Unta dan Karakter Mukmin Setelah Berpuasa

2 Min Read
Foto: Freepik

SURAH Al-Ghasyiyah termasuk surat yang biasa dibaca Rasulullah ﷺ dalam shalat Idul Fitri. Surat ini tidak hanya menggambarkan dahsyatnya hari akhir, tetapi juga mengarahkan manusia untuk merenungi ciptaan Allah, salah satunya unta, sebagai pelajaran hidup bagi orang beriman.

Allah berfirman dalam ayat ke-17:

“Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?”

Dalam tafsir tahlili dijelaskan bahwa ayat ini mengajak manusia memperhatikan makhluk yang dekat dengan kehidupan mereka. Unta, langit yang tinggi tanpa tiang, gunung yang kokoh, dan bumi yang dihamparkan—semuanya menjadi tanda kekuasaan Allah. Dengan merenunginya, manusia seharusnya sampai pada kesadaran bahwa Allah mampu membangkitkan kembali kehidupan di hari kiamat.

Menurut Ahmad Mustafa Al-Maraghi, kata al-ibil berarti unta-unta. Ia menjelaskan bahwa unta adalah hewan yang memiliki keistimewaan luar biasa: tubuh besar, kekuatan tinggi, serta daya tahan terhadap lapar dan dahaga yang tidak dimiliki hewan lain.

Unta mampu berjalan jauh di bawah terik matahari, menempuh ribuan kilometer dalam kondisi berat. Karena itu, ia dijuluki “perahu Sahara.” Para penyair Arab pun memujinya sebagai makhluk yang sanggup menempuh perjalanan panjang dengan ketahanan yang menakjubkan.

https://s.shopee.co.id/W1zgA9JOC

Selain kuat, unta juga memiliki karakter yang lembut dan penurut. Ia sabar meski disakiti, bahkan oleh anak kecil sekalipun. Al-Abbas bin Mirdas menggambarkan hal ini dalam syairnya: seekor unta tetap tenang meski dipukul oleh seorang anak kecil.

BACA JUGA:  Kader Dakwah dalam Memahami Ihya Ulumuddin

Di sisi lain, unta juga sangat bermanfaat dan mudah dipelihara. Ia dapat digembalakan dengan sederhana, makan dari apa yang tersedia, serta memberikan banyak manfaat: dagingnya dimakan, susunya diminum, dan bulunya dimanfaatkan sebagai bahan pakaian.

Dengan segala sifat tersebut, unta menjadi simbol ketahanan, kesabaran, dan kebermanfaatan. Inilah karakter yang seharusnya lahir dari seorang mukmin setelah menjalani puasa: kuat menghadapi ujian, sabar dalam perlakuan manusia, serta terus memberi manfaat bagi sekitarnya. []

Sumber:
Masduha, Al-Alfaazh, Penerbit Al-Kautsar, 2027
Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, GIP, 2020
Sayid Qutb, Tafsir Fizilalil Qur’an, GIP, 2017
Quran Kemenag, Tafsir Tahlili

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *