IMAM Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه bukan terletak pada banyaknya shalat sunah, puasa, sedekah, atau riwayat hadis. Kemuliaannya tidak diukur dari kuantitas amal lahiriah yang tampak oleh manusia.
Akan tetapi, kemuliaan itu justru bersumber dari sesuatu yang bernilai sangat tinggi di dalam dadanya: qalbu. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa keutamaan Abu Bakar terletak pada apa yang tersimpan di dalam hatinya—yakni keikhlasan, keyakinan yang utuh, dan kebenaran yang tak tergoyahkan.
Hal yang sama pula dapat dipahami pada diri Imam Syafi‘i رحمه الله. Ketakwaan dan kezuhudannya bukan semata-mata buah dari keluasan ilmunya dalam fiqh—tentang zakat, muamalah, upah, dan hukum-hukum lahiriah lainnya. Semua itu penting, namun bukan inti kemuliaannya.
Akar ketakwaan Imam Syafi‘i terletak pada ma‘rifatullah: pemahaman tentang Allah yang mendalam, yang meresap ke relung qalbunya, lalu melahirkan rasa takut, tunduk, dan kejujuran dalam hidup.
Inilah yang ditegaskan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya: “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir [35]: 28)
Dengan demikian, menurut Imam Al-Ghazali, kemuliaan sejati tidak lahir dari banyaknya amal lahiriah atau keluasan ilmu formal semata, melainkan dari kualitas hati yang dipenuhi pengenalan yang benar kepada Allah. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
