Bener Nggak Sih Kalau Minjemin Uang Itu Dapat Pahala?

Salma Fathuraini
5 Min Read
Foto: Freepik

MEMBANTU Orang yang Sedang Kesulitan

Pernah nggak ada teman yang tiba-tiba menghubungi kita?

“Aku boleh pinjam uang nggak?”

Kadang kita langsung bingung.

Mau membantu, tetapi takut uangnya tidak kembali.

Apalagi kalau jumlahnya cukup besar.

Namun dalam Islam, membantu orang yang sedang membutuhkan adalah perbuatan yang memiliki nilai kebaikan.

Salah satunya dengan memberikan pinjaman.

Bukan berarti setiap pinjaman pasti mudah.

Tetap ada risiko.

Tetapi ketika dilakukan dengan niat yang baik, membantu orang lain dapat menjadi amal.

BACA JUGA: Apa Pengaruh Uang Haram terhadap Keluarga? Ngeriii?

Pinjaman Itu Bukan Sedekah

Ada perbedaan antara meminjamkan dan memberikan uang.

Kalau sedekah, uang diberikan tanpa kewajiban untuk dikembalikan.

Sedangkan pinjaman atau qardh adalah harta yang diberikan kepada seseorang untuk dimanfaatkan dan kemudian dikembalikan.

Karena itu, jangan menyamakan keduanya.

Orang yang meminjam tetap memiliki kewajiban untuk mengembalikan.

Rasulullah ﷺ juga memberikan perhatian besar terhadap masalah utang.

Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ bersabda bahwa seseorang yang mengambil harta orang lain dengan niat mengembalikannya akan mendapat pertolongan Allah dalam urusan tersebut.

Al-Qur’an Menyebutnya “Pinjaman yang Baik”

Ada ayat yang menarik dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 245 tentang orang yang memberikan “pinjaman yang baik” kepada Allah.

Maksudnya bukan Allah membutuhkan uang manusia.

https://s.shopee.co.id/60QNjLAHyP

Allah Mahakaya.

Ungkapan tersebut menunjukkan kemuliaan amal yang dilakukan dengan ikhlas.

Harta yang kita keluarkan untuk kebaikan tidak akan sia-sia.

Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa istilah tersebut berkaitan dengan pengeluaran harta di jalan Allah.

Membantu manusia yang membutuhkan juga termasuk bentuk kebaikan yang mendapatkan perhatian dalam pembahasan tentang qardh hasan.

Jadi, Dapat Pahala Nggak?

InsyaAllah, iya.

Meminjamkan uang kepada orang yang membutuhkan dapat menjadi amal kebaikan.

Apalagi jika kita melakukannya dengan niat membantu.

Bukan untuk mencari pujian.

Bukan untuk membuat orang tersebut merasa berutang budi.

Dan bukan untuk mendapatkan keuntungan yang tidak dibenarkan.

Pahala tidak hanya berkaitan dengan jumlah uang.

Niat juga sangat penting.

Seratus ribu rupiah yang diberikan dengan ikhlas bisa lebih berarti daripada jumlah besar yang diberikan untuk pamer.

Bahkan Memberikan Kelonggaran Juga Bernilai Kebaikan

Ada kondisi ketika orang yang meminjam ternyata belum mampu membayar.

Di sinilah kesabaran kita diuji.

Rasulullah ﷺ menceritakan seseorang yang memiliki kebiasaan memberi waktu kepada orang yang kesulitan membayar utang.

Ia bahkan meringankan sebagian utangnya.

Karena kebaikan tersebut, orang itu mendapatkan ampunan dari Allah.

Artinya, kebaikan bukan hanya ketika kita memberikan pinjaman.

Memberikan kelonggaran kepada orang yang benar-benar kesulitan juga merupakan perbuatan mulia.

Namun bukan berarti orang yang berutang boleh sengaja menghindari kewajibannya.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa menunda pembayaran utang bagi orang yang sebenarnya mampu adalah sebuah kezaliman.

Boleh Nggak Kita Menolak?

Tentu boleh.

Islam tidak mengajarkan kita untuk memaksakan diri.

Kalau uang tersebut memang kita butuhkan, kita boleh menolak dengan baik.

Kalau kita khawatir pinjaman itu justru merusak hubungan, kita juga boleh mempertimbangkannya.

Jangan meminjamkan uang dengan terpaksa.

Kemudian setelah itu kita terus mengungkitnya.

Itu justru bisa membuat hubungan menjadi tidak sehat.

Kalau memang ingin membantu tetapi tidak siap menghadapi risiko utang, kita bisa memberikan sesuai kemampuan.

Atau jika mampu, memberikan sebagian sebagai sedekah.

Jangan Jadikan Pinjaman sebagai Ajang Menekan

Ketika seseorang meminjam uang kepada kita, mungkin dia sedang berada dalam keadaan sulit.

Jangan langsung merendahkannya.

Jangan mempermalukannya.

Dan jangan menceritakan masalah utangnya kepada orang lain tanpa alasan yang dibenarkan.

Sebaliknya, orang yang meminjam juga harus menjaga amanah.

Kalau sudah mampu, segera bayar.

Kalau belum mampu, komunikasikan dengan jujur.

Karena utang bukan sekadar urusan uang.

Ada amanah di dalamnya.

BACA JUGA: Bolehkah Tak Menanggapi Chat Pinjam Uang dari Saudara?

Kesimpulan

Iya, meminjamkan uang kepada orang yang membutuhkan bisa mendapatkan pahala.

Tetapi yang membuatnya bernilai adalah niat dan caranya.

Kita membantu karena ingin meringankan beban.

Bukan karena ingin dipuji.

Bukan karena ingin berkuasa atas orang lain.

Dan bukan untuk mengambil keuntungan yang dilarang.

Kalau kita punya kemampuan, membantu adalah kebaikan.

Kalau kita belum mampu, menolak dengan cara yang baik juga tidak salah.

Karena dalam Islam, kebaikan tidak harus membuat kita kehilangan kendali atas kehidupan sendiri.

Yang penting adalah membantu dengan ikhlas.

Menjaga amanah.

Dan tetap memperlakukan orang lain dengan baik. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *