Orang Tua Sibuk Bekerja Sampai Tak Sempat Ajarkan Anak Ngaji, Bagaimana?

Yudi
By Yudi
8 Min Read
Foto: Unsplash

BANYAK orang tua bekerja keras dari pagi hingga sore, bahkan ada yang baru pulang ketika anak sudah hampir tidur. Kesibukan mencari nafkah sering kali membuat waktu bersama anak menjadi sangat terbatas, termasuk untuk mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu agama. Akhirnya, orang tua mulai merasa bersalah karena anak sudah semakin besar, tetapi belum lancar mengaji atau bahkan belum memiliki kebiasaan membaca Al-Qur’an.

Mencari nafkah untuk keluarga tentu merupakan pekerjaan yang mulia, terutama bagi seorang ayah yang memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada keluarganya. Namun, kesibukan bekerja seharusnya tidak membuat pendidikan agama anak sepenuhnya terlupakan. Anak tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan umum, tetapi juga membutuhkan bekal iman agar memiliki pegangan dalam menjalani hidup.

BACA JUGA: Tanganku Lebih Mahal daripada Mobilmu

Dalam Islam, orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap pendidikan anak. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Perintah tersebut mengingatkan bahwa menjaga keluarga bukan hanya dilakukan dengan memenuhi kebutuhan dunia, tetapi juga dengan membimbing mereka agar mengenal Allah dan menjauhi jalan yang dapat menjerumuskan kepada dosa.

Karena itu, alasan sibuk bekerja sebaiknya tidak dijadikan pembenaran untuk lepas tangan sepenuhnya dari pendidikan agama anak. Memang tidak semua orang tua memiliki kemampuan mengajar Al-Qur’an dengan baik, dan tidak semua memiliki waktu luang yang panjang setiap hari. Namun, ketika seseorang menyadari bahwa ia memiliki keterbatasan, seharusnya ia mencari jalan lain agar anak tetap mendapatkan pendidikan agama yang layak.

Jika orang tua tidak sempat mengajari anak mengaji secara langsung, salah satu solusi nya adalah mencarikan guru ngaji yang baik dan terpercaya. Anak dapat dimasukkan ke TPA, belajar kepada ustaz atau ustazah, atau mengikuti kelas Al-Qur’an yang sesuai dengan kebutuhannya. Dengan begitu, orang tua memang tidak mengajar secara langsung, tetapi tetap menjalankan perannya dengan memastikan anak mendapatkan kesempatan belajar.

Namun, menyerahkan anak kepada guru ngaji bukan berarti tugas orang tua sudah selesai. Orang tua tetap perlu mengetahui perkembangan anak dan memberikan perhatian terhadap proses belajarnya. Sesekali tanyakan surat apa yang sedang dipelajari, bagaimana perkembangan bacaan Al-Qur’annya, serta apakah ada kesulitan yang sedang dihadapi.

Perhatian sederhana seperti itu dapat membuat anak merasa bahwa belajar mengaji adalah sesuatu yang penting di mata orang tuanya. Sebaliknya, jika orang tua hanya menyuruh anak pergi mengaji tanpa pernah peduli apakah ia benar-benar belajar atau tidak, anak bisa menganggap mengaji sekadar kewajiban yang dipaksakan. Pendidikan agama akan lebih kuat apabila anak melihat bahwa orang tuanya juga memberikan perhatian dan contoh.

Kesibukan kerja sebenarnya tidak selalu berarti seseorang benar-benar tidak memiliki waktu sama sekali untuk anak. Kadang yang dibutuhkan bukan waktu berjam-jam, melainkan kesediaan untuk menyediakan waktu singkat tetapi dilakukan secara rutin. Misalnya, orang tua dapat meluangkan waktu sepuluh atau lima belas menit pada malam hari untuk mendengarkan anak membaca Al-Qur’an.

Bagi anak yang masih belajar dari dasar, orang tua tidak perlu merasa harus menjadi guru yang sempurna. Jika hanya mampu menemani anak membaca huruf hijaiyah, mengulang hafalan pendek, atau mendengarkan bacaan yang telah dipelajari dari guru ngajinya, hal tersebut sudah menjadi bentuk perhatian. Yang penting adalah adanya keterlibatan dan usaha dari orang tua dalam proses pendidikan anak.

Orang tua juga perlu berhati-hati agar tidak terjadi keadaan yang ironis. Mereka bekerja sangat keras demi masa depan anak, tetapi karena terlalu sibuk, justru tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupan dan perkembangan anak sehari-hari. Anak mungkin mendapatkan sekolah yang bagus dan berbagai fasilitas, tetapi tumbuh tanpa kedekatan dengan Al-Qur’an dan tanpa pengawasan yang cukup dari orang tuanya.

https://s.shopee.co.id/70JzqNeJ5N

Anak-anak membutuhkan teladan lebih dari sekadar nasihat. Sulit mengharapkan anak rajin membaca Al-Qur’an jika di rumah ia hampir tidak pernah melihat orang tuanya membuka mushaf. Begitu pula, anak akan lebih mudah mencintai ibadah jika melihat ayah dan ibunya berusaha menjaga salat serta berbicara tentang agama dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, orang tua yang sibuk bekerja dapat memulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Misalnya, membaca Al-Qur’an bersama pada waktu libur, mengajak anak mengulang hafalan surat pendek ketika sedang berkumpul, atau mendengarkan murattal bersama saat berada di rumah. Kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus sering kali memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada nasihat panjang yang hanya disampaikan sesekali.

Jika orang tua benar-benar memiliki waktu yang sangat terbatas karena pekerjaan, maka hari libur dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Jangan sampai seluruh waktu libur hanya dihabiskan untuk urusan masing-masing, sementara anak kembali sibuk dengan televisi, permainan, atau ponsel. Luangkan sebagian waktu untuk berbicara, belajar agama, atau sekadar mendampingi anak membaca Al-Qur’an.

Yang juga perlu diperhatikan adalah jangan sampai kesibukan orang tua membuat mereka hanya menggunakan uang sebagai pengganti kehadiran. Memberikan fasilitas belajar memang penting, tetapi anak tetap membutuhkan perhatian dan keterlibatan emosional dari ayah dan ibunya. Seorang anak bisa saja memiliki guru mengaji terbaik, tetapi kehadiran orang tua tetap memiliki pengaruh yang tidak bisa sepenuhnya digantikan.

Lalu, bagaimana jika anak sudah telanjur remaja dan masih belum bisa mengaji karena selama ini orang tua terlalu sibuk bekerja? Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan. Orang tua tidak perlu terus-menerus tenggelam dalam rasa bersalah, tetapi segera mengambil langkah nyata untuk membantu anak belajar dari sekarang.

Anak yang sudah remaja mungkin membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan anak kecil. Hindari mempermalukan atau menyalahkannya dengan mengatakan bahwa ia sudah besar tetapi belum bisa membaca Al-Qur’an. Ajaklah dengan baik, carikan metode belajar yang sesuai, dan jika perlu berikan contoh bahwa orang tua juga mau belajar serta memperbaiki bacaan Al-Qur’annya.

Justru akan menjadi pelajaran yang sangat baik jika orang tua berani mengatakan kepada anak, “Ayah atau ibu mungkin dulu terlalu sibuk dan kurang memperhatikan urusan ngajimu. Sekarang, mari kita sama-sama memperbaikinya.” Sikap rendah hati seperti ini dapat membuat anak merasa didukung, bukan dihakimi karena kekurangannya.

BACA JUGA: Agar Anak Lebih Mudah Berbicara: Menelusuri Tradisi, Tauhid, dan Ilmu Perkembangan Anak

Pada akhirnya, bekerja untuk mencari nafkah dan mendidik anak bukanlah dua hal yang harus saling mengalahkan. Orang tua memang memiliki kewajiban mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi pendidikan agama anak juga tidak boleh dianggap sebagai urusan yang bisa ditunda terus-menerus. Jika tidak mampu mengajar sendiri, orang tua dapat mencarikan guru yang baik, menyediakan waktu untuk mendampingi, dan yang terpenting memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan menunggu sampai anak dewasa lalu menyesal karena selama bertahun-tahun ia lebih akrab dengan gawai daripada Al-Qur’an. Kesibukan kerja mungkin sulit dihindari, tetapi perhatian terhadap pendidikan agama tetap bisa diusahakan sesuai kemampuan. Sebab, harta dan pendidikan dunia memang penting untuk masa depan anak, tetapi mengenalkan anak kepada Al-Qur’an dan agamanya juga merupakan bekal yang nilainya jauh lebih panjang, bahkan hingga kehidupan akhirat. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *