KETIKA usia suami istri baru sekitar 40 tahun tetapi sudah lama tidak melakukan jima, sebagian pasangan mungkin mulai bertanya-tanya, apakah kondisi tersebut normal? Ada pasangan yang merasa gairah seksual menurun, ada yang terlalu sibuk bekerja, ada pula yang mulai mengalami masalah kesehatan atau konflik dalam rumah tangga. Tidak sedikit juga yang memilih diam karena menganggap membicarakan hubungan intim adalah sesuatu yang memalukan.
Padahal, hubungan intim merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan rumah tangga. Dalam Islam, hubungan suami istri bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan biologis, tetapi juga dapat menjadi bentuk kasih sayang dan ibadah apabila dilakukan dengan cara yang halal. Karena itu, persoalan ketika suami istri tidak lagi berhubungan intim sebaiknya tidak langsung dianggap sepele.
BACA JUGA: Sudah Usia 40 Tahun tapi Tidak Pernah Shalat 5 Waktu, Bagaimana?
Usia 40 tahun sendiri bukan berarti seseorang otomatis kehilangan gairah seksual. Banyak pria dan wanita pada usia tersebut masih memiliki kehidupan seksual yang baik. Jadi, jika pasangan berhenti melakukan jima dalam waktu lama, sebaiknya dicari tahu penyebabnya daripada langsung menyimpulkan bahwa usia adalah penyebab utama.
Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi keinginan berhubungan intim. Pada suami, misalnya, stres pekerjaan, kurang tidur, kelelahan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, masalah berat badan, atau gangguan kesehatan tertentu dapat memengaruhi gairah dan fungsi seksual. Kondisi psikologis seperti kecemasan dan tekanan hidup juga dapat berpengaruh besar.
Pada istri, perubahan hormon, kelelahan mengurus rumah dan anak, stres, rasa tidak percaya diri terhadap tubuh, pengalaman seksual yang kurang menyenangkan, atau masalah emosional dengan suami juga dapat membuat keinginan untuk berhubungan intim menurun. Karena itu, jangan langsung menyalahkan salah satu pihak.
Masalah rumah tangga juga sering menjadi penyebab yang tidak terlihat. Ketika suami dan istri sering bertengkar, saling menyimpan sakit hati, atau sudah tidak merasa dekat secara emosional, keinginan untuk melakukan hubungan intim bisa ikut menurun. Bagi sebagian orang, kedekatan emosional sangat berpengaruh terhadap munculnya keinginan seksual.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Kenapa kamu tidak mau jima?” tetapi tanyakan juga, “Apakah ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman dalam hubungan kita?” Pertanyaan seperti ini dapat membuka ruang komunikasi yang lebih sehat daripada saling menuduh.
Jika masalahnya adalah suami yang kehilangan gairah atau mengalami kesulitan ereksi, jangan langsung menganggap dirinya sudah tidak mencintai istri. Gangguan seksual dapat memiliki berbagai penyebab dan dalam banyak kasus dapat ditangani. Pemeriksaan kepada dokter dapat membantu mengetahui apakah ada masalah kesehatan yang mendasarinya.
Begitu juga jika istri mengalami nyeri saat berhubungan, kekeringan, atau keluhan lain yang membuat hubungan intim terasa tidak nyaman. Jangan dipendam bertahun-tahun. Konsultasi dengan tenaga medis yang kompeten dapat membantu mencari penyebab dan pilihan penanganannya.
Dari sisi agama, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban dalam kehidupan rumah tangga, termasuk dalam memenuhi kebutuhan biologis secara ma’ruf. Karena itu, tidak semestinya salah satu pihak sengaja mengabaikan kebutuhan pasangannya tanpa alasan yang dibenarkan. Namun, persoalan hubungan intim juga harus dibicarakan dengan kasih sayang dan mempertimbangkan kondisi masing-masing.
Jika salah satu pasangan sedang sakit, mengalami tekanan berat, atau memiliki masalah seksual tertentu, pendekatannya tentu berbeda dengan seseorang yang sengaja menolak pasangannya tanpa alasan. Jangan terburu-buru mengeluarkan tuduhan atau mengambil kesimpulan hukum hanya berdasarkan cerita singkat.
Hal lain yang sering menjadi masalah adalah pasangan yang merasa malu membicarakan seks. Akibatnya, mereka memilih diam. Bertahun-tahun berlalu, hubungan semakin renggang, dan akhirnya masing-masing mencari pelarian di luar rumah.
Ini justru sangat berbahaya. Ketika kebutuhan emosional atau biologis tidak dibicarakan, seseorang bisa tergoda mencari perhatian dari orang lain. Karena itu, menjaga komunikasi dalam rumah tangga bukan hanya penting untuk keharmonisan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga diri dari perselingkuhan dan perbuatan yang diharamkan.
Namun, hubungan intim juga bukan satu-satunya ukuran keberhasilan rumah tangga. Suami istri perlu membangun kembali kedekatan melalui hal-hal sederhana. Makan bersama, berbicara tanpa memainkan ponsel, saling membantu pekerjaan rumah, memberikan perhatian, dan menunjukkan kasih sayang dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan.
Jangan pula menjadikan jima sebagai kewajiban yang dilakukan dengan paksaan. Hubungan suami istri harus berlangsung dengan cara yang baik, saling menghormati, dan memperhatikan kondisi pasangan. Memaksa pasangan dalam hubungan intim bukanlah cara yang sehat untuk menyelesaikan masalah.
Jika masalah sudah berlangsung lama, komunikasi antara suami dan istri tidak berhasil, atau terdapat konflik berat yang terus berulang, mencari bantuan dari konselor pernikahan atau tenaga profesional dapat menjadi pilihan. Jika persoalannya berkaitan dengan hukum agama, pasangan juga dapat berkonsultasi dengan ustaz atau ahli fikih yang terpercaya.
Yang penting, jangan menunggu sampai hubungan benar-benar rusak baru mulai mencari solusi. Semakin lama masalah dibiarkan, biasanya semakin sulit membangun kembali kedekatan. Terutama jika sudah muncul rasa tidak peduli, kebencian, atau keterlibatan dengan orang ketiga.
Jadi, suami istri usia 40 tahun yang tidak lagi jima tidak otomatis berarti ada sesuatu yang sangat buruk. Namun, jika kondisi tersebut berlangsung lama dan salah satu atau kedua pasangan merasa terganggu, itu adalah tanda bahwa ada persoalan yang perlu diperhatikan.
Cari penyebabnya dengan tenang. Perbaiki komunikasi, evaluasi kondisi kesehatan, dan jangan malu mencari bantuan profesional jika diperlukan. Jangan pula menjadikan usia 40 tahun sebagai alasan untuk menyerah terhadap kehidupan rumah tangga.
Empat puluh tahun bukan akhir dari kehidupan suami istri. Justru pada usia ini, pasangan seharusnya semakin matang dalam memahami kebutuhan satu sama lain. Hubungan yang sehat bukan hanya tentang seberapa sering melakukan jima, tetapi tentang bagaimana suami dan istri tetap saling mencintai, menghormati, menjaga kehormatan, dan memenuhi hak masing-masing dengan cara yang baik.
BACA JUGA: Usia 40 Tahun Masih Belum Punya Anak, Bagaimana Menyikapinya?
Jika sudah lama tidak jima, jangan hanya bertanya, “Apakah ini normal?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa penyebabnya, apakah kami berdua terganggu dengan kondisi ini, dan apa yang bisa kami lakukan untuk memperbaikinya?”
Sebab masalah rumah tangga yang dibicarakan dengan jujur masih memiliki peluang untuk diperbaiki. Sebaliknya, masalah yang terus disembunyikan sering kali justru tumbuh menjadi jarak yang semakin sulit dijembatani. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

