Veto Amerika di PBB Melebar ke FIFA dan UEFA

Nasrulloh Baksolahar
8 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

Wajah Amerika: Dari Dewan Keamanan hingga Lapangan Sepak Bola

DI ruang megah Dewan Keamanan PBB, jari telunjuk Amerika kembali terangkat—menekan tombol veto, membekukan suara mayoritas dunia. Lagi-lagi, resolusi untuk menghentikan genosida di Gaza kandas. Di balik kata-kata diplomasi, Amerika tetap teguh: melindungi Israel, apa pun biayanya. Dunia melihat wajah itu dengan jelas, wajah seorang “mediator” yang di atas kertas menyerukan gencatan senjata, tapi di belakang layar terus mengirim senjata, amunisi, dan dana miliaran dolar ke Tel Aviv.

Pertanyaannya: apakah wajah ini hanya hadir di ranah diplomasi dan militer? Ternyata tidak. Ia merembes ke ranah lain yang lebih lembut, yang seharusnya steril dari intrik politik: olahraga. FIFA dan UEFA—dua institusi yang mengatur sepak bola dunia—ternyata juga menjadi panggung pertarungan geopolitik.

Donald Trump, yang kini kembali berperan dalam diplomasi agresif, disebut secara langsung menekan FIFA agar tidak mendepak Israel dari panggung sepak bola internasional. Tekanan diplomatik yang biasanya kita dengar di meja perundingan atau medan perang, kini berpindah ke ruang rapat federasi olahraga.

Diplomasi Senjata: Dari Pentagon ke Gaza

Untuk memahami wajah ganda ini, kita harus menyingkap detail dukungan Amerika. Data resmi menunjukkan, Amerika mengirim miliaran dolar bantuan militer tiap tahun kepada Israel. Menurut Congressional Research Service (CRS), sejak 1948 hingga kini, total bantuan AS ke Israel melampaui 150 miliar dolar AS, mayoritas berupa bantuan militer.

Pesawat tempur F-35, rudal presisi, bom bunker-buster, bahkan sistem pertahanan Iron Dome—semuanya ada jejak tangan Washington. Setiap kali Israel menekan Gaza, tak sulit menelusuri dari mana asal senjata itu. Ironisnya, di ruang-ruang diplomasi, Amerika sering tampil seolah-olah menjadi penengah. Padahal dalam sejarahnya, setiap kali dunia hampir sepakat soal Palestina, Amerika lah yang berdiri sendiri menolak, seperti Firaun yang hanya ditemani Haman.

Dari Dewan Keamanan ke Dewan Sepak Bola

Lalu wajah yang sama kini hadir di FIFA dan UEFA. Laporan Sky News menyingkap bagaimana Departemen Luar Negeri AS turun tangan langsung untuk mencegah Israel dibekukan dari sepak bola internasional. Juru bicaranya bahkan terang-terangan berkata:

“Kami pasti akan bekerja untuk sepenuhnya menghentikan upaya apapun yang mencoba membekukan timnas Israel dari Piala Dunia.”

Inilah logika veto yang berpindah panggung: dari PBB ke FIFA.

Padahal, UEFA sedang serius membahas nasib Israel. Banyak petinggi Eropa mempertanyakan mengapa Rusia bisa langsung dibekukan setelah menyerang Ukraina, sementara Israel yang jelas-jelas melancarkan serangan brutal di Gaza tetap dibiarkan berlaga. Data korban sipil di Gaza, yang kini melampaui 40 ribu jiwa, seolah tak punya bobot di mata FIFA maupun UEFA.

Seorang pelapor khusus PBB, Alexandra Xanthaki, bahkan berkata lugas:  “Olahraga tidak bisa hanya dianggap bisnis semata. Sesuatu harus berubah, dan Israel harus dikeluarkan.”

Namun suara itu tenggelam oleh diplomasi yang lebih kuat: lobi Amerika.

Sejarah Tekanan Amerika di Dunia Olahraga

Fenomena ini bukan hal baru. Sejarah mencatat bagaimana Amerika kerap menjadikan olahraga sebagai instrumen politik. Pada Perang Dingin, Olimpiade 1980 di Moskow diboikot oleh AS dan 65 negara lain sebagai protes invasi Soviet ke Afghanistan. Empat tahun kemudian, Uni Soviet dan sekutunya membalas dengan memboikot Olimpiade Los Angeles 1984.

Olahraga, yang seharusnya mempersatukan manusia, berubah menjadi ajang perpanjangan tangan politik global. Kini, pola itu berulang. Hanya saja, kali ini bukan lagi soal bipolaritas AS-Soviet, melainkan tentang perlindungan tanpa syarat AS terhadap Israel.

FIFA, UEFA, dan Standar Ganda

Kita patut bertanya: mengapa Rusia dibekukan, sementara Israel tidak? UEFA berdalih, perang Rusia dianggap “tak terprovokasi”, sementara Israel disebut hanya “merespons” serangan Hamas 7 Oktober 2023. Padahal, laporan resmi PBB menegaskan: Israel telah melakukan genosida di Gaza. Apalagi, sejarah konflik jauh lebih panjang dari satu tanggal tunggal.

Inilah wajah standar ganda. Seperti kata sejarawan, hukum internasional seringkali tumpul ke kawan, tajam ke lawan. Dunia sepak bola kini ikut terinfeksi penyakit yang sama.

Olahraga dan Luka Kemanusiaan

Kita tentu masih ingat, olahraga punya kekuatan moral luar biasa. Di era apartheid Afrika Selatan, dunia sepakat memboikot tim nasional dan klub-klub mereka dari kompetisi internasional. Boikot ini terbukti efektif menekan rezim apartheid hingga akhirnya runtuh.

Mengapa sekarang FIFA dan UEFA tidak mampu mengambil sikap yang sama terhadap Israel? Jawabannya sederhana: tekanan politik Amerika terlalu besar.

Seorang analis politik Timur Tengah, Trita Parsi, bahkan menegaskan di akun X bahwa meski AS bukan anggota UEFA, lobi langsung Washington berhasil menunda pembahasan pengusiran Israel. Artinya, veto Amerika kini bukan hanya di PBB, tapi juga di UEFA.

Refleksi: Bola yang Ternodai Darah

Sepak bola adalah olahraga yang paling dicintai manusia di seluruh dunia. Lapangan hijau selalu menjadi simbol kebersamaan, dari anak-anak di kampung kecil hingga stadion megah di Eropa. Namun kini, bola itu ternodai darah. Anak-anak Gaza yang seharusnya bisa bermain bola di gang sempit, kini terkubur reruntuhan.

Bayangkan, ketika timnas Israel berlaga di Eropa, di saat yang sama jet-jet tempur buatan Amerika membombardir Rafah dan Khan Younis. Apakah bola masih bisa dianggap netral? Apakah sorak-sorai stadion bisa menutupi isak tangis seorang ibu Palestina yang kehilangan anak-anaknya?

BACA JUGA:  Saat Ramai Pengakuan Palestina di PBB, Bisakah Mengisolasi Israel dari FIFA? Belajarlah dari Soekarno

Amerika: Mediator atau Provokator?

Di sinilah kontradiksi Amerika tampak telanjang. Di satu sisi, Washington menampilkan diri sebagai mediator perdamaian. Presiden dan Menteri Luar Negeri sering tampil di hadapan kamera, menyerukan gencatan senjata. Tetapi di balik layar, mereka menekan PBB dengan veto, mengirim senjata ke Israel, dan bahkan menekan FIFA agar tidak mengeluarkan Israel.

Inilah wajah ganda itu: mediator di panggung diplomasi, provokator di balik layar.

Penutup: Bola Dunia dan Hati Nurani

Pertanyaannya, sampai kapan dunia akan membiarkan standar ganda ini? Sejarah menunjukkan, kekuatan rakyat bisa mengubah arah. Ketika publik dunia bersatu menekan apartheid, FIFA tak bisa lagi menutup mata. Begitu juga hari ini, jika umat manusia bersatu menuntut keadilan, cepat atau lambat FIFA dan UEFA harus mengambil sikap.

Sepak bola adalah milik semua, bukan alat diplomasi Amerika. Lapangan hijau seharusnya menjadi tempat persaudaraan, bukan ruang pelarian bagi rezim yang sedang melakukan genosida.

Dan ketika bola masih bergulir di lapangan Eropa, mari kita tidak lupa: ada bola lain yang berhenti bergulir di Gaza, bola milik anak kecil yang kini sudah tiada.

Itulah luka kemanusiaan yang tak bisa ditutup dengan sorak penonton, atau veto sebuah negara adidaya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *