PADA suatu hari, Wābiṣah bin Ma‘bad رضي الله عنه datang menemui Rasulullah ﷺ untuk bertanya tentang dosa. Ia ingin tahu, apa ukuran dosa yang sesungguhnya—bukan sekadar menurut ucapan manusia, tetapi menurut timbangan yang lebih dalam.
Rasulullah ﷺ menjawab dengan singkat, namun menghunjam ke dasar jiwa: “Tanyakanlah kepada nuranimu. Dosa adalah sesuatu yang membuat jiwa merasa gelisah dan engkau tidak suka jika perbuatan itu diketahui orang lain.”
Dalam kesempatan lain, Wābiṣah kembali bertanya. Kali ini bukan tentang dosa semata, melainkan tentang bagaimana menjaga diri agar mencapai derajat wara’—tingkatan kehati-hatian ruhiyah yang tinggi.
Rasulullah ﷺ kembali mengarahkannya pada sumber yang sama: “Mintalah fatwa kepada nuranimu, meskipun orang-orang telah memberi fatwa kepadamu, meskipun orang-orang telah memberi fatwa kepadamu, dan meskipun orang-orang telah memberi fatwa kepadamu.”
Pengulangan jawaban itu bukan tanpa makna. Ia menegaskan bahwa hati yang jujur dan hidup—yang diterangi iman—memiliki kepekaan untuk membedakan antara yang bersih dan yang meragukan. Fatwa manusia penting, tetapi nurani yang selaras dengan kebenaran adalah penjaga terakhir dari kejatuhan batin.
Dengan demikian, wara’ bukan sekadar menjauhi yang haram, tetapi juga berani menahan diri dari sesuatu yang menimbulkan kegelisahan di hati, sekalipun tampak dibenarkan oleh banyak orang. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


