ABU Muslim Al-Khaulani dikenal sebagai sosok yang memiliki keistimewaan (karamah) yang mengingatkan pada kisah Nabi Ibrahim. Umar bin Khattab bahkan pernah mencium keningnya karena kekaguman tersebut. Ketika Aswad bin Ansi—yang mengaku sebagai nabi—membakarnya karena penolakannya, tubuh Abu Muslim tidak terbakar sedikit pun.
Namun, di balik kemuliaan itu, kehidupan sehari-harinya dipenuhi kesederhanaan dan ujian.
Suatu hari, istrinya berkata, “Wahai suamiku, kita tidak memiliki tepung.”
Abu Muslim bertanya, “Apakah engkau memiliki sesuatu?”
Istrinya menjawab, “Ada satu dirham dari hasil tenunan.”
Abu Muslim berkata, “Berikan itu kepadaku.” Ia pun mengambil sebuah keranjang dan pergi ke pasar.
Di tengah perjalanan, seorang pengemis mengikutinya sambil berkata, “Wahai Abu Muslim, bersedekahlah.”
Tanpa ragu, Abu Muslim memberikan satu-satunya dirham itu kepada pengemis tersebut. Ia pun pulang dengan keranjang kosong.
Karena khawatir kepada istrinya, ia meletakkan keranjang di depan pintu lalu pergi sejenak. Namun, ketika istrinya membuka keranjang itu, ternyata isinya telah penuh dengan tepung. Ia pun segera membuat roti.
Pada malam hari, Abu Muslim pulang dan mengetuk pintu. Setelah masuk, ia melihat hidangan roti telah tersedia. Ia bertanya, “Dari mana engkau mendapatkan ini?”
Istrinya menjawab, “Dari tepung yang engkau bawa.”
Mendengar itu, Abu Muslim pun makan sambil menangis, sementara istrinya memandang dengan penuh keheranan.
BACA JUGA: Masruq bin al-Ajda’: Halus terhadap Manusia, Keras terhadap Hawa Nafsunya
Kehidupan Abu Muslim memang diliputi keterbatasan. Bahkan, keledainya enggan berjalan jika ia tunggangi, namun mau berjalan jika ditunggangi orang lain. Dalam kondisi seperti itu, ia pernah bermimpi mendengar suara yang berkata:
“Janganlah engkau bersedih atas sempitnya dunia yang diberikan kepadamu, karena Allah melakukan itu hanya kepada para kekasih-Nya.”
Mendengar itu, hatinya pun dipenuhi kegembiraan.
Kisah ini menunjukkan bahwa di balik kesempitan hidup, tersimpan kedekatan yang istimewa dengan Allah—sebuah kemuliaan yang tidak selalu tampak dalam ukuran dunia. []
Sumber: Ibnul Jauzy, Shifatush Shafwah, Pustaka Azzam, 2015
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

