Akun-akun Palsu dan Perang Narasi: Ketika Hoaks Menjadi Senjata untuk Memecah Palestina

Nasrulloh Baksolahar
8 Min Read
Foto: Freepik

“Kebenaran itu ibarat cahaya; tak pernah padam, hanya sementara tertutup debu.”

SUATU sore di Gaza, sebelum listrik padam seperti biasa, Motaz Azaiza menatap layar ponselnya. Ada notifikasi tanpa henti dari platform X. Ia tahu, bukan lagi doa atau dukungan yang datang. Kali ini, tuduhan. Fitnah. Dan kebencian.

“Aku dituduh mendorong orang meninggalkan tanah airku,” tulisnya getir. “Padahal, aku hanya ingin dunia tahu: betapa berat hidup di bawah langit yang tak berhenti membakar kami.”

Beberapa akun yang menuduhnya kini disebut oleh Hamas sebagai “akun mencurigakan”—profil-profil anonim dengan ribuan pengikut, yang berperan seolah bagian dari rakyat Palestina, namun perlahan menanamkan racun di tengah solidaritas.

“Jangan berinteraksi dengan mereka,” demikian seruan resmi Hamas dalam pernyataannya di Telegram, Kamis pekan itu. “Mereka menyebarkan kebohongan, melemahkan perlawanan, dan menimbulkan perpecahan di antara rakyat Palestina.”

Hamas, sebagaimana dikutip dari The New Arab dan Middle East Monitor, menuding jaringan akun tersebut merupakan bagian dari operasi psikologis Israel—sebuah strategi digital yang sengaja dirancang untuk memecah kepercayaan rakyat terhadap para pejuang Gaza.

—

Perang Tak Lagi Hanya di Tanah, Tapi di Pikiran

Israel telah lama memahami satu hal: bahwa kemenangan tak hanya ditentukan oleh senjata, tapi juga oleh narasi.

Dalam laporan Haaretz dan The Guardian, terungkap bagaimana unit-unit intelijen Israel mengoperasikan jaringan media sosial untuk memengaruhi opini publik. Mereka mendanai influencer, membuat akun bot, dan menjalankan kanal-kanal Telegram yang tampak seolah milik warga sipil.

Salah satu contoh mencolok adalah kanal “72 Virgins – Uncensored”. Kanal ini memposting gambar grafis pembunuhan dan kekerasan terhadap warga Palestina—disertai komentar provokatif untuk menimbulkan kebencian. Belakangan, tentara Israel mengakui bahwa saluran itu memang dijalankan oleh unit mereka, meskipun sempat berusaha “mencuci tangan”.

Di balik operasi semacam itu, tersembunyi agenda besar: menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap faksi perlawanan, terutama Hamas.

Sebuah laporan investigatif oleh The Intercept menyebut bahwa sejak 2019, Israel menggelontorkan jutaan dolar untuk mengembangkan “AI propaganda tool”—perangkat lunak yang dapat menciptakan ribuan akun palsu secara otomatis. Tujuannya bukan hanya menyebar hoaks, tapi juga menggoyahkan solidaritas internal di dunia Arab dan diaspora Palestina.

Narasi yang dimainkan sederhana namun mematikan:

“Hamas korup.”
“Perlawanan hanya membuat rakyat menderita.”
“Lebih baik berdamai dengan Israel.”

Pesan-pesan seperti itu disebarkan berulang kali oleh akun palsu yang seolah berasal dari warga Palestina sendiri. Ini adalah bentuk perang generasi baru: psikologis, digital, dan identitas.

—

Ketika Hoaks Menjadi Senjata Tertua dalam Sejarah Umat

Namun jika kita menengok ke belakang, tipu daya semacam ini bukanlah hal baru. Rasulullah ﷺ sendiri pernah menghadapi apa yang kini kita sebut “perang informasi”.

Dalam Perang Uhud, misalnya, muncul kabar palsu di tengah pertempuran: “Muhammad telah gugur!” Seruan itu disebarkan oleh pasukan musyrik Quraisy. Tujuannya jelas—mematahkan semangat para pejuang Islam. Beberapa sahabat sempat terguncang, bahkan sebagian menurunkan senjata. Namun Nabi ﷺ masih hidup, dan ketika mereka sadar, semangat kembali menyala.

Di masa lain, dalam Peristiwa Ifk, Aisyah radhiyallahu ‘anha difitnah melakukan hal keji. Fitnah itu menyebar cepat di Madinah, bahkan sampai ke kalangan orang beriman. Butuh hampir sebulan sampai wahyu turun membersihkan nama beliau.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah golongan dari kamu juga.” (QS An-Nur: 11)

Ayat ini bukan sekadar peringatan sejarah. Ia adalah cermin zaman. Bahwa kebohongan selalu mencari medium baru —dulu lewat bisik-bisik di pasar Madinah, kini lewat algoritma media sosial.

—

Dari Madinah ke Gaza: Cermin Dua Zaman

Ada kemiripan yang tajam antara Madinah dan Gaza. Keduanya adalah kota benteng, dikepung musuh, dan terus menjadi sasaran perang narasi.

Seperti Rasulullah ﷺ menghadapi fitnah dari dalam, Hamas dan rakyat Palestina kini menghadapi hal serupa di dunia digital. Israel berupaya menanamkan persepsi bahwa “Hamas kehilangan dukungan rakyatnya.” Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Menurut jajak pendapat Arab Barometer pada pertengahan 2024, dukungan terhadap perlawanan justru meningkat setelah agresi Israel ke Gaza. Bahkan di Tepi Barat, di mana Israel berusaha menumbuhkan kebencian terhadap Hamas, muncul gelombang simpati baru terhadap rakyat Gaza.

Di sinilah kita menyadari bahwa fitnah selalu memiliki masa kadaluarsa. Ia mungkin mengguncang kepercayaan sejenak, namun tak bisa membunuh nurani manusia yang masih mencintai keadilan.

—

Motaz Azaiza dan Kejujuran yang Tak Bisa Dipalsukan

Motaz bukan politisi, bukan komandan perang. Ia hanyalah seorang fotografer muda yang menyaksikan 108 hari genosida dari balik lensa. Namun karena pengaruhnya besar di dunia digital, Israel tahu: ia ancaman.

Maka, ia diserang bukan dengan peluru, melainkan fitnah. Dituduh melarikan diri, dituduh melawan perlawanan, bahkan dituduh “bekerja untuk asing”.
Padahal, seperti diakuinya, “Aku keluar dari Gaza bukan untuk melarikan diri, tapi untuk membawa cerita kami keluar dari reruntuhan.”

Kata-kata itu menjadi metafor indah tentang perlawanan spiritual. Karena pada akhirnya, perang melawan kebohongan bukan dengan kebohongan baru, melainkan dengan ketulusan.

—

Refleksi: Umat yang Mudah Tertipu Adalah Umat yang Lupa Membedakan Cahaya dan Kilau

Apa yang terjadi di dunia maya Palestina hari ini bukan sekadar intrik digital. Ia adalah tanda zaman —bahwa umat sedang diuji pada titik paling halus: kebenaran informasi.

BACA JUGA:  Sangkar Besi Palestina: Perangkap Global untuk Memenjarakan Palestina

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Cukuplah seseorang disebut pendusta, bila ia menceritakan segala sesuatu yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Hadis ini kini terdengar seperti nasihat teknologi informasi. Karena kita hidup di masa di mana satu unggahan bisa menyalakan perang, dan satu kebohongan bisa memadamkan solidaritas.

Ketika Hamas memperingatkan agar rakyat tidak berinteraksi dengan akun-akun mencurigakan, sesungguhnya yang mereka serukan adalah adab dasar Islam: tabayyun —memeriksa, meneliti, tidak terburu-buru percaya.

Dan di balik semua perang narasi itu, tersimpan pertanyaan batin yang harus kita jawab sebagai umat:
Apakah kita masih bisa membedakan antara cahaya kebenaran dan kilau buatan yang diciptakan musuh? []

—

Penutup: Cahaya yang Tak Bisa Ditutupi

Hamas mungkin bisa dibungkam di platform digital. Motaz mungkin dibanjiri fitnah. Namun seperti kata pepatah Arab,

“Al-haqqu la yuzam, wa in zuriba bihil-hijarah” —
“Kebenaran tak akan padam, meski dilempari batu.”

Dan sejarah Islam sudah berkali-kali membuktikannya:
Fitnah terhadap Aisyah r.a. justru melahirkan ayat yang mengabadikan kehormatan beliau.
Fitnah terhadap Rasulullah ﷺ di Uhud justru memperkokoh kesetiaan sahabat.
Fitnah terhadap perlawanan Palestina hari ini —insya Allah— justru akan melahirkan generasi yang lebih cerdas, lebih berhati-hati, dan lebih yakin pada kebenaran yang mereka bela.

Di tengah banjir informasi palsu, tugas umat bukan sekadar memilih berita mana yang benar, tapi menjadi manusia yang tidak mudah diperdaya.

Karena di setiap zaman, cahaya kebenaran selalu ada. Kadang redup oleh debu, tapi tak pernah benar-benar padam.
Dan sebagaimana Gaza yang masih berdiri di antara puing-puing, kebenaran pun akan tetap berdiri — meski dikepung akun palsu dan propaganda musuh.

“Allah akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”
(QS Ibrahim: 27) []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *