DI tengah kesibukan pagi hari, ada satu amalan sunnah yang sering terlupakan oleh banyak orang, padahal keutamaannya sangat besar. Amalan itu adalah Shalat Syuruq. Sebagian orang mengenalnya sebagai shalat setelah matahari terbit, sementara sebagian lain menganggapnya bagian dari Shalat Dhuha. Lalu sebenarnya apa itu Shalat Syuruq?
Secara bahasa, “syuruq” berarti terbitnya matahari. Adapun Shalat Syuruq adalah shalat sunnah yang dikerjakan setelah matahari terbit dan naik setinggi tombak, kira-kira sekitar 10–15 menit setelah waktu terbit matahari berakhir.
Shalat ini biasanya dikerjakan sebanyak dua rakaat. Banyak ulama menjelaskan bahwa Shalat Syuruq pada hakikatnya masih termasuk bagian dari Shalat Dhuha, hanya saja ia dilakukan di awal waktu Dhuha.
Karena itu, sebagian ulama tidak membedakan antara Shalat Syuruq dan Shalat Dhuha. Yang membedakan hanyalah waktu pelaksanaannya. Jika dilakukan di awal waktu setelah matahari terbit, maka sering disebut Syuruq. Jika dilakukan lebih siang, maka disebut Dhuha.
Waktu Pelaksanaan Shalat Syuruq
Waktu Shalat Syuruq dimulai ketika matahari telah terbit sempurna dan naik kira-kira setinggi tombak. Dalam hitungan waktu modern, biasanya sekitar 10 hingga 15 menit setelah waktu matahari terbit.
BACA JUGA: Kapan Shalat Qashar dan Jamak Dilakukan?
Misalnya, jika matahari terbit pukul 05.50 pagi, maka Shalat Syuruq bisa dilakukan sekitar pukul 06.05 atau 06.10.
Kenapa harus menunggu?
Karena ada larangan shalat tepat ketika matahari sedang terbit. Rasulullah ﷺ melarang shalat pada beberapa waktu tertentu, salah satunya ketika matahari baru mulai terbit. Setelah matahari naik sedikit, barulah shalat sunnah diperbolehkan kembali.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalatlah kalian setelah matahari terbit hingga matahari meninggi.” (HR. Muslim)
Maka, penting bagi seorang Muslim untuk memperhatikan waktu ini agar ibadahnya sesuai tuntunan syariat.
Keutamaan Shalat Syuruq
Salah satu sebab banyak orang tertarik mengerjakan Shalat Syuruq adalah karena besarnya pahala yang disebutkan dalam hadis.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu ia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah.”
Beliau berkata: “Sempurna, sempurna, sempurna.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini membuat banyak ulama salaf sangat menjaga amalan setelah Subuh. Mereka tidak terburu-buru meninggalkan masjid. Mereka duduk berzikir, membaca Al-Qur’an, berdzikir pagi, lalu menutupnya dengan dua rakaat Syuruq.
Tentu para ulama menjelaskan bahwa pahala tersebut bukan berarti menggugurkan kewajiban haji. Namun ini menunjukkan betapa besar kemuliaan amalan tersebut di sisi Allah.
Bayangkan, hanya dengan duduk berzikir setelah Subuh lalu mengerjakan dua rakaat, seseorang diberi pahala yang sangat agung. Ini menunjukkan bahwa Allah membuka banyak pintu kebaikan yang kadang dianggap ringan oleh manusia.
Apakah Harus Dilakukan di Masjid?
Banyak orang bertanya, apakah Shalat Syuruq harus dilakukan di masjid?
Jawabannya, tidak harus. Seseorang tetap boleh mengerjakan Shalat Syuruq di rumah. Namun, hadis tentang pahala seperti haji dan umrah berkaitan dengan orang yang shalat Subuh berjamaah lalu tetap berada di tempat ibadahnya hingga matahari terbit.
Karena itu, jika memungkinkan, amalan ini sangat baik dilakukan di masjid bagi laki-laki yang memang diwajibkan shalat berjamaah.
Adapun bagi wanita, rumah mereka adalah tempat ibadah terbaik bagi mereka. Seorang wanita juga bisa mendapatkan keutamaan besar dengan tetap berdzikir di rumah setelah Subuh, lalu melaksanakan dua rakaat setelah matahari terbit.
Yang terpenting bukan sekadar tempatnya, tetapi konsistensi ibadahnya. Banyak orang semangat di awal, tetapi sulit istiqamah. Padahal amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus dilakukan walaupun sedikit.
BACA JUGA: Awal Shalat Dhuha, Kapankah Itu?
Perbedaan Syuruq dan Dhuha
Sebagian orang bingung membedakan antara Shalat Syuruq dan Shalat Dhuha. Sebenarnya keduanya sangat dekat.
Shalat Syuruq dilakukan di awal waktu Dhuha, yakni setelah matahari terbit dan meninggi sedikit. Sedangkan Shalat Dhuha bisa dilakukan hingga menjelang waktu Zuhur.

Jumlah rakaat Dhuha juga lebih banyak. Minimal dua rakaat dan maksimal menurut sebagian ulama delapan atau dua belas rakaat.
Jadi, jika seseorang mengerjakan dua rakaat setelah matahari terbit, itu bisa disebut Syuruq sekaligus Dhuha.
Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan bahwa Shalat Syuruq termasuk bagian dari Shalat Dhuha. Hanya saja masyarakat kemudian memberi nama khusus karena waktunya yang berada di awal pagi.
Penutup
Shalat Syuruq adalah amalan ringan tetapi memiliki pahala yang sangat besar. Ia mengajarkan seorang Muslim untuk memulai hari dengan dzikir, ketenangan, dan kedekatan kepada Allah.
Di saat banyak orang sibuk mengejar dunia sejak pagi, seorang hamba yang menjaga Syuruq seakan sedang berkata bahwa hatinya lebih dulu bergantung kepada Allah sebelum menghadapi urusan dunia.
Dua rakaat ini mungkin terlihat sederhana. Namun bisa jadi justru amalan kecil yang istiqamah inilah yang menjadi sebab datangnya keberkahan hidup, ketenangan hati, dan pertolongan Allah dalam urusan sehari-hari.
Karena itu, jika selama ini kita sering melewatkannya, cobalah mulai perlahan. Tidak perlu langsung sempurna. Mulailah dari satu pagi, lalu satu pagi berikutnya. Sebab jalan menuju istiqamah memang dibangun dari langkah-langkah kecil yang terus dijaga. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


