Menanamkan Akhlak terhadap Setan pada Anak

Dini Koswarini
8 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

Seri Pndidikan Anak

SETIAP anak lahir dengan fitrah yang murni. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fitrah ini ibarat taman yang indah. Namun sejak detik pertama kehidupan, ada musuh yang ingin menodainya: setan. Ia tidak terlihat mata, tetapi jejaknya nyata. Menanamkan akhlak terhadap setan pada anak bukanlah mengajarkan kebencian tanpa arah, melainkan menanamkan kesadaran bahwa ada musuh spiritual yang harus dikenali dan diwaspadai.

Allah menegaskan dengan kalimat yang sangat jelas: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu. Sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fāṭir [35]: 6)

Inilah landasan pertama pendidikan akhlak terhadap setan: menyadarkan anak bahwa setan adalah musuh, bukan sahabat.

—

2. Tipu Daya Setan: Langkah Demi Langkah yang Halus

Allah mengingatkan: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya ia menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar.” (QS. An-Nūr [24]: 21)

Perhatikan, Allah tidak menyebut “lari” tetapi “langkah”. Setan menjerumuskan manusia sedikit demi sedikit. Hari ini dengan bisikan kecil, esok dengan kebiasaan, lalu menjadikannya normal.

Iblis sendiri mengaku strategi liciknya di hadapan Allah: “(Iblis) berkata: ‘Ya Tuhanku, karena Engkau telah menetapkan aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.’” (QS. Al-Ḥijr [15]: 39–40)

Inilah tipu daya yang harus dikenalkan pada anak: bahwa keburukan bisa tampak indah. Bahwa dosa bisa terasa ringan. Bahwa malas beribadah seakan hal biasa. Pendidikan akhlak terhadap setan berarti menanamkan critical awareness: tidak semua bisikan dalam hati berasal dari Allah; ada yang datang dari musuh.

—

3. Perlindungan Anak dari Tipu Daya Setan: Peran Orang Tua

Imam Al-Ghazali menekankan bahwa hati anak seperti permata. Ia bisa diarahkan menuju kebaikan, tetapi juga mudah ternodai. Maka orang tua wajib menjadi penjaga yang waspada.

Perlindungan anak dari setan dilakukan dengan:

1. Doa dan dzikir perlindungan sejak dini.

2. Lingkungan rumah yang bersih dari pengaruh setan.

3. Menanamkan kesadaran moral dengan cara dialog, bukan sekadar larangan.

Rasulullah ﷺ memberi contoh langsung. Beliau selalu membacakan doa perlindungan untuk cucunya, Hasan dan Husain: “Aku memohon perlindungan untuk kalian berdua kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan, hewan yang berbahaya, dan dari setiap mata jahat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi)

Doa ini menjadi tameng spiritual. Ia menegaskan bahwa benteng pertama melawan setan bukan kekuatan fisik, melainkan ikatan dengan Allah.

—

4. Melindungi Anak dengan Dzikir dan Doa

Dzikir adalah cahaya. Setan benci cahaya itu. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim)

Maka, dzikir dan bacaan Al-Qur’an bukan hanya ritual, tetapi benteng rumah tangga.

Langkah praktis:

Ajarkan anak membaca Bismillah sebelum makan, minum, atau keluar rumah. Nabi ﷺ bersabda: “Apabila seseorang masuk rumah lalu menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, setan berkata: ‘Tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam bagi kalian.’” (HR. Muslim)

Ajarkan dzikir sebelum tidur. Bacakan Ayat Kursi dan tiga qul (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas).

Biasakan doa-doa harian, dari doa makan hingga doa keluar rumah.

Menurut pakar pendidikan Islam, Dr. Abdullah Nashih Ulwan, kebiasaan dzikir harian yang ditanamkan sejak kecil membentuk pola pikir anak: ia merasa selalu ditemani Allah, dan ini membuat bisikan setan kehilangan ruang.

—

5. Menjauhi Tempat yang Disukai Setan

Setan punya tempat favorit. Rasulullah ﷺ menyebutkan: “Tempat setan adalah pasar.” (HR. Muslim)

Mengapa pasar? Karena di sana manusia sering lalai, sibuk dengan dunia, penuh tipu daya dan sumpah palsu.

Tempat yang kotor, penuh gambar cabul, atau tempat di mana manusia lalai dari dzikir juga menjadi rumah setan. Maka orang tua perlu mendidik anak untuk tidak betah di lingkungan yang merusak iman.

—

6. Mendekati Tempat yang Dijauhi Setan

Sebaliknya, setan membenci tempat-tempat yang dipenuhi dzikir:

Masjid: rumah Allah, tempat setan terikat. Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setan itu mengikat tiga ikatan di tengkuk salah seorang di antara kalian ketika ia tidur… jika ia bangun lalu berwudhu dan shalat, maka ikatan itu terlepas seluruhnya, sehingga ia menjadi semangat dan berjiwa baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Majelis ilmu: tempat yang dipenuhi cahaya malaikat, membuat setan terusir.

Rumah yang dibacakan Al-Qur’an: rumah yang bercahaya, terlihat oleh penduduk langit.

Mendidik anak untuk mencintai masjid, betah di rumah ilmu, dan gemar mendengar bacaan Al-Qur’an berarti mendekatkan mereka pada zona yang setan benci.

—

7. Agar Rumah Tidak Dimasuki Setan

Rumah adalah benteng pertama anak. Jika rumah dipenuhi lalai, setan betah tinggal. Jika rumah dipenuhi dzikir, setan terusir.

Rasulullah ﷺ memberi panduan:

1. Sebut nama Allah saat masuk rumah dan makan.

2. Jangan biarkan rumah seperti kuburan: bacalah Al-Qur’an di dalamnya.

3. Bersihkan rumah dari gambar cabul, musik melalaikan, dan syirik.

4. Saling memberi salam: doa salam mengusir setan.

Dengan demikian, rumah menjadi madrasah iman, bukan sarang setan.

—

8. Refleksi Pendidikan Anak: Menanamkan Kesadaran Spiritual

Dalam pendidikan anak modern, ada istilah moral reasoning—anak diajak memahami alasan moral, bukan sekadar patuh pada aturan. Islam telah mengajarkannya sejak lama.

Mengajari anak akhlak terhadap setan berarti mengajarkan mereka alasan terdalam untuk berbuat baik: karena ada musuh yang ingin menjatuhkan. Karena kebaikan berarti kemenangan spiritual.

Orang tua perlu berdialog sederhana, misalnya:

Saat anak malas shalat: “Nak, itu setan yang membisikimu. Kalau kamu bangun shalat, berarti kamu pemenang.”

Saat anak ingin berbohong: “Nak, jujur itu cahaya dari Allah, bohong itu dari setan. Kamu pilih cahaya atau gelap?”

Dengan begitu, anak belajar bahwa moralitas bukan sekadar “boleh atau tidak boleh”, tetapi perjuangan melawan musuh gaib.

—

9. Penutup: Generasi yang Menyadari Musuhnya

Allah memberi jaminan yang menenangkan: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu (setan) tidak dapat berkuasa atas mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Ḥijr [15]: 42)

Tugas kita sebagai orang tua bukan membuat anak sempurna, melainkan menanamkan kesadaran bahwa mereka memiliki musuh abadi. Dengan doa, dzikir, kasih sayang, dan pendidikan iman, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang waspada.

Renungan terakhir:

Setiap kali seorang ayah atau ibu mengajarkan doa kecil kepada anaknya, itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah benteng. Itu adalah perlawanan. Itu adalah cahaya yang membuat setan menangis, karena satu generasi lagi telah diajarkan untuk mengenal musuhnya. []

Sumber: Adnan Hasan Shalih Baharits, Mendidik Anak Laki-laki, GIP

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *