Dua Aliansi, Dua Zaman
Dalam setiap peradaban, ada masa ketika dua kekuatan besar bersatu bukan karena cinta, tapi karena ketakutan. Bukan karena nilai, tapi karena kepentingan. Sejarah Islam pada abad ke-7 dan politik global pada abad ke-21 memperlihatkan gema yang sama — antara Quraisy dan Yahudi Madinah di satu sisi, serta Amerika dan Israel di sisi lain.
Quraisy adalah simbol kekuasaan ekonomi dan sosial jazirah Arab. Mereka menguasai jalur dagang Syam–Yaman, memonopoli upacara keagamaan, dan menjadi poros kehormatan bangsa-bangsa Arab.
Sedangkan Yahudi Madinah — sebagaimana dijelaskan dalam Sirah Ibnu Hisyam dan Al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir — merupakan kekuatan cendekia dan ekonomi yang mengakar di Yatsrib. Mereka menguasai pasar, memiliki benteng-benteng kuat seperti Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah, serta memainkan politik adu domba antara suku Aus dan Khazraj.
Keduanya — Quraisy dan Yahudi — hidup dalam dunia yang mereka atur. Tapi ketika datang Rasulullah ﷺ membawa cahaya tauhid dan tatanan sosial baru, mereka melihat bukan kebenaran, melainkan ancaman. Sebab Islam menawarkan keadilan yang menghapus kasta, menghapus monopoli, dan menumbangkan struktur lama yang mereka nikmati.

Dan di sanalah, lahir aliansi ganjil: Quraisy dan Yahudi bersatu melawan Nabi. Mereka berbeda kitab, tapi satu kepentingan. Berbeda kiblat, tapi satu musuh.
Bukankah itu pula yang kita saksikan kini? Amerika Serikat dan Israel — dua bangsa dengan sejarah berbeda, tapi bersatu dalam obsesi yang sama: mempertahankan dominasi dunia, mengontrol makna, dan menundukkan suara kebenaran yang lahir dari Timur.
Amerika mewakili kekuatan global — militer, finansial, dan budaya. Israel mewakili kecerdikan, strategi, dan jaringan global. Keduanya bergandengan tangan di atas panggung sejarah seperti Quraisy dan Yahudi dahulu — menyebut diri penjaga tatanan, padahal menjaga struktur ketakutan mereka sendiri.
—
Ketakutan yang Sama, Hanya Berbeda Zaman
Ibnu Hisyam menulis bahwa Quraisy ketakutan bukan karena Rasulullah membawa pedang, tetapi karena beliau membawa ide yang mengguncang akar dominasi mereka.
Bila tauhid diterima, Ka‘bah tak lagi dimonopoli oleh mereka, harta tak lagi berputar di tangan segelintir bangsawan, dan manusia tak lagi tunduk pada nasab.
Demikian pula Yahudi Madinah. Menurut Al-Waqidi dalam Al-Maghazi, para pemuka Bani Nadhir memahami bahwa nubuwah Muhammad ﷺ mengandung makna akhir dari monopoli pengetahuan mereka. Sebab mereka membaca dalam Taurat tanda-tanda kenabian itu, namun enggan mengakuinya karena takut kehilangan status.
Di abad modern, Amerika dan Israel hidup dalam logika yang sama. Amerika memimpin dunia pasca-Perang Dunia II dengan tatanan global yang ia bentuk — ekonomi dolar, militer NATO, dan doktrin liberal-demokrasi.
Israel, hasil dari kolonialisme modern, bernaung di bawahnya sebagai pangkalan peradaban Barat di Timur Tengah. Keduanya memandang dunia Islam bukan sebagai mitra spiritual, melainkan sebagai wilayah strategis yang harus dikendalikan.
“Ketakutan mereka bukan pada kebenaran yang datang, tapi pada kehilangan kuasa untuk menafsirkannya.”
Karen Armstrong, sejarawan Barat yang memahami Islam dengan simpatik, menulis dalam The Battle for God bahwa “setiap kekaisaran yang takut pada kebenaran baru akan bersekutu untuk mempertahankan ilusi lama.” Ia berbicara tentang dunia modern, tapi seolah menulis ulang kisah Madinah abad ke-7.
—
Ekonomi, Militer, dan Retorika Moral
Baik Quraisy maupun Yahudi tidak hanya bersatu dalam ide, tetapi juga dalam kepentingan material. Quraisy membutuhkan benteng Yahudi untuk mengamankan jalur utara mereka, sementara Yahudi membutuhkan dukungan Quraisy untuk menekan kekuatan Islam yang kian berkembang.
Al-Waqidi mencatat bahwa utusan Quraisy pernah datang ke Madinah sebelum Perang Khandaq, berunding dengan Bani Nadhir untuk menyusun strategi pengepungan — gabungan perang ekonomi, diplomasi, dan psikologi.
Pola yang sama hidup di zaman modern. Amerika menyediakan senjata, diplomasi, dan media bagi Israel. Israel menyediakan posisi strategis, informasi intelijen, serta peran politik di Timur Tengah bagi Amerika.
Mereka menyebutnya “kerjasama keamanan”, namun sejatinya adalah “ketakutan kolektif” yang dikemas dalam bahasa teknologi dan modernitas.
Retorika moral mereka pun serupa. Quraisy menyebut perang melawan Islam sebagai “perlindungan terhadap tradisi nenek moyang”. Yahudi Madinah menolak kenabian Muhammad dengan alasan “menjaga kemurnian wahyu Taurat”.
Sedangkan Amerika dan Israel kini berbicara tentang “demokrasi” dan “perdamaian”, padahal menutup mata terhadap penjajahan dan genosida.
“Kata-kata luhur kadang hanyalah tirai bagi ketamakan.”
—
Dari Madinah ke Timur Tengah Modern
Jika kita menelusuri dua lembar sejarah ini — Madinah abad ke-7 dan Timur Tengah abad ke-21 — kita menemukan peta yang sama, hanya dengan warna berbeda.
Quraisy dan Yahudi disatukan oleh ketakutan kehilangan dominasi; Amerika dan Israel oleh ketakutan kehilangan kendali global. Quraisy bersekutu demi menjaga jalur perdagangan; Amerika–Israel demi menjaga jalur minyak dan geopolitik.
Quraisy membungkus perang mereka dengan klaim spiritual tentang Ka‘bah; Amerika–Israel membungkusnya dengan retorika demokrasi. Quraisy menulis sejarahnya dengan syair; Amerika–Israel dengan media.
Rashid Khalidi, sejarawan Palestina dalam bukunya The Hundred Years’ War on Palestine, menulis bahwa hubungan Amerika–Israel bukanlah sekadar hubungan aliansi, melainkan “struktur ideologis yang dibangun untuk mempertahankan dominasi kolonial dalam bentuk baru.”
Ia menyebutnya “imperial partnership,” sebuah konsep yang jika ditempatkan di zaman Nabi, tak ubahnya seperti hubungan Quraisy dan Bani Nadhir — sama-sama menciptakan perang demi mempertahankan tatanan lama.
—
Mengapa Allah Membiarkan Mereka Bersatu?
Pertanyaan ini sering menggetarkan hati para sahabat: mengapa Allah membiarkan Quraisy dan Yahudi bersekutu, bahkan hingga mengepung Madinah dalam Perang Khandaq?
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menafsirkan ayat: “Mereka bergandengan tangan untuk memadamkan cahaya Allah, tetapi Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang kafir membencinya.” (QS. As-Shaff: 8)
bahwa persatuan musuh-musuh Islam adalah ujian bagi kaum beriman — agar tampak siapa yang benar-benar sabar dan siapa yang goyah. Allah tidak mencegah aliansi itu, tapi menjadikannya jalan untuk memperlihatkan kemenangan hakiki.
Demikian pula kini. Dunia menyaksikan Amerika dan Israel berpadu dengan kekuatan media, ekonomi, dan militer. Tapi di balik itu, kita juga menyaksikan dunia yang mulai terbangun: gelombang simpati global terhadap Palestina, pembelotan moral di universitas-universitas Barat, dan kebangkitan kesadaran bahwa “keamanan” tak bisa ditegakkan di atas kuburan anak-anak Gaza.
Setiap zaman punya Khandaq-nya sendiri — garis parit yang memisahkan mereka yang beriman pada kebenaran dari mereka yang menjual nurani. Di Madinah, parit itu digali dengan tangan. Di Gaza, parit itu digali dengan sabar, darah, dan iman.
—
Retaknya Setiap Aliansi yang Dibangun atas Ketamakan
Aliansi Quraisy dan Yahudi Madinah akhirnya retak bukan karena kekuatan militer kaum Muslimin, tapi karena ketidakmurnian niat mereka sendiri. Quraisy memandang Yahudi sebagai sekutu oportunis; Yahudi melihat Quraisy sebagai kekuatan liar yang tak bisa dipercaya.
Setelah Perang Khandaq gagal, kedua pihak saling menyalahkan. Sebagaimana dicatat oleh Al-Waqidi, pasca pertempuran, tidak ada lagi persekutuan besar yang lahir di antara keduanya.
Hal yang sama kini mulai tampak di dunia modern. Amerika dan Israel tampak kokoh di permukaan, namun mulai retak di dalam. Sebagian elite Amerika mulai memandang Israel sebagai beban politik yang merusak citra global mereka.
Sebagian intelektual Yahudi di Barat justru mengkritik Zionisme karena bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Ketika genosida di Gaza berlangsung, retakan itu menjadi jurang moral.
“Setiap aliansi yang dibangun di atas ketamakan, akan mati oleh ketamakan yang sama.”
Dalam sejarah, aliansi Quraisy–Yahudi berakhir di Khandaq. Dalam politik modern, aliansi Amerika–Israel mungkin akan berakhir dalam bentuk lain — kelelahan moral, keruntuhan citra, dan krisis legitimasi.
Keduanya sedang menuju titik di mana mereka bukan lagi pahlawan global, tetapi simbol peradaban yang kehilangan hati.
—
Di Mana Umat Berdiri?
Umat Islam sering membaca sejarah sebagai pola pertempuran, tetapi Al-Qur’an mengajarkan untuk membacanya sebagai pola ilahi.
“Dan Kami bolak-balikkan hari-hari (kejayaan) itu di antara manusia, agar Allah mengetahui siapa di antara kamu yang beriman.”
(QS. Ali Imran: 140)
Kisah Quraisy dan Yahudi bukan sekadar sejarah perang, melainkan cermin peradaban: bahwa kebenaran tak selalu menang karena kekuatan, tapi karena kesetiaan pada prinsip.
Aliansi Amerika dan Israel hari ini mungkin tampak kuat secara geopolitik, tetapi mereka sedang menua dalam jiwa — kehilangan legitimasi moral yang dulu menjadi klaim utama mereka.
Seperti kata John Esposito dalam Unholy War, “Setiap peradaban yang menindas atas nama kebenaran akhirnya akan dikalahkan oleh kebenaran itu sendiri.”
Aliansi Quraisy dan Yahudi runtuh tanpa pedang besar — hanya oleh waktu, kesabaran, dan kekonsistenan Rasulullah ﷺ. Demikian pula, aliansi modern Amerika–Israel mungkin tidak akan tumbang karena misil, tapi karena bangkitnya kesadaran manusia terhadap nurani dan keadilan.
BACA JUGA: Strategi Bumi Hangus Mongol, Apakah Israel Memiliki Daya Tahan untuk Terus Berperang?
Khandaq Abadi
Bayangkan lagi parit itu di Madinah. Angin berdebu, langit memerah, dan suara pasukan Ahzab menggema. Di seberang sana, Quraisy dan Yahudi berdiri di atas keyakinan bahwa mereka akan melenyapkan Islam yang kecil itu. Tapi di seberang parit, Nabi ﷺ berdiri — memegang sekop, menggali bersama sahabat, seraya berkata,
“Allahu Akbar! Telah terbuka istana Romawi dan Persia untuk umat ini.”
Sebuah keyakinan yang lahir bukan dari kekuatan, tapi dari visi sejarah. Kini, parit itu berpindah ke Gaza, ke Quds, ke hati setiap manusia yang menolak tunduk pada kezaliman.
Dunia mungkin melihatnya sebagai konflik militer, tapi hakikatnya, ini adalah ujian spiritual yang sama — ujian untuk memilih di sisi mana nurani berdiri.
Dan seperti dulu di Madinah, akhir kisah ini pun telah ditulis oleh Tuhan:
“Mereka menulis sejarah dengan darah orang lain; tapi Allah menulis akhir sejarah dengan cahaya kebenaran.” []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

