PERTANYAAN seperti ini cukup sering muncul dalam rumah tangga. “Suami saya gajinya masih di bawah UMR. Apakah saya wajib tetap menaati suami?”
Jawabannya: ketaatan kepada suami tidak ditentukan oleh tinggi atau rendahnya gaji. Namun, ketaatan dalam Islam juga bukan ketaatan mutlak dalam segala hal.
Ada kewajiban suami dan ada pula kewajiban istri yang harus dipahami secara adil.
1. Gaji Suami Bukan Ukuran Ketaatan Istri
Seorang suami tidak harus memiliki gaji di atas UMR terlebih dahulu agar istrinya wajib menghormatinya.
Jika suami bekerja dengan halal, berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, dan menjalankan kewajibannya sesuai kemampuannya, maka rendahnya penghasilan tidak otomatis menjadi alasan bagi istri untuk menolak ketaatan.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا
“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. At-Talaq: 7)
Karena itu, jangan menjadikan angka gaji sebagai ukuran harga diri seorang suami.
BACA JUGA: Apakah Banyak Pejabat Korupsi karena Gaya Hidup Hedon Istri?
2. Suami Tetap Memiliki Kewajiban Memberi Nafkah
Namun, jangan pula dipahami bahwa karena gaji suami kecil, ia bebas dari kewajiban menafkahi keluarganya.
Suami tetap memiliki kewajiban memberikan nafkah sesuai kemampuannya.
Allah berfirman:
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. At-Talaq: 7)
Jadi, suami yang berpenghasilan kecil tetap harus berusaha memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sesuai kemampuan.
3. Tidak Harus Sama dengan Standar UMR
UMR adalah standar upah dalam konteks ketenagakerjaan.
Sementara kewajiban nafkah dalam rumah tangga memiliki pembahasan tersendiri dalam fikih.
Besarnya nafkah berkaitan dengan kemampuan suami dan kebutuhan yang wajar menurut keadaan keluarga serta kebiasaan setempat.
Jadi, “gaji di bawah UMR” tidak otomatis berarti “suami tidak memberi nafkah.”
Misalnya, seorang suami berpenghasilan terbatas tetapi bersungguh-sungguh memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, pakaian, dan kebutuhan pokok keluarganya sesuai kemampuannya.
Keadaannya berbeda dengan suami yang sebenarnya mampu tetapi sengaja tidak mau menafkahi keluarganya.
4. Kalau Suami Memang Tidak Mampu, Bagaimana?
Di sinilah istri perlu membedakan antara suami yang tidak mampu dan suami yang tidak mau berusaha.
Suami yang sudah berusaha mencari nafkah tetapi penghasilannya masih kecil tidak selayaknya dihina atau direndahkan hanya karena pendapatannya.
Rumah tangga adalah kerja sama.
Hari ini mungkin suami sedang berada dalam kondisi sulit.
Bisa jadi beberapa tahun kemudian Allah memberikan kelapangan.
Yang dibutuhkan adalah saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
5. Tetapi Suami Juga Tidak Boleh Bermalas-malasan
Sebaliknya, suami tidak boleh menjadikan “rezeki sudah diatur Allah” sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
Jika ia sehat dan memiliki kemampuan bekerja, tetapi sengaja tidak mau berusaha sementara kebutuhan keluarganya terbengkalai, maka persoalannya bukan lagi sekadar gaji kecil.
Ia harus melakukan ikhtiar.
Nafkah adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan sesuai kemampuan.
6. Ketaatan Istri Ada Batasnya
Ketaatan istri kepada suami berlaku dalam perkara yang ma’ruf, yaitu perkara yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, apabila suami memerintahkan sesuatu yang haram atau zalim, istri tidak boleh menaatinya.
Begitu pula, persoalan ketaatan tidak boleh digunakan sebagai alat untuk melakukan kezaliman dalam rumah tangga.
7. Jangan Menghina Suami karena Penghasilannya
Kalimat seperti:
“Gaji kamu saja segitu.”
“Suami orang lain bisa memberikan ini dan itu.”
“Kok jadi suami tidak mampu?”
Jika terus-menerus diucapkan, bisa menghancurkan harga diri dan keharmonisan rumah tangga.
Istri boleh menyampaikan kebutuhan.
Istri boleh berdiskusi mengenai keuangan.
Istri boleh mengajak suami mencari solusi.
Tetapi menjatuhkan martabat suami bukanlah jalan keluarnya.
8. Bagaimana Jika Kebutuhan Keluarga Tidak Tercukupi?
Ini perlu dibicarakan dengan kepala dingin.
Duduk bersama.
Hitung pemasukan.
Susun kebutuhan berdasarkan prioritas.
Kurangi pengeluaran yang tidak penting.
Cari peluang tambahan yang halal.
Jika masalah semakin berat, libatkan orang yang bijaksana dari kedua keluarga atau pihak yang dipercaya untuk membantu mencari jalan keluar.
Jangan menjadikan konflik ekonomi sebagai alasan untuk saling menyakiti.

9. Istri Boleh Membantu Suami
Jika istri memiliki penghasilan dan ingin membantu kebutuhan keluarga, hal tersebut bisa menjadi bentuk kerja sama dan kebaikan.
Namun, jangan sampai bantuan tersebut kemudian dijadikan senjata untuk merendahkan suami:
“Kalau bukan karena uang saya, keluarga ini tidak jalan.”
Jika dilakukan dengan ikhlas, bantuan justru bisa menjadi amal yang bernilai di sisi Allah.
10. Ukur Rumah Tangga dengan Takwa, Bukan Semata-Mata Gaji
Rumah tangga tidak selalu menjadi bahagia karena memiliki penghasilan besar.
Ada keluarga yang penghasilannya sederhana tetapi penuh ketenangan.
Ada pula keluarga yang penghasilannya berlimpah tetapi selalu dipenuhi pertengkaran.
Kekayaan memang penting untuk memenuhi kebutuhan.
Tetapi akhlak, tanggung jawab, kasih sayang, komunikasi, dan ketakwaan jauh lebih menentukan keberkahan rumah tangga.
BACA JUGA: Sehatkah Suami Istri Usia 50 Tahun Masih Aktif Jima?
Jadi, Apa Hukumnya?
Istri tidak boleh menjadikan gaji suami yang di bawah UMR sebagai alasan otomatis untuk tidak menaati suami dalam perkara yang ma’ruf.
Namun, suami juga tidak boleh mengabaikan kewajibannya memberi nafkah dengan alasan penghasilannya kecil.
Jika memang tidak mampu, ia wajib berusaha sesuai kemampuannya.
Jika istri merasa kebutuhan pokok tidak terpenuhi, persoalannya perlu dibicarakan dan diselesaikan dengan cara yang baik.
Jangan ukur kemuliaan suami hanya dari slip gajinya.
Bisa jadi penghasilannya sederhana, tetapi ia bekerja keras setiap hari demi keluarganya.
Dan jangan pula gunakan agama untuk membenarkan suami yang malas atau menelantarkan kewajibannya.
Suami bertanggung jawab.
Istri menghormati.
Keduanya saling membantu.
Dan keduanya sama-sama takut kepada Allah.
Sebab, rumah tangga yang baik bukan rumah tangga tanpa kesulitan.
Tetapi rumah tangga yang ketika kesulitan datang, keduanya memilih saling menguatkan, bukan saling meninggalkan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

