Sering Istighfar Tapi Masih Ulangi Dosa yang Sama, Apakah Taubatnya Diterima?

Yudi
By Yudi
7 Min Read
Foto: Freepik

ADA orang yang merasa sangat bersalah setelah melakukan dosa, kemudian segera beristighfar dan memohon ampun kepada Allah. Namun, beberapa waktu kemudian ia kembali melakukan dosa yang sama, lalu menyesal dan bertaubat lagi. Kondisi seperti ini bisa membuat seseorang bertanya-tanya, apakah taubatnya masih diterima atau justru istighfarnya menjadi sia-sia karena ia terus mengulangi kesalahan yang sama?

Dalam Islam, pintu taubat tidak tertutup hanya karena seseorang pernah jatuh kembali ke dalam dosa. Selama seseorang benar-benar menyesal, meninggalkan dosa tersebut, dan kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh, ia tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan ampunan. Allah bahkan melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya sebagaimana disebutkan dalam QS. Az-Zumar ayat 53.

BACA JUGA: Suami Istri Pernah Punya Anak di Luar Nikah, Taubatnya Bagaimana?

Namun, taubat yang benar bukan sekadar mengucapkan “astaghfirullah” dengan lisan. Taubat harus disertai penyesalan atas dosa yang dilakukan, meninggalkan dosa tersebut, dan memiliki tekad untuk tidak mengulanginya. Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia, maka ada kewajiban tambahan untuk mengembalikan hak atau meminta penyelesaian kepada orang yang dirugikan sesuai keadaan.

Lalu bagaimana jika seseorang sudah bertaubat dengan sungguh-sungguh, tetapi beberapa hari atau beberapa bulan kemudian kembali terjatuh dalam dosa yang sama? Hal ini tidak otomatis berarti taubat sebelumnya tidak diterima. Jika pada saat bertaubat ia memang benar-benar ingin berhenti dan tidak memiliki niat untuk kembali melakukan dosa, kemudian kelemahannya membuat ia tergelincir lagi, maka ia perlu segera bertaubat kembali dan tidak menyerah.

Yang perlu dibedakan adalah antara orang yang sungguh-sungguh bertaubat dengan orang yang sejak awal menjadikan istighfar sebagai alasan untuk terus melakukan dosa. Misalnya, seseorang sengaja berkata dalam hati bahwa ia akan melakukan maksiat sekarang dan nanti tinggal meminta ampun kepada Allah, maka sikap seperti ini menunjukkan tidak adanya kesungguhan dalam taubat. Istighfar tidak seharusnya dijadikan “izin” untuk melakukan dosa berulang kali tanpa usaha untuk berubah.

Mengulangi dosa juga seharusnya menjadi tanda bahwa seseorang perlu mencari penyebab mengapa ia selalu jatuh pada kesalahan tersebut. Bisa jadi ada lingkungan pergaulan yang buruk, kebiasaan menggunakan media tertentu, waktu-waktu tertentu yang menjadi pemicu, atau kondisi emosional yang membuatnya lebih mudah kehilangan kendali. Jika penyebabnya tidak diatasi, seseorang mungkin akan terus berada dalam siklus dosa, menyesal, istighfar, kemudian kembali melakukan dosa yang sama.

Karena itu, taubat perlu diikuti dengan langkah nyata. Jika seseorang sering melakukan dosa karena pergaulan, ia perlu mengevaluasi siapa saja yang sering memengaruhinya dan berusaha mendekat kepada lingkungan yang lebih baik. Jika penyebabnya adalah kebiasaan mengakses sesuatu yang haram melalui ponsel, maka ia perlu membatasi akses, menghapus pemicu, dan mengubah kebiasaan hariannya.

https://s.shopee.co.id/30nvRWxJbt

Jangan pula meremehkan dosa hanya karena sudah berkali-kali meminta ampun. Sebaliknya, jangan pula menganggap diri sudah tidak memiliki harapan hanya karena berkali-kali jatuh dalam kesalahan. Dua sikap tersebut sama-sama tidak tepat karena seorang Muslim diperintahkan untuk takut kepada dosa sekaligus berharap kepada rahmat Allah.

Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 135 tentang orang-orang bertakwa yang ketika melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka mengingat Allah dan memohon ampun atas dosa-dosanya. Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa manusia bisa saja melakukan kesalahan, tetapi orang beriman tidak membiarkan dirinya terus-menerus berada dalam kesalahan tersebut tanpa kembali kepada Allah. Ia berusaha bangkit setiap kali jatuh.

Ada pula hadis yang menjelaskan tentang seorang hamba yang melakukan dosa, kemudian memohon ampun kepada Allah, lalu kembali melakukan dosa dan kembali memohon ampun. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa Allah mengetahui hamba-Nya memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum dosa, sehingga ampunan Allah diberikan kepada hamba tersebut selama ia benar-benar kembali kepada-Nya. Hadis ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk sengaja berbuat dosa, tetapi sebagai gambaran luasnya rahmat Allah bagi orang yang benar-benar bertaubat.

Taubat juga tidak harus menunggu seseorang menjadi sempurna. Justru taubat merupakan bagian dari perjalanan untuk memperbaiki diri. Jika hari ini gagal, bangkit lagi; jika besok kembali tergelincir, segera kembali lagi kepada Allah, sambil memperbaiki langkah agar kemungkinan jatuh ke dalam dosa semakin kecil.

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah seseorang merasa tidak layak berdoa setelah melakukan dosa. Ia merasa terlalu kotor untuk membaca Al-Qur’an, shalat, berdzikir, atau mendatangi majelis ilmu karena malu kepada Allah. Padahal, ketika seseorang melakukan dosa, justru saat itulah ia sangat membutuhkan kedekatan dengan Allah dan pertolongan untuk keluar dari kebiasaan buruk tersebut.

Istighfar juga sebaiknya tidak hanya dilakukan setelah melakukan dosa. Perbanyak istighfar dalam keadaan sehari-hari sebagai bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki banyak kekurangan dan selalu membutuhkan ampunan Allah. Dengan begitu, istighfar tidak menjadi sekadar ucapan setelah melakukan maksiat, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan seorang Muslim untuk terus membersihkan diri.

Jika dosa yang dilakukan sudah berkembang menjadi kebiasaan yang sangat sulit dihentikan, seseorang juga perlu mencari bantuan yang tepat. Berbicara dengan ustaz atau orang yang memiliki ilmu agama yang dapat dipercaya bisa membantu dari sisi pembinaan spiritual, sementara bantuan profesional dapat dipertimbangkan jika masalah tersebut berkaitan dengan kebiasaan atau kondisi psikologis yang membutuhkan penanganan khusus. Mencari pertolongan bukan berarti lemahnya iman, selama dilakukan dengan cara yang baik dan tetap disertai usaha mendekatkan diri kepada Allah.

BACA JUGA: Terlanjur Punya Utang Riba, Bagaimana Cara Taubatnya?

Jadi, sering istighfar tetapi masih mengulangi dosa yang sama bukan alasan untuk berhenti bertaubat. Selama taubat dilakukan dengan sungguh-sungguh, disertai penyesalan dan tekad untuk meninggalkan dosa, jangan berputus asa dari rahmat Allah ketika suatu saat kembali tergelincir. Yang terpenting bukan hanya berapa kali kita jatuh, tetapi apakah setiap kali jatuh kita mau kembali kepada Allah dan benar-benar berusaha memperbaiki diri.

Jangan pernah berpikir bahwa karena sudah berkali-kali melakukan dosa, maka Allah tidak akan mengampuni lagi. Sebaliknya, jangan menggunakan luasnya ampunan Allah sebagai alasan untuk sengaja mempertahankan maksiat. Teruslah bertaubat, perbaiki penyebab yang membuat kita jatuh, jauhi pintu-pintu menuju dosa, dan mintalah kepada Allah agar diberi kekuatan untuk istiqamah sampai akhir kehidupan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *