Benarkah di Kampung Anak Laki-Laki Lebih Disayang daripada Anak Perempuan?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Islampos AI

PERNAH mendengar anggapan bahwa di kampung, anak laki-laki biasanya lebih disayang daripada anak perempuan?

Ada keluarga yang terlihat begitu bangga ketika memiliki anak laki-laki. Ketika anak laki-laki lahir, kabar kelahirannya disambut dengan sukacita besar. Sementara ketika mendapatkan anak perempuan, kebahagiaan tetap ada, tetapi terkadang tidak ditunjukkan dengan cara yang sama.

Di beberapa keluarga, anak laki-laki juga dianggap sebagai calon penerus keluarga. Nama keluarga diharapkan terus dibawa, orang tua merasa akan memiliki seseorang yang kelak menjaga mereka, bahkan ada anggapan bahwa anak laki-lakilah yang akan menjadi “tulang punggung” keluarga.

Sebaliknya, anak perempuan terkadang dianggap nantinya akan ikut suami dan meninggalkan rumah.

Tetapi benarkah anak laki-laki memang lebih disayang daripada anak perempuan?

Jawabannya tentu tidak bisa digeneralisasi. Tidak semua keluarga di kampung berpikiran demikian. Namun, budaya seperti ini memang masih bisa ditemukan di sebagian masyarakat.

BACA JUGA: Anak Tidak Mau Ngaji Tapi Betah Main Game, Bagaimana?

Anak Laki-Laki Sering Dianggap sebagai Penerus Keluarga

Salah satu alasan mengapa anak laki-laki terkadang mendapatkan perhatian lebih adalah karena ia dianggap sebagai penerus keluarga.

Ada orang tua yang berpikir bahwa anak laki-laki kelak akan meneruskan usaha, mengurus tanah keluarga, menjaga orang tua, atau menjadi tempat bergantung ketika mereka sudah tua.

Pemikiran semacam ini sebenarnya bisa dipahami dari sisi budaya.

Namun, masalah muncul ketika harapan tersebut membuat orang tua memberikan perlakuan yang berbeda secara tidak adil.

Misalnya, anak laki-laki boleh mendapatkan pendidikan tinggi, sedangkan anak perempuan dianggap tidak perlu sekolah terlalu jauh karena pada akhirnya akan menikah.

Anak laki-laki dibelikan kendaraan, sementara anak perempuan diminta menerima apa adanya.

Anak laki-laki dianggap boleh melakukan banyak hal, sedangkan anak perempuan selalu dibatasi.

Jika perbedaan tersebut tidak didasarkan pada kebutuhan dan kondisi yang wajar, lama-kelamaan anak perempuan dapat merasa bahwa dirinya memang tidak sepenting saudara laki-lakinya.

Padahal Anak Perempuan Memiliki Kedudukan yang Mulia

Islam tidak mengajarkan orang tua untuk meremehkan anak perempuan.

Justru Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira kepada orang yang memperlakukan anak perempuan dengan baik.

Dalam berbagai hadis, terdapat keutamaan besar bagi orang tua yang bersabar, mendidik, merawat, dan berbuat baik kepada anak-anak perempuan mereka.

Ini menunjukkan bahwa memiliki anak perempuan bukanlah sebuah kerugian.

Anak perempuan bukan “anak sementara” yang hanya numpang hidup sebelum akhirnya menjadi milik keluarga suaminya.

Ia tetap anak yang memiliki hubungan darah, kasih sayang, hak untuk mendapatkan pendidikan, perhatian, nafkah, perlindungan, dan kasih sayang dari orang tuanya.

Bahkan setelah menikah, hubungan antara anak perempuan dengan orang tuanya tidak otomatis berakhir.

Jangan Menganggap Anak Perempuan Pasti Tidak Bisa Merawat Orang Tua

Ada anggapan bahwa kalau orang tua sudah tua, anak laki-lakilah yang akan merawat mereka.

Padahal kenyataan di masyarakat tidak selalu seperti itu.

Tidak sedikit anak perempuan yang justru paling sering mengunjungi orang tuanya, memasak untuk mereka, menemani ketika sakit, mengurus kebutuhan sehari-hari, bahkan membantu secara finansial.

Sementara ada pula anak laki-laki yang setelah menikah menjadi sibuk dengan keluarganya sendiri dan jarang pulang.

Tentu ini bukan berarti anak perempuan selalu lebih berbakti daripada anak laki-laki.

Intinya, jenis kelamin bukan jaminan seseorang akan menjadi anak yang berbakti.

Yang menentukan adalah pendidikan, akhlak, iman, dan karakter seseorang.

Anak Laki-Laki Juga Tidak Salah karena Disayang

Kita juga harus adil.

Memiliki anak laki-laki bukan sesuatu yang harus dicurigai. Orang tua boleh merasa sangat bahagia dengan kehadiran anak laki-lakinya.

Begitu pula orang tua boleh memiliki harapan agar anak laki-laki kelak menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Yang tidak tepat adalah ketika rasa sayang tersebut berubah menjadi perlakuan tidak adil kepada saudara perempuannya.

Anak laki-laki tidak perlu dikurangi kasih sayangnya hanya agar terlihat “adil”.

Yang perlu dilakukan adalah memastikan anak perempuan juga mendapatkan kasih sayang dan kesempatan yang layak.

https://s.shopee.co.id/BNe5MhdZ4

Jangan Membebani Anak Laki-Laki dengan Harapan Berlebihan

Ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan.

Ketika anak laki-laki dianggap sebagai satu-satunya penerus keluarga, ia bisa mendapatkan beban yang sangat berat.

Sejak kecil ia mungkin sering mendengar:

“Kamu laki-laki, harus kuat.”

“Kamu nanti harus menghidupi keluarga.”

“Kamu yang harus menjaga orang tua.”

“Kamu tidak boleh gagal.”

Kalimat-kalimat tersebut memang bisa membentuk rasa tanggung jawab. Tetapi jika berlebihan, anak laki-laki bisa tumbuh dengan tekanan bahwa dirinya harus selalu berhasil.

Padahal anak laki-laki juga manusia.

Ia bisa gagal, takut, bingung, menangis, dan membutuhkan dukungan.

Karena itu, kasih sayang orang tua seharusnya tidak membuat anak laki-laki merasa bahwa ia hanya dicintai ketika berhasil.

Jangan Pula Menganggap Anak Perempuan Harus Selalu Mengalah

Sebaliknya, anak perempuan juga sering diberi label sebagai anak yang harus mengalah.

“Adikmu laki-laki, biarkan dia.”

“Kamu perempuan, harus lebih mengerti.”

“Jangan melawan kakakmu.”

Jika hal seperti ini terjadi terus-menerus, anak perempuan dapat merasa bahwa dirinya selalu ditempatkan di posisi kedua.

Padahal mengajarkan anak untuk mengalah berbeda dengan menjadikan seorang anak sebagai korban ketidakadilan.

Anak perlu diajarkan untuk saling menghormati, bukan sekadar mengalah karena jenis kelaminnya.

Bagaimana Islam Mengajarkan Orang Tua?

Orang tua harus berusaha berlaku adil kepada anak-anaknya.

Keadilan bukan berarti semua anak harus mendapatkan barang dengan harga yang persis sama dalam setiap keadaan.

Kebutuhan setiap anak bisa berbeda.

Tetapi jangan sampai jenis kelamin menjadi alasan untuk memberikan kasih sayang, pendidikan, penghargaan, atau perhatian secara tidak adil.

Jangan sampai anak laki-laki merasa dirinya adalah “investasi masa depan”, sedangkan anak perempuan dianggap hanya akan menjadi tanggungan.

Begitu pula jangan sampai anak perempuan merasa dirinya tidak diinginkan hanya karena orang tuanya berharap mendapatkan anak laki-laki.

Setiap anak adalah amanah.

Dan amanah tersebut akan dimintai pertanggungjawaban.

Anak yang Paling Berharga Bukan yang Laki-Laki atau Perempuan

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan orang tua bukanlah apakah mereka memiliki anak laki-laki atau perempuan.

Yang lebih penting adalah apakah anak-anak tersebut tumbuh menjadi manusia yang beriman, berakhlak, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi orang lain.

Anak laki-laki yang rajin beribadah tetapi durhaka kepada orang tua tentu bukan kebanggaan.

Begitu pula anak perempuan yang memiliki banyak harta tetapi tidak peduli kepada keluarganya.

Sebaliknya, anak laki-laki maupun perempuan yang baik, menjaga agama, menghormati orang tua, dan peduli kepada keluarganya adalah karunia yang sangat berharga.

Jangan sampai kita terlalu sibuk membanggakan “punya anak laki-laki” sampai lupa mendidiknya.

Dan jangan pula meremehkan anak perempuan hanya karena suatu hari ia akan menikah.

Bisa jadi, anak perempuan yang selama ini dianggap akan “meninggalkan rumah” justru menjadi orang yang paling setia merawat orang tuanya ketika mereka sudah tua.

BACA JUGA: Darurat Moral; Benarkah Banyak Anak SMA Sudah Tidak Perawan?

Benarkah di kampung anak laki-laki lebih disayang daripada anak perempuan?

Tidak bisa dikatakan demikian untuk semua keluarga. Namun, anggapan bahwa anak laki-laki lebih berharga karena dianggap sebagai penerus keluarga memang masih bisa ditemukan dalam sebagian masyarakat.

Dalam Islam, anak laki-laki dan anak perempuan sama-sama merupakan amanah dari Allah.

Keduanya berhak mendapatkan kasih sayang, pendidikan, perhatian, perlindungan, dan pengasuhan yang baik.

Jangan menentukan nilai seorang anak hanya berdasarkan jenis kelaminnya.

Sebab, orang tua tidak pernah tahu siapa yang kelak paling banyak mendoakan mereka, siapa yang paling sering datang ketika mereka sakit, dan siapa yang akan menggenggam tangan mereka ketika usia sudah senja.

Bisa jadi anak laki-laki. Bisa jadi anak perempuan. Yang menentukan bukan jenis kelaminnya, tetapi iman, akhlak, dan kasih sayang yang ditanamkan sejak kecil. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *