ADA satu babak sejarah yang seakan menjadi titik patah dunia Islam: tahun 1258 M. Baghdad, kota yang dijuluki madīnat al-salām—kota perdamaian—runtuh di bawah kaki kuda tentara Mongol Hulagu Khan. Sungai Tigris, yang dahulu biru berkilau, berubah hitam oleh tinta kitab-kitab yang dilemparkan ke dalamnya. Perpustakaan Baitul Hikmah—perbendaharaan ilmu terbesar umat manusia—sirna seketika. Khalifah terakhir, al-Mu‘tasim Billah, dibunuh. Dengan itu, berakhir sudah keagungan Abbasiyah di Baghdad.
Namun, sejarah tidak berhenti di sana. Dari reruntuhan Baghdad, umat Islam tidak mati. Justru, benih-benih peradaban itu berpencar, menyebar ke penjuru dunia. Seperti biji kurma yang jatuh dari batangnya, mereka mencari tanah baru untuk tumbuh. Ulama, saudagar, dan keturunan Abbasiyah ada yang menyeberang ke Mesir, Syam, Yaman, India, bahkan sampai ke ujung Timur: Nusantara.
—
Samudra Pasai: Negeri Persinggahan
Ketika Baghdad luluh lantak, di belahan lain dunia berdiri sebuah kerajaan muda di utara Sumatra: Samudra Pasai. Didirikan oleh Sultan Malik al-Saleh (w. 1297), Pasai segera menempati posisi strategis sebagai pusat perdagangan sekaligus dakwah Islam di kawasan Selat Malaka.
Mengapa Pasai menjadi magnet? Letaknya begitu menentukan: ia berdiri di tepi jalur pelayaran internasional. Para pedagang dari Gujarat, Persia, Arab, bahkan Tiongkok singgah di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa atau Malaka. Dalam bahasa Buya Hamka, Pasai adalah “bandar dunia baru”—tempat bertemunya arus Barat dan Timur setelah jalur sutra darat terputus akibat guncangan Mongol.
Teuku Ibrahim Alfian, sejarawan Aceh, mencatat bagaimana peran Pasai kian menguat dalam abad ke-13 hingga 15. Menurutnya, ekspor lada Pasai ke dunia internasional melonjak drastis. Angka-angkanya mencengangkan: puluhan ribu bahar lada setiap tahun dikapalkan menuju Gujarat, Bengal, bahkan Kairo. “Tanpa Pasai,” tulis Ibrahim Alfian, “peta perdagangan Samudra Hindia tidak akan lengkap.”
BACA JUGA: Pasai Pintu Gerbang dan Pusat Mazhab Syafi‘i di Nusantara Nusantara
Jejak Abbasiyah di Pasai
Dalam konteks inilah muncul cerita tentang para pengungsi dari Baghdad. Salah satunya adalah Syeikh Ismail, cicit dari Khalifah al-Mu‘tasim. Ia disebut-sebut menetap di Pasai dan wafat di sana. Tradisi lokal bahkan menunjuk beberapa makam di Pasai sebagai jejak keluarga Abbasiyah yang berlabuh jauh dari tanah leluhur mereka.
Buya Hamka, dalam Sejarah Umat Islam, menyebut bahwa pusara keturunan Abbasiyah memang dijumpai di Pasai. Ia menegaskan, walaupun secara politik dinasti Abbasiyah berhasil didirikan kembali di Kairo oleh Mamluk, sebagian kecil keturunannya “mengalir jauh” hingga ke ujung Timur, membawa serta legitimasi dan semangat peradaban Baghdad.
Sejarawan lain, Azyumardi Azra, melihat fenomena ini dalam kerangka yang lebih luas. Dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, ia menjelaskan bahwa migrasi ulama Arab pasca-serangan Mongol membuka jaringan baru. Ulama-ulama ini membawa kitab, sanad tarekat, dan otoritas keilmuan yang memberi warna Islamisasi di Nusantara. Dengan kata lain, kehadiran mereka tidak sekadar simbol genealogis, tetapi juga penyambung nadi peradaban yang hampir terputus.
—
Legitimasi dan Mitos
Apakah benar keturunan Abbasiyah membaur di Pasai? Bukti arkeologis sulit memastikan. Namun, yang jelas, narasi ini memberi legitimasi penting bagi kerajaan muda itu. Gelar “Sultan” yang dipakai Malik al-Saleh bukanlah sekadar adopsi simbol Timur Tengah, melainkan juga klaim bahwa Pasai berdiri dalam kesinambungan dengan dunia Islam besar.
Dalam pandangan politik Islam abad pertengahan, memiliki hubungan darah dengan Quraisy—apalagi Abbasiyah—bukan sekadar kebanggaan, melainkan tanda legitimasi spiritual. Dengan itu, Pasai menegaskan dirinya bukan kerajaan lokal biasa, tetapi bagian dari umat besar yang pernah diperintah dari Baghdad.
Di titik inilah mitos dan sejarah berpadu. Silsilah-silsilah bangsawan Aceh, hingga hari ini, masih menegaskan adanya darah Quraisy atau Abbasiyah yang mengalir dalam garis mereka. Entah seakurat apa, mitos itu tetap menjadi perekat identitas, memperlihatkan bagaimana umat di Timur jauh ingin tetap tersambung dengan jantung Islam.
—
Perdagangan yang Mengubah Dunia
Runtuhnya Baghdad memang menghancurkan jalur sutra darat, tetapi sekaligus menghidupkan jalur laut. Para pedagang Arab dan Persia, kehilangan akses daratan Asia Tengah, mengalihkan layar mereka ke Samudra Hindia. Dari pelabuhan Hormuz, Gujarat, hingga masuk ke Selat Malaka, arus barang dan manusia kian deras.
Pasai menjadi simpul. Di sanalah lada, emas, kapur barus, dan rempah dari pedalaman Sumatra bertemu dengan tekstil Gujarat, keramik Tiongkok, dan perak dari Timur Tengah.
Seorang Portugis, Tome Pires, dalam Suma Oriental (abad ke-16), menulis bahwa Pasai adalah “kunci dari segala perdagangan di Timur.” Ia mencatat bahwa para saudagar Arab dan Persia telah lama menetap di Pasai, berbaur dengan bangsawan lokal, bahkan menguasai struktur politiknya.
—
Refleksi: Dari Baghdad ke Pasai
Sejarah selalu menyisakan ironi. Baghdad, pusat keilmuan dunia, hancur dalam api peperangan. Namun dari reruntuhannya, lahir rantai baru peradaban yang sampai jauh ke Nusantara.
Pasai adalah saksi bahwa Islam tidak pernah mengenal batas geografis. Ia berpindah, menyeberang lautan, menyatu dengan budaya baru. Kehadiran keturunan Abbasiyah di Pasai, apakah nyata secara genealogis atau hanya simbolik, menunjukkan satu hal: Islam di Nusantara tidak pernah terputus dari sumber aslinya.
Lebih jauh, ada pelajaran yang bisa dipetik. Seperti ulama Baghdad yang terus melanjutkan dakwah meski kotanya hancur, begitu pula umat ini seharusnya menghadapi zaman: tidak menyerah pada keruntuhan, tetapi menjadikannya peluang untuk tumbuh.
BACA JUGA: Bahasa Sanskerta dan Melayu di Era Sriwijaya dan Pasai: Sanskerta Meredup, Melayu Jadi pemersatu
Penutup
Samudra Pasai, dalam ingatan sejarah, bukan sekadar kota dagang. Ia adalah jembatan: jembatan antara Arab dan Nusantara, antara masa lalu Abbasiyah dan masa depan Islam di Asia Tenggara. Ia menampung para pengungsi, menerima para ulama, dan menghubungkan dunia lewat laut.
Barangkali, inilah yang dimaksud Buya Hamka ketika menyebut bahwa meski Baghdad jatuh, Islam tidak akan mati. Dari Pasai, dari pelabuhan-pelabuhan kecil yang ramai oleh saudagar asing, dari masjid-masjid sederhana di tepi laut, Islam kembali menegakkan tiangnya.
Dan dari situlah, kemudian, lahir Aceh Darussalam, Demak, Malaka, hingga seluruh jaringan kerajaan Islam di Nusantara—sebuah rantai panjang yang akarnya bisa ditelusuri kembali ke tragedi Baghdad.
Karena begitulah sejarah bekerja: setiap kehancuran selalu menyimpan benih kebangkitan. []
Sumber: Abdul Hadi, Islam, Cakrawala Estetika dan Budaya, Pustaka Firdaus
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
