Geng Empat tanpa HP: Bikin Grup Nasyid!

6 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

LIQO malam itu belum bubar benar.
Karpet masih hangat.
Lampu masih kuning.

Bang Roy duduk di bangku panjang.
Melepas sepatu.
Melihat Fadil yang belum pulang.

“Dil,” katanya santai.
“Kamu suka main musik, nggak?”

Fadil kaget sedikit.
“Musik?”

“Iya,” Bang Roy mengangguk.
“Alat musik.”

Fadil garuk kepala.
“Gitar… dikit.”

Bang Roy tersenyum.
“Lumayan.”

Besoknya,
Fadil cerita ke yang lain.

Rio berhenti makan gorengan.
“Gitar?”

Raka menoleh.
“Terus?”

Bagas nyengir.
“Gue bisa nyanyi.
Tapi jangan direkam.”

BACA JUGA:  Geng Empat tanpa HP: Bang Roy Berkisah tentang Imam Syafi’i

Dimas tertawa kecil.
“Aku fals.”

Bang Roy datang.
Berdiri di depan mereka.
Tangannya di saku.

“Kenapa nggak bikin grup nasyid?”
katanya.

Planga-plongo.
Serempak.

“Hah?”
“Hah?”
“Grup apa?”

Bang Roy tertawa.
“Nasyid.”

Fadil mikir keras.
“Kayak… akapela?”

Bang Roy mengangguk.
“Bisa.”

Bagas nyeletuk,
“Kayak Opick?”

Bang Roy tertawa lagi.
“Mirip.
Tapi ramean.”

Mereka masih bengong.

Bang Roy mengeluarkan HP.
Satu-satunya HP di lingkaran itu.

“Dengerin,” katanya.

Layar kecil.
Speaker kecil.
Tapi suaranya penuh.

“Ya Rasulullah…”

Nada itu mengalir.
Lembut.
Dalam.

Raihan.
Nama itu muncul.

Alangkah indahnya hidup iniAndai dapat kutatap wajahmuKan pasti mengalir air matakuKarena pancaran ketenanganmu
Alangkah indahnya hidup iniAndai dapat kukucup tanganmuMoga mengalir keberkatan dalam dirikuUntuk mengikut jejak langkahmu
Ya Rasulallah ya HabiballahTak pernah kutatap wajahmuYa Rasulallah ya HabiballahKami rindu padamu
Allahumma sholli ‘alaa MuhammadYa Robbi sholli ‘alaihi wassalimAllahumma sholli ‘alaa MuhammadYa Robbi sholli ‘alaihi wassalim
Alangkah indahnya hidup iniAndai dapat kudakap dirimuTiada kata yang dapat aku ucapkanHanya Tuhan saja yang tahu
Ya Rasulallah ya HabiballahTak pernah kutatap wajahmu
Ya Rasulallah ya HabiballahKami rindu padamu
Kutahu cintamu kepada ummatUmati umatiKutahu bimbangnya kau tentang kamiSyafa’atkan kami
Alangkah indahnya hidup iniAndai dapat kutatap wajahmuKan pasti mengalir air matakuKarena pancaran ketenanganmu
Ya Rasulallah ya HabiballahTak pernah kutatap wajahmuYa Rasulallah ya HabiballahKami rindu padamu

Tidak ada drum.
Tidak ada gitar listrik.
Hanya suara.
Dan rasa.

Rio menelan ludah.
Raka memejamkan mata.
Bagas menunduk.
Dimas menggenggam lutut.
Fadil membeku.

“Ya Rasulullah,
salamun ‘alaik…”

Kata-kata itu
tidak berteriak.
Tapi mengetuk.

Entah sejak kapan,
mata Fadil basah.

Ia tidak terisak.
Tidak terhuyung.
Hanya diam.
Air mata jatuh sendiri.

“Kok ada ya lagu kayak gini,”
gumam Bagas.
Suaranya pecah.

Bang Roy tidak bicara.
Membiarkan lagu selesai.

Sunyi.

“Gimana?”
tanya Bang Roy pelan.

Rio mengusap mata.
“Bang,” katanya.
“Ini… beda.”

Raka mengangguk.
“Kayak… kayak apa ya.”

Keputusan tidak dibuat resmi.
Tidak pakai voting.
Tidak pakai rapat.

Tapi sore itu,
mereka mulai latihan.

Di sekolah.
Di aula kecil.
Pintu setengah terbuka.

Fadil pegang gitar.
Jari gemetar.
Bukan karena takut.
Tapi karena asing.

“Jangan pake gitar Dil,” kata Bang Roy.

Fadil nurut.
Gitar disimpan.

Yang lain berdiri.
Baris tidak rapi.
Nada tidak jelas.

“Nyanyi aja,” kata Bang Roy.
“Yang penting niat.”

Mereka nyanyi.
Berantakan.

Rio masuk duluan.
Terlalu tinggi.

Raka nyusul.
Ketinggalan nada.

Bagas sok pede.
Tapi lari sendiri.

Dimas hampir tidak terdengar.

Bang Roy menutup mata.
Mendengarkan.
Lalu tertawa.

“Tenang,” katanya.
“Semua pernah jelek di awal.”

Mereka ulang.
Pelan.
Diatur.

“Bang,” kata Fadil.
“Bang Roy bisa nyanyi?”

Bang Roy tersenyum.
“Sedikit.”

“Coba,” kata Bagas.

Bang Roy berdiri.
Menarik napas.

Dan suara itu keluar.

Dalam.
Hangat.
Alto.

Semua menoleh.
Kaget.

“Bang!”
“Seriusan?”
“Satpam rasa Judika?”

Bang Roy tertawa.
“Dulu,” katanya.
“Pernah bikin grup nasyid juga.”

Latihan jadi hidup.
Nada mulai ketemu.
Suara tahu tempatnya.

Hari berganti.
Latihan berulang.

Kadang gagal.
Kadang sumbang.
Kadang ketawa.

Nama grup belum ada.
Belum penting.

Yang penting,
mereka pulang dengan hati ringan.

Suatu sore,
Bang Roy mengangkat tangan.

“Coba lagu ini,” katanya.

Ia menyebut judulnya.
“Hai Mujahid Muda.”

Fadil memetik.
Irama tegas.

“Nyanyi,” kata Bang Roy.

Mereka mulai.

“Hai mujahid muda,
maju ke hadapan…”

Suara masih goyah.
Tapi semangat ada.

“Dari izzatul Islam…”

Hai mujahid muda
maju ke hadapan
sibakkan penghalang
satukan tujuan
kibarkan panji Islam dalam satu barisan
Bersama berjuang kita junjung keadilan

Jangan bimbang ragu
Tetaplah melaju
Hapus bayang semu
Di lubuk hatimu

Bagas memejamkan mata.
Rio mengepalkan tangan.
Raka menegakkan dada.
Dimas ikut menguat.

Bang Roy menyanyi bersama.
Suaranya mengikat.
Menjaga.

Aula kecil itu
tidak lagi kecil.

Seolah ada barisan.
Seolah ada cahaya.

Mereka selesai.
Napas terengah.
Keringat di dahi.

“Seru,” kata Rio.
“Gila.”

Bagas tertawa.
“Gue merinding.”

Fadil tersenyum.
Untuk pertama kalinya
tanpa ragu.

Malam itu,
Fadil pulang pelan.

Di rumah,
ia memetik gitar lagi.
Sendiri.

BACA JUGA:  Geng Empat tanpa HP: Diajak Ngaji oleh Bang Roy

Sejenak ia segera letakkan gitarnya.
Kok Bang Roy nyuruh ga pakai gitar ya?

Ia teringat
lagu tadi.
Terngiang.

Dan entah kenapa,
ia merasa
hidupnya
sedikit lebih lurus.

Di sekolah,
besoknya,
mereka bukan cuma
Geng Empat tanpa HP.

Mereka
calon grup nasyid.

Belum jago.
Belum terkenal.
Tapi sudah tahu
untuk apa
mereka bernyanyi. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *