BUKIT kecil di sebelah Tripoli itu kembali menjadi saksi. Angin sore bertiup lembut, namun di dada seorang gubernur, bergemuruh rasa yang tak kunjung reda. Ia datang dengan rombongan prajurit, menunggang kuda dengan segala kebesaran seorang pejabat tinggi. Tetapi begitu kaki menapak tanah bukit itu, semua keangkuhan dunia seakan runtuh.
Ia turun dari kuda, melangkah pelan ke arah pusara saudaranya. Gundukan tanah yang sederhana itu menampung jasad seorang zuhud, saudaranya yang pernah ia anggap hanya seorang penyepi yang tak tahu gemerlapnya kekuasaan. Namun kini, justru dari pusara itu terpahat pesan yang membuat hatinya bergetar.
“Bagaimana hidup ini bisa menyenangkan bagi orang yang tahu bahwa Allah SWT akan memintanya pertanggungjawaban.
Lalu, Allah SWT akan menghukum atas kezaliman yang dia lakukan dan memberi ganjaran atas kebaikan yang pernah dia kerjakan.”
Ia membaca dengan bibir gemetar. Matanya basah, dadanya sesak. Angin bukit membawa bisikan kalimat itu berulang-ulang ke telinganya, seakan seluruh alam bersuara: pertanggungjawaban… kezaliman… ganjaran.
Ziarah yang Mengoyak Jiwa
Hari pertama ia menangis lama. Hari kedua ia kembali, menapaki jalan tanah yang sama, membaca kalimat itu lagi, dan air matanya pun jatuh tanpa bisa ditahan. Ia merasa tulisan itu bukan sekadar pesan untuk orang-orang yang datang, melainkan khusus ditujukan untuk dirinya—seorang gubernur yang begitu dekat dengan kekuasaan, tetapi sering menutup mata dari kezaliman.
Hari ketiga, ia kembali lagi. Matahari memantulkan cahaya keemasan di atas bukit, burung-burung beterbangan, namun hati sang gubernur justru semakin suram. Ia menunduk, membaca kembali tulisan pada nisan, lalu menangis tersedu.

Ketika ia hendak beranjak, tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam kubur: “Debbuk!” Seperti hantaman benda berat ke tanah. Tubuhnya gemetar, darahnya berdesir, jantungnya hampir copot. Ia menoleh kanan-kiri, tetapi yang terdengar hanyalah suara angin dan gemerisik daun.
Ia kembali ke rumah dengan wajah pucat pasi, tubuh lemas, dan hati dipenuhi rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Renungan tentang Azab Kubur
Malam itu ia gelisah. Tidurnya tersentak-sentak hingga akhirnya ia bermimpi bertemu dengan saudaranya yang telah wafat. Dalam mimpinya, wajah sang zuhud tampak tenang, namun di sekelilingnya ada suasana muram yang membuatnya semakin takut.
“Saudaraku,” tanyanya dengan suara bergetar, “apa yang tadi siang kudengar dari kuburanmu? Suara itu, seperti pukulan berat yang menghantammu?”
Saudaranya menjawab dengan lirih: “Itu adalah suara alat pemukul. Dikatakan kepadaku: Engkau melihat orang yang dizalimi, tetapi tidak menolongnya.”
Jawaban itu menusuk hatinya lebih dalam dari seribu pedang. Ia tersentak, lalu terbangun dari tidurnya dengan tubuh basah oleh keringat. Hatinya gemetar mengingat firman Allah:
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim serta memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)
Dan ia pun teringat sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya seorang hamba apabila diletakkan di kuburnya… lalu datanglah dua malaikat dan mendudukkannya. Kemudian ditanyakan kepadanya: ‘Apa yang kamu ketahui tentang orang ini (Muhammad ﷺ)?’… Adapun orang munafik atau kafir akan berkata: ‘Aku tidak tahu, aku hanya mengatakan sebagaimana yang dikatakan orang-orang.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Engkau tidak tahu dan tidak membaca!’ Lalu ia dipukul dengan palu dari besi sekali pukulan hingga ia menjerit yang didengar semua makhluk kecuali jin dan manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Suara “debuk” itu kini menemukan maknanya. Ia sadar, itu bukan sekadar halusinasi, melainkan teguran langit yang nyata.
Pertobatan Seorang Gubernur
Pagi hari, dengan wajah muram dan hati remuk, ia memanggil saudaranya yang saudagar kaya serta orang-orang terdekatnya.
“Saya merasa,” katanya dengan suara parau, “bahwa kalimat yang ditulis di makam saudaraku itu tidak lain ditujukan kepada saya.”
Semua yang hadir terdiam. Sang gubernur melanjutkan:
“Mulai hari ini, aku bersaksi di hadapan kalian: aku tidak akan tinggal bersama kalian lagi. Aku tinggalkan jabatan, aku lepaskan semua kekuasaan. Aku ingin hidup dalam ibadah, agar kelak Allah merahmatiku.”
Keputusan itu mengejutkan semua orang. Tetapi tekadnya bulat. Ia menulis surat kepada khalifah Abdul Malik, memohon pengunduran diri. Dan khalifah pun menyetujui permintaan itu.
Sejak saat itu, ia hidup menyendiri, mengasingkan diri di padang pasir dan pegunungan. Ia tidak lagi berpakaian kebesaran, tidak lagi dikelilingi prajurit. Ia kini hanyalah seorang hamba Allah yang ingin menebus dosa, hingga ajal menjemputnya.
Wasiat Kedua
Ketika ajal kian dekat, ia ditemani seorang penggembala di pegunungan. Tubuhnya lemah, matanya sayu, tetapi lisannya masih bergetar menyebut nama Allah. Penggembala itu lalu menyampaikan berita kepada saudaranya, si saudagar kaya. Mendengar kabar itu, sang saudagar segera datang menjenguknya.
“Wahai saudaraku,” kata sang saudagar dengan penuh haru, “buatlah wasiat.”
“Memang apa yang akan aku wasiatkan?” jawabnya lirih. “Aku tidak memiliki harta, tidak ada yang bisa diwariskan. Tetapi aku punya satu permintaan.”
“Apa itu? Katakanlah.”
“Jika aku wafat nanti, kuburkanlah aku di samping makam saudara kita. Dan tuliskanlah di nisanku: ‘Bagaimana hidup ini bisa menyenangkan bagi orang yang yakin bahwa kematian pasti akan mendatanginya secara tiba-tiba.
Lalu, kematian merampas kekuasaannya yang besar lagi kuat dan menempatkannya di rumah yang pasti akan ditempatinya.’
Lalu, ziarahilah aku selama tiga hari, dan doakanlah aku, semoga Allah merahmatiku.”
Tak lama setelah itu, ruhnya terbang meninggalkan jasadnya. Wajahnya tampak teduh, seakan menemukan ketenangan setelah perjalanan panjang penebusan diri.
Pusara Kedua
Sesuai wasiatnya, ia dikuburkan di samping saudaranya. Di atas nisannya terukir kalimat tentang kematian yang datang tiba-tiba, mencabut kekuasaan dan menempatkan manusia pada rumah abadinya.
Saudaranya yang saudagar kaya datang setiap hari selama tiga hari. Ia berdiri di pusara, membaca kalimat itu, lalu menangis tersedu.
Alam bukit seakan ikut larut dalam kesedihan. Angin berhembus pelan, dedaunan berjatuhan, langit mendung tipis, seakan bumi pun sedang berduka.
Ayat-ayat Allah pun terngiang di telinganya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu…” (QS. Ali Imran: 185)
Dan sabda Nabi ﷺ kembali menggema dalam hatinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)
Ia menangis, bukan hanya untuk saudaranya yang telah tiada, tetapi juga untuk dirinya sendiri—sebab ia tahu, giliran itu akan datang pula, entah kapan, entah di mana.
Setelah Tiga Hari
Hari ketiga berakhir, air mata belum juga kering, dan hati sang saudagar justru semakin gelisah. Dua saudaranya kini telah pergi, meninggalkan pesan abadi di atas batu nisan. Ia bertanya dalam hati: Apakah aku sanggup menunaikan peran terakhir dalam kisah ini? Apakah aku akan menuliskan wasiatku sendiri suatu hari nanti?
Langkahnya berat meninggalkan bukit itu. Namun di dalam hati ia tahu: perjalanan hidupnya akan segera dipertemukan dengan perjalanan saudaranya. []
BERSAMBUNG
Sumber: Ibnul Jauzy, 500 kisah orang Saleh Penuh Hikmah. Pustaka Al-Kautsar
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

