PERNAHKAH kita mendengar kalimat:
“Kalau sampai usia 40 tahun belum kaya, berarti selamanya tidak akan kaya?”
Kalimat seperti ini terdengar meyakinkan.
Tetapi benarkah Islam mengajarkan demikian?
Tidak.
Dalam Islam, usia bukanlah batas datangnya rezeki.
Nabi ﷺ justru mengajarkan bahwa manusia tidak pernah tahu dari mana dan kapan rezekinya datang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا… ثُمَّ يُؤْمَرُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ… وَرِزْقِهِ
Inna ahadakum yujma‘u khalquhu fī baṭni ummihi arba‘īna yauman… tsumma yu’maru al-malaku fa yan fukhu fīhi ar-rūḥa, wa yu’maru bi arba‘i kalimātin… wa rizqihi
“Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari… kemudian diperintahkan kepada malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya, dan ditetapkan rezekinya…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan.
Rezeki kita sudah ditulis sebelum kita lahir.
Maka jangan mengira bahwa usia 40 tahun adalah “deadline” kekayaan.
Ada orang yang kaya sejak muda.
Ada yang baru mendapatkan kelapangan setelah usia 40.
Ada yang setelah 50.
Bahkan ada yang tidak pernah menjadi kaya secara materi sampai meninggal dunia.
Namun ia meninggal dalam keadaan kaya hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Laisal-ghinaa ‘an katsratil-‘aradhi, wa laakinnal-ghinaa ghinan-nafsi.”
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah yang sering kita lupakan.
Kita mengukur keberhasilan dari saldo rekening.
Dari rumah.
Dari kendaraan.
Dari jabatan.
Padahal bisa jadi seseorang memiliki sedikit harta, tetapi hatinya tenang.
Ia tidak tamak.
Tidak meminta-minta kepada manusia.
Tidak iri melihat rezeki orang lain.
Dan selalu merasa cukup dengan pemberian Allah.
Itulah kekayaan yang sesungguhnya.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa kekayaan hati adalah seseorang merasa cukup dengan Allah, tidak bergantung kepada selain-Nya, dan tidak diperbudak oleh keinginan-keinginannya.
Maka kalau hari ini usia kita sudah 40 tahun, jangan berkata:
“Saya sudah terlambat.”
Jangan pula berkata:
“Kesempatan saya sudah habis.”
Selama napas masih ada, pintu ikhtiar masih terbuka.
Berusaha.
Belajar.
Bekerja.
Membangun usaha.
Memperbaiki keterampilan.
Menghindari yang haram.
Dan yang paling penting…
meminta pertolongan kepada Allah.
Sebab rezeki bukan hanya soal seberapa keras kita bekerja.
Rezeki juga tentang keberkahan.
Bisa jadi harta kita sedikit, tetapi cukup.
BACA JUGA: Usia 40 Tahun, Rentan Kena Penyakit-Penyakit Ini?
Bisa jadi penghasilan kita sederhana, tetapi membawa ketenangan.
Dan bisa jadi Allah tidak memberikan kekayaan yang kita minta, karena Allah sedang memberikan sesuatu yang jauh lebih kita butuhkan.
Jadi…
usia 40 bukan akhir dari perjalanan.
Usia 40 justru bisa menjadi saat seseorang semakin matang memahami bahwa dunia bukan tujuan akhir.
Kalau Allah memberikan kekayaan, gunakan untuk taat.
Kalau Allah memberikan kecukupan, syukuri.
Kalau Allah belum memberikan kelapangan, jangan berputus asa.
Karena tugas kita bukan memastikan kapan menjadi kaya.
Tugas kita adalah memastikan, dalam keadaan kaya ataupun miskin, kita tetap menjadi hamba Allah yang taat.
Sebab pada akhirnya…
yang akan kita bawa ke dalam kubur bukan banyaknya harta, tetapi amal yang kita kerjakan dengannya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


