
Ihya’ di Mata Kader Dakwah: Antara Ruh dan Metodologi
Di banyak gerakan Islam, Ihya’ dipandang sebagai kitab pembinaan hati. Ia membongkar penyakit riya’, hasad, takabbur, ujub—penyakit yang bisa meruntuhkan amal sebesar apa pun. Bagi kader dakwah, pesan ini relevan: aktivisme tanpa penyucian jiwa bisa berubah menjadi ambisi kekuasaan.
Namun ada kegelisahan lain. Sebagian pembina kader menyadari bahwa Ihya’ memuat riwayat hadits lemah. Bahasa klasiknya pun berat bagi generasi modern. Struktur pembahasannya luas dan tidak selalu sistematis untuk kebutuhan kurikulum tarbiyah.
Maka muncullah upaya “membaca ulang” Ihya’ tanpa memutus warisannya.

Said Hawa: Menyusun Ulang Ruh Al-Ghazali
Dalam suasana Suriah yang keras terhadap gerakan Islam, Said Hawa melihat kebutuhan mendesak akan fondasi ruhiyah yang kuat. Ia meyakini bahwa krisis utama gerakan bukan sekadar strategi, melainkan kebersihan hati.
Melalui karya monumentalnya, Al-Mustakhlash fi Tazkiyat al-Anfus, Hawa merangkum dan menyaring Ihya’. Buku ini sering disebut sebagai ringkasan Ihya’ versi tarbiyah.
Investigasi atas struktur Al-Mustakhlash menunjukkan tiga langkah penting:
1. Penyaringan riwayat – Riwayat hadits lemah diminimalkan.
2. Penataan sistematis – Materi disusun sesuai kebutuhan pembinaan kader.
3. Integrasi gerakan – Tasawuf diarahkan pada energi perjuangan, bukan uzlah pasif.
Hawa tidak menghilangkan ruh tasawuf, tetapi mengalihkannya menjadi bahan bakar dakwah. Penyucian jiwa dipandang sebagai prasyarat kepemimpinan.
Bagi kader dakwah yang dibina dengan pendekatan Hawa, Ihya’ bukan sekadar bacaan spiritual, melainkan manual pembentukan karakter. Seorang da’i harus membersihkan niat sebelum memperbaiki masyarakat.
Yusuf Al-Qaradawi: Menghormati dengan Kritik Ilmiah
Berbeda dengan Hawa yang melakukan ringkasan sistematis, Yusuf Al-Qaradawi tidak menulis ringkasan Ihya’. Namun dalam karya seperti Al-Imam Al-Ghazali Bayna Madihihi wa Naqidihi, ia membedah posisi Al-Ghazali di antara para pengagum dan pengkritiknya.
Pendekatan Al-Qaradawi lebih akademik dan metodologis. Ia menegaskan bahwa:
Ihya’ adalah kitab akhlak dan tazkiyah, bukan kitab hadits.
Riwayat di dalamnya perlu diverifikasi.
Nilai spiritualnya tetap besar dan relevan.
Al-Qaradawi merujuk pada ulama hadits seperti Al-‘Iraqi yang melakukan takhrij terhadap hadits-hadits dalam Ihya’. Ia ingin generasi modern menghargai warisan klasik tanpa kehilangan standar ilmiah.
Dalam banyak tulisannya, Al-Qaradawi juga menekankan keseimbangan antara tasawuf dan fikih, antara hati dan hukum, antara spiritualitas dan maqashid syariah.
Jika Said Hawa menata ulang Ihya’ untuk kurikulum kader, Al-Qaradawi menjaga agar Ihya’ dibaca dengan disiplin metodologi.
—
Dua Pendekatan, Satu Arah
Bagi kader dakwah, kedua pendekatan ini saling melengkapi.
Dari Said Hawa, mereka belajar bahwa dakwah tanpa tazkiyah adalah bangunan tanpa pondasi. Penyakit hati lebih berbahaya daripada tekanan eksternal.
Dari Al-Qaradawi, mereka belajar bahwa semangat spiritual tidak boleh mengabaikan validitas dalil. Cinta kepada tradisi harus diiringi sikap kritis.
Dalam banyak halaqah modern, pengaruh keduanya terasa. Materi tentang ikhlas, muraqabah, dan muhasabah sering merujuk pada Al-Ghazali, tetapi disajikan secara sistematis dan disertai verifikasi hadits.
BACA JUGA: Setiap Generasi Bagai Air Bah: Bagaimana Juru Dakwah dan Pemimpin Mengelolanya?
Ihya’ di Era Gerakan Modern
Seiring perubahan zaman, kader dakwah menghadapi tantangan baru: media sosial, politik identitas, godaan popularitas. Penyakit hati yang dibahas Al-Ghazali justru semakin relevan.
Riya’ kini bisa berbentuk pencitraan digital.
Hasad muncul dalam kompetisi organisasi.
Takabbur tersembunyi di balik retorika.
Di titik ini, Ihya’ kembali menemukan aktualitasnya.
Namun tanpa pendekatan sistematis seperti yang dilakukan Said Hawa, ia bisa sulit diakses. Dan tanpa disiplin ilmiah seperti yang ditegaskan Al-Qaradawi, ia bisa disalahpahami.
—
Kesimpulan
Telaah atas dua tokoh ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang Ihya’ bukan soal menerima atau menolak, melainkan bagaimana mengelolanya.
Said Hawa mengajarkan bahwa ruh Al-Ghazali harus ditransformasikan menjadi kurikulum pembinaan kader.
Yusuf Al-Qaradawi mengingatkan bahwa warisan klasik harus dibaca dengan standar ilmiah yang kokoh.
Bagi kader dakwah hari ini, Ihya’ bukan kitab museum. Ia adalah cermin. Cermin yang memantulkan niat, ambisi, dan kebersihan hati.
Dan mungkin, di antara dua pendekatan itu, generasi dakwah menemukan keseimbangan: hati yang bersih, ilmu yang sahih, dan gerakan yang lurus. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


