ORANG munafik akan berat untuk mendapatkan waktu shubuh. Kenapa?
Shalat Shubuh adalah ujian pertama seorang hamba ketika membuka harinya. Di saat gelap masih menyelimuti bumi dan tubuh sedang berada pada puncak kenyamanan, panggilan Allah berkumandang menembus keheningan pagi. Tapi tahukah kita bahwa salah satu tanda kemunafikan yang paling jelas adalah ketika seseorang merasa berat, bahkan enggan, untuk bangun dan menunaikan shalat Shubuh?
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah berat bagi orang munafik dalam shalat selain shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
BACA JUGA: Orang Munafik di Akhir Zaman, Siapa Saja?
Hadist ini sangat tegas menunjukkan bahwa sifat malas dan berat untuk menunaikan shalat Shubuh adalah ciri orang-orang munafik. Mengapa demikian? Karena shalat Shubuh adalah ibadah yang menguji kejujuran iman seseorang. Ia tak dilakukan di depan banyak orang, tak disaksikan khalayak.
Di saat itulah keikhlasan diuji. Hanya mereka yang benar-benar mencintai Allah yang akan bangun meninggalkan tidurnya demi bersujud kepada-Nya.
Ibnu Qayyim rahimahullah pernah berkata: “Shalat Subuh adalah ukuran sejauh mana kecintaan dan kejujuran seorang hamba kepada Rabb-nya. Karena siapa yang mencintai sesuatu, ia rela meninggalkan kenyamanan untuknya.”
Orang-orang munafik tidak memiliki kecintaan yang sejati kepada Allah. Mereka hanya menampakkan keimanan di depan manusia, namun kosong di dalam hati. Maka ketika tidak ada manusia yang melihat — seperti waktu Subuh — mereka tak merasa perlu beribadah.
Udara Shubuh adalah udara yang diberkahi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)
Namun, anehnya, orang munafik justru tidak bisa merasakan keberkahan itu. Mereka tertidur lelap di saat ruh-ruh orang beriman sedang terbang menuju langit, bersujud dan berdoa dengan penuh harap. Mereka tidak mencicipi manisnya udara segar Shubuh yang membersihkan jiwa, karena hati mereka tertutup oleh kemalasan dan kemunafikan.
BACA JUGA: Munafik: Shalat yang Berat dan Hati yang Kosong
Hasan al-Bashri rahimahullah pernah menasihati: “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan dari hari-harimu. Bila satu hari telah berlalu, maka telah pergi pula sebagian dari dirimu.”
Bayangkan, jika hari itu dimulai tanpa shalat Shubuh, berarti awal dari hidupmu pada hari itu telah hilang dalam kelalaian. Tidak heran jika hari-hari orang munafik penuh kesempitan, walau mungkin hidupnya tampak mewah di mata manusia.
Sungguh, siapa yang menjaga Shubuhnya, Allah akan menjaga seluruh harinya. Tapi siapa yang melalaikannya, ia akan kehilangan keberkahan yang tak bisa dibeli dengan harta. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

