Puasa untuk Allah, tetapi Manusia Tidak Dilupakan

4 Min Read
Foto: Freepik

PUASA adalah ibadah yang sangat personal. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman bahwa puasa itu untuk-Nya, dan Dia sendiri yang akan memberi balasannya. Seakan-akan puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya.

Namun menariknya, dalam praktik yang diajarkan Rasulullah ﷺ, puasa justru sangat memperhatikan manusia.

Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan berbuka.

Riwayat dari Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ selalu berbuka terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat Magrib, meskipun hanya dengan beberapa butir kurma atau seteguk air. Beliau tidak memanjangkan penantian. Begitu matahari tenggelam, puasa disegerakan untuk diakhiri.

Seolah-olah ada pesan halus di sana: jangan mempersulit manusia dalam ibadahnya.

Ibadah tetap dijaga, tetapi kebutuhan manusia juga dihargai.

Hal yang sama terlihat dalam sahur. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan sahur terlalu dini. Justru sahur dianjurkan mendekati fajar. Dalam riwayat Zaid bin Tsabit, ia pernah bersahur bersama Rasulullah ﷺ, lalu mereka bangkit untuk shalat Subuh dengan jarak waktu kira-kira sepanjang bacaan lima puluh ayat Al-Qur’an.

Tidak terlalu lama.

Tidak memberatkan.

Puasa tetap terlaksana, tetapi manusia tetap dimudahkan.

Dan kemudahan itu tidak berhenti di sana.

Islam memahami bahwa manusia hidup dalam berbagai keadaan. Ada yang sehat, ada yang sakit. Ada yang tinggal di rumah, ada yang sedang menempuh perjalanan jauh. Ada pula perempuan yang sedang hamil atau menyusui, serta orang tua yang tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan lapar.

Apakah mereka dipaksa untuk tetap berpuasa?

Tidak.

Al-Qur’an memberikan jalan keluar yang penuh kasih. Orang yang sakit atau dalam perjalanan diperbolehkan untuk tidak berpuasa, lalu menggantinya pada hari lain. Kemudahan ini menunjukkan bahwa ibadah tidak dimaksudkan untuk menyiksa manusia.

https://s.shopee.co.id/2Vlfst3K1Z

Demikian pula bagi perempuan hamil atau menyusui yang khawatir terhadap kondisi dirinya atau bayinya. Mereka diberi keringanan untuk menunda puasa.

Bagi orang tua yang sudah sangat lemah dan tidak lagi mampu berpuasa, ada jalan lain: fidyah. Mereka dapat memberi makan kepada orang miskin sebagai pengganti puasa yang tidak mampu mereka lakukan.

Semua ini menunjukkan satu hal penting: Islam tidak memutus hubungan antara ibadah dan kemanusiaan.

Puasa memang untuk Allah. Tetapi Allah tidak menginginkan hamba-Nya tersiksa.

Ibadah dalam Islam selalu berjalan bersama kasih sayang.

BACA JUGA: Rukhshah Puasa: Allah Tidak Menggiring Manusia dengan Rantai agar Taat

Di sinilah kita perlu merenung.

Kadang manusia justru membuat agama terasa lebih berat daripada yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Kita menambah kesulitan, menumpuk aturan, atau memandang orang lain dengan penilaian yang keras.

Padahal Rasulullah ﷺ menunjukkan wajah agama yang berbeda: ibadah yang kuat, tetapi penuh kemudahan.

Beliau mengajarkan untuk menyegerakan berbuka agar manusia tidak terlalu lama menahan lapar. Beliau mengakhirkan sahur agar manusia tetap memiliki kekuatan menjalani hari. Beliau membuka pintu keringanan bagi yang sakit, yang bepergian, yang hamil, yang menyusui, dan yang telah renta.

Seakan-akan beliau ingin mengatakan sesuatu kepada umatnya:

Tuhan memang tujuan ibadahmu.
Tetapi manusia tetap harus dijaga.

Karena agama yang datang dari Allah bukan untuk memberatkan kehidupan, melainkan untuk menuntun manusia menjalaninya dengan lebih lapang, lebih bijaksana, dan lebih penuh kasih. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *