DI dalam Qur’an, perintah puasa tidak datang dalam bentuk yang kaku dan menekan. Ia hadir bersama penjelasan, hikmah, dan juga keringanan. Semua itu terangkum dalam tiga ayat yang sangat dikenal dalam Surah Al-Baqarah ayat 183–185.
Menariknya, para ulama sering memperhatikan susunan ayat tersebut.
Ayat 183 memuat perintah puasa dan tujuan besarnya: agar manusia mencapai takwa.
Ayat 184 menyebutkan rukhshah, yaitu keringanan bagi orang sakit dan musafir untuk mengganti puasa di hari lain.
Ayat 185 kembali menegaskan kewajiban puasa Ramadhan sekaligus mengulang rukhshah tersebut.
Dalam tiga ayat itu, kata-kata yang berkaitan dengan puasa muncul beberapa kali, tetapi penjelasan tentang keringanan juga diulang. Bahkan Al-Qur’an menegaskan dengan kalimat yang sangat lembut: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
Seolah-olah Allah ingin menenangkan manusia sejak awal.
Puasa memang kewajiban, tetapi ia bukan beban yang mematahkan manusia.

Di sinilah kita belajar sesuatu yang sangat penting tentang cara Al-Qur’an membangun manusia.
Ketika sebuah generasi mengalami kerusakan moral, naluri sebagian orang sering berkata: perketat hukum. Perbanyak larangan. Persempit ruang gerak manusia.
Namun Al-Qur’an justru menunjukkan pendekatan yang berbeda.
Ia memperbaiki hati terlebih dahulu.
Karena kerusakan manusia jarang bermula dari lemahnya aturan. Kerusakan biasanya bermula dari kosongnya jiwa—dari hilangnya rasa takwa di dalam hati.
Jika hati sudah rusak, seketat apa pun aturan dibuat, manusia tetap akan mencari jalan untuk melanggarnya.
Sebaliknya, jika takwa telah hidup di dalam hati, manusia justru akan menjaga dirinya meskipun tidak ada yang mengawasi.
Di sinilah letak perbedaan antara ibadah dan muamalah.
Dalam urusan muamalah—seperti hukum sosial, ekonomi, atau pidana—aturan memang sering diperketat untuk menjaga ketertiban masyarakat. Ia bekerja seperti pagar yang mencegah kerusakan.
Namun ibadah memiliki sifat yang berbeda.
Ibadah adalah pertemuan antara hamba dan Rabb-nya. Nilainya tidak hanya terletak pada gerakan lahiriah, tetapi pada keikhlasan hati. Jika hati tidak hidup, maka bentuk lahiriah ibadah sering kehilangan maknanya.
Karena itu, dalam ibadah seperti puasa, Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan, tetapi juga memberi rukhshah.
Rukhshah adalah keringanan yang diberikan Allah dalam kondisi tertentu. Orang sakit boleh tidak berpuasa. Musafir boleh berbuka dan menggantinya di hari lain. Bahkan orang yang tidak mampu secara permanen diberi jalan fidyah.
Semua itu bukan kelemahan hukum, tetapi bagian dari kebijaksanaan ilahi.
Ketika seseorang memiliki takwa di hatinya, ia tidak akan menyalahgunakan rukhshah. Ia hanya mengambilnya ketika memang dibutuhkan, dan bahkan merasakannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
Karena menerima rukhshah dalam kondisi yang tepat juga merupakan bagian dari taat kepada-Nya.
Sebaliknya, jika manusia mencoba memperketat semua hukum ibadah dan mempersempit rukhshah yang telah diberikan oleh nash, yang lahir sering kali justru kesulitan dan kegelisahan. Sebagian orang yang lemah akan merasa terbebani, sementara mereka yang memang suka mencari celah tetap saja tidak berubah.
BACA JUGA: Ramadhan: Bulan Iman dan Imun
Di sinilah kita diingatkan pada satu hal yang sederhana namun mendalam:
Allah lebih mengetahui keadaan manusia daripada manusia sendiri.
Dia yang menurunkan syariat. Dia yang mengetahui kelemahan hamba-Nya. Dan Dia pula yang mengetahui kemaslahatan yang tersembunyi di balik setiap keringanan.
Maka mungkin sikap yang paling bijak adalah ini:
Menjalankan agama sebagaimana yang dikehendaki Allah—
tidak menambah beratnya,
tidak pula meremehkan kemudahannya. []
Sumber: Sayid Qutb, Tafsir Fizilalil Qur’an, GIP, 2000
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


