SUATU sore yang tenang, seorang lelaki datang menemui Buya Hamka dengan wajah penuh heran.
Matanya menyimpan kegelisahan yang belum selesai.
Ia baru saja pulang dari Tanah Suci Makkah.
Namun, bukan kisah tentang air mata di depan Ka’bah yang ia ceritakan. Bukan pula tentang doa-doa yang menggantung di langit malam.
Dengan nada kecewa,
ia berkata bahwa di kota sesuci itu,
ia masih menemukan pelacur.
Ruangan itu hening sejenak.
Lalu Buya Hamka tersenyum tipis.
Senyum yang tidak menghakimi, tetapi mengandung makna yang dalam.
Dengan suara lembut, beliau berkata
bahwa dirinya juga baru kembali dari Amerika,
tepatnya dari Los Angeles dan New York.
Namun anehnya, beliau tidak melihat satu pun pelacur di sana.
Lelaki itu tertegun. Dahinya berkerut. Ia sulit percaya dengan jawaban tersebut.
“Mana mungkin, Buya?” katanya cepat.
“Di Makkah saja ada, apalagi di Amerika yang terkenal dengan kebebasannya.”
Buya Hamka memandangnya pelan.
Tatapannya teduh seperti seorang ayah yang sedang menuntun anaknya memahami hidup.
Lalu beliau berkata, “Kita
memang hanya akan dipertemukan dengan apa yang kita cari.”
Kalimat itu jatuh perlahan,
tetapi menghunjam jauh ke dalam hati.
BACA JUGA: Terlena, Puisi Renungan dari Buya Hamka
Kadang manusia sibuk menyalahkan tempat, padahal yang paling menentukan adalah isi hatinya sendiri.
Sebab hati yang mencari cahaya akan sibuk melihat kebaikan. Sedangkan hati yang dipenuhi prasangka dan keburukan, akan selalu menemukan alasan untuk membenarkan gelap.
Makkah tetaplah suci.
Amerika tetaplah sebuah negeri.
Namun manusia membawa matanya sendiri, membawa niatnya sendiri,
dan membawa
arah pencariannya sendiri. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
