Kenapa Ya, Nasihat yang Benar Kadang Malah Bikin Kita Tersinggung?

Aang Supriatna
3 Min Read
Foto: Freepik

PERNAHKAH seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya benar, tetapi kita justru merasa tersinggung? Anehnya, ketika orang lain mengatakan hal yang sama kepada kita dengan cara berbeda, mungkin kita tetap tidak nyaman. Ini menunjukkan bahwa persoalan nasihat bukan hanya terletak pada benar atau salahnya isi, tetapi juga menyentuh wilayah harga diri, pengalaman, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Manusia secara alami cenderung ingin mempertahankan gambaran positif tentang dirinya. Ketika nasihat menunjukkan kekurangan yang selama ini tidak ingin kita akui, muncul reaksi defensif. Kita mungkin langsung mencari alasan, membantah, atau bahkan menyerang balik orang yang memberikan nasihat. Bukan karena nasihat tersebut pasti salah, tetapi karena kita belum siap menerima kenyataan tentang diri sendiri.

BACA JUGA: Utusan Romawi yang Bertekad Masuk Islam Karena Melihat Tidurnya Umar bin Khattab

Islam Mengajarkan Cara Memberi Nasihat

Islam tidak hanya mengajarkan agar kita mau menerima nasihat, tetapi juga mengajarkan bagaimana nasihat disampaikan. Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Harun ketika menghadapi Fir’aun, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Thaha: 44).

Jika kepada Fir’aun saja diperintahkan berbicara dengan lembut, tentu nasihat kepada sesama Muslim juga semestinya disampaikan dengan hikmah. Rasulullah ﷺ dikenal sebagai orang yang lembut dalam memberikan arahan. Beliau tidak menjadikan nasihat sebagai kesempatan untuk mempermalukan seseorang.

5-banner mesin absensi

Benar Belum Tentu Cara Menyampaikannya Benar

Sebuah nasihat bisa memiliki isi yang benar tetapi disampaikan dengan cara yang salah. Menegur seseorang di depan banyak orang, menggunakan kata-kata merendahkan, atau menyampaikan kesalahan dengan nada menghukum dapat membuat orang lebih sibuk mempertahankan dirinya daripada memperbaiki kesalahannya.

Karena itu, orang yang menerima nasihat juga perlu belajar membedakan antara isi dan cara. Kalau cara penyampaiannya kurang baik, bukan berarti seluruh isi nasihat otomatis salah. Bisa saja ada sesuatu yang perlu kita renungkan.

BACA JUGA:Kunjungan Harun ar-Rasyid ke Al-Fudhail untuk Mendapatkan Nasihat

Tersinggung Bisa Menjadi Cermin

Rasa tersinggung sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk bercermin. Kita dapat bertanya kepada diri sendiri, “Bagian mana yang membuat saya tersinggung?” Bisa jadi bukan karena orang tersebut menghina kita, tetapi karena perkataannya menyentuh bagian diri yang memang belum selesai kita perbaiki.

Para ulama salaf banyak mengingatkan pentingnya menerima kritik. Umar bin Khattab r.a. dikenal dengan ungkapan tentang orang yang menunjukkan aibnya sebagai bagian dari orang yang membantu dirinya memperbaiki diri.

Pada akhirnya, nasihat adalah hadiah yang tidak selalu terasa manis ketika pertama kali diterima. Kita tidak harus menerima semua perkataan orang tanpa berpikir. Namun, jangan pula menolak sebuah kebenaran hanya karena cara penyampaiannya membuat hati kita tidak nyaman. Bisa jadi, rasa tidak nyaman itulah pintu awal perubahan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *