Bolehkah Istri Tidur Membelakangi Suami karena Sedang Kesal?

Yudi
By Yudi
6 Min Read
Foto: Freepik

DALAM rumah tangga, suami dan istri tentu tidak selalu berada dalam suasana hati yang sama. Ada kalanya istri merasa kecewa, marah, atau kesal kepada suami karena perkataan maupun tindakan tertentu. Ketika emosi sedang tinggi, tidak sedikit istri yang memilih diam dan tidur membelakangi suami karena belum siap berbicara.

Lalu, apakah tindakan seperti ini otomatis menjadi dosa? Jawabannya tidak bisa hanya dilihat dari posisi tubuh ketika tidur, tetapi juga dari alasan, sikap, dan dampaknya terhadap hubungan suami istri. Tidur membelakangi pasangan karena ingin menenangkan diri tentu berbeda dengan sengaja menjadikannya sebagai bentuk penghinaan, hukuman, atau penolakan terhadap hak pasangan.

BACA JUGA: Bolehkah Istri Mengeluh karena Gaji Suami Tidak Pernah Cukup?

Perasaan kesal sendiri merupakan sesuatu yang manusiawi. Seorang istri bukan berarti tidak boleh kecewa ketika suaminya melakukan kesalahan, apalagi jika kesalahan tersebut memang menyakiti hati. Yang perlu dijaga adalah bagaimana rasa kecewa tersebut diekspresikan agar tidak berubah menjadi tindakan yang merusak keharmonisan rumah tangga.

Jika istri sedang sangat emosi, mengambil waktu untuk menenangkan diri justru bisa menjadi pilihan yang bijaksana. Daripada terus berdebat dan mengeluarkan perkataan yang mungkin disesali setelah suasana membaik, seseorang boleh memilih diam sementara waktu. Tidur membelakangi suami dalam kondisi seperti ini tidak serta-merta berarti durhaka, terutama jika tujuannya untuk menghindari pertengkaran yang lebih besar.

Namun, persoalannya berbeda apabila membelakangi suami sengaja dilakukan sebagai bentuk penghinaan atau hukuman. Misalnya, seorang istri sengaja menunjukkan sikap dingin berhari-hari, menolak berkomunikasi, dan terus memperlakukan suami dengan buruk hanya untuk membuatnya merasa tersiksa. Sikap semacam itu tentu tidak sejalan dengan tujuan pernikahan yang seharusnya dibangun dengan kasih sayang, penghormatan, dan komunikasi.

Islam mengajarkan agar suami dan istri memperlakukan pasangannya dengan cara yang baik. Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19 agar orang-orang beriman mempergauli perempuan dengan cara yang patut. Prinsip tersebut juga mengingatkan bahwa persoalan rumah tangga sebaiknya diselesaikan dengan cara yang menjaga kehormatan dan tidak saling merendahkan.

Di sisi lain, suami juga perlu memahami bahwa ketika istrinya sedang kesal, tidak semua masalah harus langsung dipaksa untuk dibicarakan saat itu juga. Ada kalanya seseorang membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran sebelum mampu menyampaikan perasaannya dengan baik. Memberikan ruang sejenak bukan berarti mengabaikan pasangan, selama ruang tersebut tidak berubah menjadi permusuhan yang berkepanjangan.

Suami juga sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa istrinya membelakanginya berarti tidak menghormati dirinya. Bisa jadi sang istri sedang kecewa dan takut jika berbicara dalam keadaan emosi justru akan mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Dalam kondisi seperti itu, pendekatan yang lembut sering kali lebih efektif daripada memaksa pasangan untuk langsung menjelaskan masalah.

Begitu pula seorang istri perlu memahami bahwa diam terlalu lama bukanlah solusi. Setelah emosi mulai mereda, sebaiknya persoalan yang menyebabkan kemarahan dibicarakan dengan kepala dingin. Jelaskan apa yang membuat kecewa, bagaimana perasaan yang muncul, dan perubahan apa yang diharapkan dari pasangan.

https://s.shopee.co.id/BNe5MhdZ4

Misalnya, daripada terus membelakangi suami tanpa penjelasan, istri dapat mengatakan, “Aku sedang kecewa dan butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri. Besok kita bicarakan baik-baik.” Kalimat sederhana seperti ini dapat mencegah suami salah memahami keadaan. Suami pun mengetahui bahwa istrinya bukan sedang mengakhiri komunikasi, tetapi hanya membutuhkan waktu untuk mengendalikan emosi.

Dalam kehidupan rumah tangga, cara menyelesaikan konflik sering kali lebih penting daripada siapa yang menang dalam sebuah pertengkaran. Jika suami dan istri sama-sama ingin membuktikan bahwa dirinya benar, masalah kecil dapat berubah menjadi konflik besar. Sebaliknya, jika keduanya lebih mengutamakan mencari solusi, persoalan yang sama dapat menjadi kesempatan untuk saling memahami.

Ada juga kondisi ketika rasa kesal muncul karena suami melakukan sesuatu yang memang salah atau menyakiti istrinya. Dalam keadaan seperti itu, istri tidak harus berpura-pura baik-baik saja dan memendam semuanya. Ia boleh menyampaikan keberatan, tetapi sebaiknya dilakukan dengan cara yang jelas, sopan, dan tidak menggunakan penghinaan atau tindakan yang sengaja mempermalukan pasangan.

Suami pun memiliki tanggung jawab untuk melakukan introspeksi. Jangan sampai setiap kali istri marah, suami hanya mengatakan bahwa istrinya terlalu sensitif tanpa berusaha memahami penyebabnya. Bisa jadi ada perkataan atau perilaku suami yang memang perlu diperbaiki agar masalah serupa tidak terus berulang.

Pada akhirnya, tidur membelakangi suami ketika sedang kesal tidak dapat langsung dihukumi hanya berdasarkan posisi tidur tersebut. Jika seorang istri membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan tidak bermaksud merendahkan atau menzalimi suaminya, hal itu berbeda dengan sengaja menggunakan sikap dingin sebagai bentuk hukuman dan memperpanjang konflik. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai rasa marah membuat pasangan saling menyakiti atau mengabaikan kewajiban dalam rumah tangga.

BACA JUGA: Emang Bener Istri Boros Bisa Memperlancar Rezeki Suami?

Pernikahan bukan berarti suami dan istri tidak boleh marah atau kecewa. Pernikahan justru mengajarkan bagaimana dua manusia yang memiliki perasaan dan kekurangan belajar mengelola konflik dengan cara yang lebih dewasa. Karena itu, jika malam ini seorang istri memilih membelakangi suami karena sedang kesal, yang terpenting adalah jangan biarkan posisi tersebut menjadi tembok yang memisahkan hati terlalu lama.

Setelah hati lebih tenang, cobalah kembali membuka komunikasi. Tidak harus langsung menyelesaikan seluruh masalah dalam satu percakapan, tetapi setidaknya tunjukkan bahwa masih ada keinginan untuk memperbaiki keadaan. Sebab dalam rumah tangga, meminta maaf, memaafkan, mendengarkan, dan memperbaiki kesalahan sering kali jauh lebih berharga daripada mempertahankan gengsi masing-masing. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *