Apakah Mengumpat Itu Termasuk Dosa atau Tidak?

Umar Faqih
5 Min Read
Foto: Freepik

PERNAHKAH kita mengumpat ketika sedang marah, kecewa, atau merasa diperlakukan tidak adil? Sebagian orang menganggap mengumpat sebagai hal biasa, terutama ketika emosi sedang memuncak. Ada pula yang melakukannya sekadar bercanda bersama teman tanpa menyadari bahwa perkataannya bisa menyakiti orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, umpatan sering terdengar di lingkungan pergaulan, tempat kerja, bahkan media sosial. Kata-kata kasar terkadang keluar begitu saja karena seseorang sulit mengendalikan emosinya. Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan dan tidak menyakiti sesama melalui perkataan.

Lantas, apakah mengumpat termasuk dosa? Bagaimana Islam memandang kebiasaan mengucapkan kata-kata kasar kepada orang lain?

BACA JUGA: Apakah Ada Doa yang Dilarang dalam Islam?

Islam Melarang Perkataan yang Buruk

Mengumpat dapat berupa ucapan kasar, makian, atau kata-kata yang merendahkan dan menyakiti orang lain. Jika dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan, terlebih untuk menghina, mencaci, atau mempermalukan seseorang, perbuatan ini termasuk perilaku tercela dan dapat menjadi dosa.

Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra: 53).

Ayat ini mengingatkan bahwa seorang Muslim hendaknya memilih perkataan yang baik ketika berkomunikasi. Bahkan saat berbeda pendapat atau sedang menghadapi persoalan, seorang Muslim tetap dituntut menjaga lisannya.

Mengumpat bukan hanya persoalan pilihan kata. Ucapan yang kasar dapat melukai perasaan, memicu pertengkaran, merusak persaudaraan, dan menimbulkan permusuhan. Karena itu, kebiasaan tersebut tidak sepatutnya dianggap sepele.

banner sendal

Rasulullah ﷺ Mengajarkan Akhlak yang Baik

Rasulullah ﷺ memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya memperlakukan orang lain. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diucapkan. Ketika seseorang tidak mampu menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik, diam dapat menjadi pilihan yang lebih selamat.

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan tersebut menunjukkan bahwa menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Jangan sampai orang lain merasa takut, tersinggung, atau terluka karena ucapan kita.

Apakah Mengumpat Saat Marah Tetap Berdosa?

Marah merupakan emosi manusiawi. Namun, kemarahan tidak otomatis membenarkan seseorang untuk mencaci maki atau menghina orang lain. Ketika sedang marah, seseorang justru perlu berusaha mengendalikan diri agar tidak mengucapkan perkataan yang disesalinya kemudian.

Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat singkat, “Jangan marah.” Nasihat tersebut disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari ketika seorang sahabat meminta wasiat kepada beliau. (HR. Bukhari).

Bukan berarti seorang Muslim tidak boleh merasa marah. Maksudnya, ia perlu mengendalikan kemarahan agar tidak mendorongnya melakukan perbuatan yang dilarang.

Ketika emosi mulai memuncak, cobalah menahan diri sebelum berbicara. Jika diperlukan, menjauhlah sejenak dari situasi yang memicu kemarahan, kemudian lanjutkan pembicaraan setelah pikiran lebih tenang.

BACA JUGA: Apakah Benar Rezeki Haram Dapat Memengaruhi Doa Kita?

Bagaimana Jika Terlanjur Mengumpat?

Seseorang yang pernah mengumpat hendaknya tidak menunda-nunda untuk bertobat kepada Allah. Tobat dilakukan dengan menyesali perbuatan tersebut, berhenti mengulanginya, dan bertekad memperbaiki perilaku.

Jika umpatan itu ditujukan kepada orang lain hingga melukai perasaannya, berusahalah memperbaiki keadaan. Meminta maaf dapat menjadi langkah yang baik apabila memungkinkan dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Selain itu, biasakan mengganti kata-kata kasar dengan ungkapan yang lebih santun. Latih diri untuk tidak langsung membalas perkataan buruk dengan perkataan buruk pula. Kebiasaan ini memang membutuhkan proses, tetapi dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

Pada akhirnya, mengumpat bukan kebiasaan yang patut dipelihara oleh seorang Muslim. Ucapan yang keluar dari lisan dapat membawa kebaikan, tetapi juga bisa mendatangkan dosa ketika digunakan untuk menghina dan menyakiti sesama.

Karena itu, jagalah lisan, terutama ketika sedang marah. Jangan sampai emosi sesaat membuat kita mengucapkan kata-kata yang melukai orang lain dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.[]

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *