Struktur Masyarakat Jawa saat Perutusan Tiongkok Tiba di Majapahit

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

KETIKA  armada-armada Tiongkok mulai merapat ke pelabuhan-pelabuhan Jawa pada awal abad ke-15, mereka tidak hanya membawa sutra, keramik, dan surat kekaisaran. Mereka membawa catatan—tentang apa yang mereka lihat, siapa yang mereka temui, dan bagaimana masyarakat Jawa hidup sehari-hari.

Catatan-catatan inilah yang kelak menjadi sumber penting untuk membaca struktur sosial Jawa di era akhir Majapahit, khususnya ketika Islam mulai mendekati pusat kekuasaan, bukan lagi sekadar hidup di pinggiran pelabuhan.

Perutusan Tiongkok dan Tahun-Tahun Penting

Perutusan Tiongkok paling terkenal ke Jawa terjadi pada masa Dinasti Ming, terutama melalui ekspedisi besar Laksamana Zheng He (Cheng Ho) antara 1405–1433 M. Dalam rentang waktu ini, armada Ming beberapa kali singgah di Jawa—khususnya di wilayah Gresik, Tuban, Surabaya, dan Semarang—wilayah yang saat itu berada di bawah pengaruh Majapahit.

Catatan pendamping Zheng He, seperti Ma Huan dalam Yingyai Shenglan (ditulis sekitar 1433 M), memberikan gambaran detail tentang masyarakat Jawa. Dan di sinilah pembelahan sosial itu tampak jelas.

Tiga Lapisan Sosial dalam Catatan Tiongkok

Sumber-sumber Tiongkok menggambarkan masyarakat Jawa tidak sebagai satu kesatuan homogen, melainkan terbelah ke dalam beberapa kelompok sosial-budaya yang mudah dikenali—bahkan dari cara berpakaian, kebersihan, dan pola hidup.

BACA JUGA: Islam di Nusantara Menurut Catatan Tiongkok

1. Orang Islam: Bersih, Tertib, dan Terpisah

Kelompok pertama yang paling menonjol dalam catatan Tiongkok adalah orang-orang Islam. Mereka digambarkan sebagai kelompok yang:

Menjaga kebersihan tubuh
Memiliki aturan hidup yang jelas
Berpakaian rapi
Memisahkan diri dari kebiasaan makan dan ritual masyarakat non-Islam

Ma Huan mencatat bahwa orang Islam di Jawa hidup “seperti orang asing yang beradab”, dengan tata cara hidup yang berbeda dari masyarakat lokal. Mereka rajin mandi, menjaga kebersihan pakaian, dan memiliki aturan makanan yang ketat.

Dalam konteks Jawa saat itu, kebersihan menjadi penanda sosial. Islam, dengan ajaran wudhu, mandi, dan thaharah, membentuk habitus baru yang kontras dengan kebiasaan masyarakat non-Islam yang belum mengenal disiplin kebersihan ritual secara ketat.
Ini bukan penilaian moral, melainkan pengamatan etnografis.

2. Masyarakat Tiongkok: Menyerupai Muslim, Banyak yang Telah Muslim

Kelompok kedua adalah masyarakat Tiongkok perantauan. Menariknya, dalam catatan Tiongkok sendiri, kelompok ini digambarkan sangat mirip dengan orang Islam, baik dari segi kebersihan maupun tata hidup.

Banyak di antara mereka telah memeluk Islam, khususnya mereka yang berasal dari wilayah selatan Tiongkok seperti Fujian dan Guangdong, daerah yang sejak lama memiliki komunitas Muslim. Zheng He sendiri adalah seorang Muslim.
Catatan Ma Huan menyebut bahwa orang Tiongkok Muslim di Jawa:

Bergaul erat dengan komunitas Muslim lokal
Menjadi perantara dagang antara Jawa dan dunia Islam
Sering tinggal di kawasan pelabuhan, berdampingan dengan Arab dan Gujarat
Mereka bukan sekadar pedagang. Mereka adalah agen perubahan budaya. Melalui mereka, Islam hadir dengan wajah yang lebih terorganisir, lebih kosmopolitan, dan lebih dekat dengan dunia internasional.

3. Masyarakat Non-Islam: Tradisi Lama dan “Kekotoran”

Kelompok ketiga dalam catatan Tiongkok adalah masyarakat Jawa non-Islam, terutama yang masih menganut Hindu-Buddha atau kepercayaan lokal. Mereka digambarkan:

Tidak menjaga kebersihan tubuh secara rutin
Makan dan minum tanpa aturan tertentu
Hidup menyatu dengan kebiasaan lama yang dianggap “kasar” oleh pengamat asing

Kata “kotor” dalam catatan Tiongkok harus dibaca secara kultural, bukan menghina. Ia mencerminkan perbedaan standar kebersihan dan disiplin hidup, bukan penilaian nilai kemanusiaan.

Namun secara sosial, perbedaan ini menciptakan jarak simbolik. Islam tampil bukan hanya sebagai agama, tetapi sebagai cara hidup baru—lebih rapi, lebih tertib, dan lebih “modern” dalam pandangan dunia luar.

https://id.shp.ee/JLAL5EP

Islam Mendekati Istana Majapahit

Awalnya, Islam hidup di pelabuhan. Tetapi pada awal abad ke-15, posisinya mulai bergeser.

Sekitar tahun 1413–1424 M, Majapahit berada di bawah pemerintahan Wikramawardhana, masa ketika konflik internal dan melemahnya pusat kekuasaan mulai terasa. Dalam situasi ini, elit Majapahit semakin bergantung pada jalur dagang, dan jalur dagang dikuasai oleh Muslim.

Islam pun mulai mendekati istana, bukan melalui dakwah terbuka, melainkan melalui:

Pernikahan elite
Jaringan ekonomi
Peran administratif pelabuhan

Catatan Tiongkok menyiratkan bahwa beberapa pejabat lokal Majapahit telah berinteraksi erat dengan komunitas Muslim—bahkan meniru cara hidup mereka.

Kebersihan sebagai Bahasa Kekuasaan Baru

Yang menarik, kebersihan menjadi simbol peradaban baru. Islam tidak datang dengan pasukan, tetapi dengan disiplin tubuh. Wudhu, mandi, pakaian bersih, dan pemisahan ruang privat menciptakan citra superior di mata pengamat asing.

Dalam dunia perdagangan internasional abad ke-15, citra ini penting. Pedagang ingin bertransaksi dengan orang yang tertib, dapat dipercaya, dan “bersih”—baik secara fisik maupun moral.

Di sinilah Islam unggul.
Mengapa Catatan Tiongkok Penting?

Karena ia ditulis oleh orang luar yang tidak berkepentingan mengagungkan Islam atau menjatuhkan Majapahit. Ia mencatat apa yang ia lihat.
Dan yang ia lihat adalah pergeseran sosial:

Dari agraris ke maritim
Dari ritual lama ke disiplin baru
Dari istana ke pelabuhan

Islam berada di pusat pergeseran itu.

BACA JUGA: Peranan Etnis Cina Muslim dalam Proses Penyebaran Islam di Nusantara

Majapahit Menjelang Senja

Menjelang pertengahan abad ke-15, sekitar 1447–1478 M, Majapahit semakin rapuh. Ketika pusat kekuasaan melemah, struktur sosial yang telah berubah itu menjadi penentu arah sejarah.

Islam telah siap. Ia telah membangun komunitas, etika, dan jaringan. Ketika Majapahit runtuh, Islam tidak perlu merebut apa pun. Ia hanya mengisi ruang kosong.

Penutup: Catatan yang Tak Bisa Diabaikan

Perutusan Tiongkok tidak bermaksud menulis sejarah Islam Jawa. Namun tanpa sadar, mereka merekam momen krusial perubahan peradaban.
Bahwa pada awal abad ke-15:

Orang Islam dikenal bersih dan tertib
Orang Tiongkok banyak yang Muslim dan menjadi jembatan budaya
Masyarakat non-Islam masih hidup dalam tradisi lama

Dan Islam telah cukup dekat dengan istana Majapahit
Sejarah besar sering lahir bukan dari perang, tetapi dari perubahan cara hidup. Dan di Jawa akhir Majapahit, perubahan itu bernama Islam. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *