Jika Ditakdirkan Masuk Neraka, Mengapa Harus Repot-Repot Ibadah? Ini Penjelasannya

Yudi
By Yudi
12 Min Read
Foto: Freepik

PERNAHKAH kita mendengar seseorang berkata, “Kalau Allah sudah menakdirkan saya masuk neraka, buat apa saya repot-repot shalat, puasa, dan melakukan kebaikan? Toh, akhirnya tetap masuk neraka juga.” Pertanyaan seperti ini sering muncul ketika seseorang membicarakan takdir, nasib manusia, dan kehidupan setelah kematian. Sekilas, pemikiran tersebut terdengar masuk akal, tetapi jika dipahami lebih dalam, ada kekeliruan dalam cara memandang takdir Allah dan tanggung jawab manusia.

Dalam Islam, iman kepada takdir merupakan bagian dari rukun iman. Seorang Muslim meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Namun, pengetahuan Allah tentang masa depan tidak berarti manusia dipaksa melakukan segala perbuatannya tanpa pilihan dan tanggung jawab. Karena itu, menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah merupakan pemahaman yang keliru dan berbahaya bagi kehidupan seorang Muslim.

BACA JUGA: Rahasia Takdir Ilahi: yang Dibenci pun Menjadi Jalan Kebaikan

1. Allah Mengetahui Takdir, tetapi Manusia Tetap Bertanggung Jawab atas Perbuatannya

Allah mengetahui siapa yang akan beriman, siapa yang akan berbuat baik, dan siapa yang memilih melakukan kemaksiatan. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya. Akan tetapi, manusia tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupannya, apakah akan meninggal dalam keadaan beriman atau justru sebaliknya. Selama masih hidup, seseorang tidak mempunyai dasar untuk memastikan dirinya pasti menjadi penghuni surga atau neraka.

Di sinilah letak kekeliruan orang yang berkata bahwa ibadah tidak berguna karena nasibnya sudah ditentukan. Ia berbicara seolah-olah sudah mengetahui isi takdir yang menjadi rahasia Allah, padahal ia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Ia tidak tahu apakah setelah bertaubat hidupnya akan berubah, apakah setelah memperbaiki shalat hatinya akan menjadi lebih baik, atau apakah suatu amal kebaikan akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah kepadanya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 29 bahwa kebenaran berasal dari Tuhan, kemudian manusia diberi pilihan untuk beriman atau ingkar, dengan konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Ayat ini tidak berarti manusia berada di luar kehendak Allah, tetapi menunjukkan bahwa manusia tidak boleh menggunakan takdir sebagai alasan untuk mengabaikan tanggung jawabnya. Kita diperintahkan untuk memilih jalan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan sesuai petunjuk yang telah Allah berikan.

2. Kita Tidak Mengetahui Apakah Takdir Kita Berakhir di Surga atau Neraka

Bayangkan seseorang berkata, “Kalau saya ditakdirkan miskin, buat apa bekerja? Kalau saya ditakdirkan sakit, buat apa menjaga kesehatan? Kalau saya ditakdirkan gagal, buat apa belajar?” Kebanyakan orang tentu akan menganggap pemikiran tersebut tidak masuk akal. Mereka tetap bekerja, berobat, menjaga kesehatan, dan belajar karena memahami bahwa manusia harus berusaha tanpa mengetahui hasil akhirnya secara pasti.

Begitu pula dalam urusan ibadah. Kita tidak mengetahui apakah amal kita akan diterima, bagaimana akhir kehidupan kita, dan seperti apa keadaan kita ketika menghadap Allah kelak. Oleh sebab itu, kewajiban kita bukan menebak-nebak takdir, melainkan menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya. Ketidakpastian mengenai masa depan seharusnya membuat kita semakin berhati-hati dan bersungguh-sungguh, bukan justru menjadi alasan untuk berhenti beribadah.

Seseorang yang belum pernah shalat tidak dapat mengatakan bahwa dirinya pasti ditakdirkan masuk neraka. Begitu pula orang yang pernah melakukan dosa besar tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih hidup, pintu taubat tetap terbuka, dan manusia masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita tidak mengetahui akhir perjalanan seseorang, sehingga tidak pantas menjadikan takdir sebagai alasan untuk menyerah sebelum berusaha.

3. Takdir Allah Tidak Menghapus Kewajiban Beribadah

Allah memerintahkan manusia untuk beribadah, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Perintah tersebut tetap berlaku bagi manusia selama ia hidup dan memiliki kemampuan untuk menjalankannya. Tidak ada ajaran yang membenarkan seseorang meninggalkan shalat wajib dengan alasan bahwa dirinya belum mengetahui takdir akhiratnya.

Rasulullah SAW juga mengajarkan agar manusia beramal dan tidak menyerah kepada anggapan bahwa semuanya telah ditentukan. Dalam hadis riwayat Muslim, ketika para sahabat bertanya mengenai takdir dan amal, Nabi menjelaskan bahwa setiap orang akan dimudahkan menuju jalan yang menjadi tujuannya, kemudian beliau membacakan makna ayat-ayat tentang orang yang memberi, bertakwa, dan membenarkan kebaikan. Hadis ini menunjukkan pentingnya amal sekaligus keyakinan terhadap takdir Allah.

Dengan demikian, iman kepada takdir tidak seharusnya membuat seseorang menjadi pasif. Justru, seorang Muslim perlu menjalankan perintah Allah karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya. Kita shalat bukan karena sudah memastikan diri masuk surga, melainkan karena Allah memerintahkannya dan kita berharap memperoleh rahmat serta ampunan-Nya. Kita menjauhi dosa bukan karena merasa pasti selamat, melainkan karena takut kepada hukuman Allah dan ingin mendapatkan keridaan-Nya.

https://s.shopee.co.id/4AzgbbG5uj

4. Bukankah Allah Sudah Mengetahui Siapa yang Akan Masuk Surga dan Neraka?

Benar, Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk akhir kehidupan setiap manusia. Tidak ada satu pun kejadian yang berada di luar pengetahuan-Nya. Namun, ada perbedaan antara Allah mengetahui apa yang akan dilakukan seseorang dan seseorang dipaksa melakukan perbuatan itu tanpa kehendak sama sekali.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan seseorang tentang suatu kejadian tidak otomatis menjadi penyebab kejadian tersebut. Tentu saja, perbandingan ini tidak sepenuhnya menggambarkan ilmu Allah yang sempurna, tetapi dapat membantu kita memahami bahwa mengetahui sesuatu tidak selalu sama dengan memaksakan sesuatu. Dalam akidah Islam, manusia memiliki kehendak dan kemampuan untuk memilih dalam batas yang Allah kehendaki, dan pilihan itu menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Insan ayat 3 bahwa Dia telah menunjukkan jalan kepada manusia, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Ayat ini menunjukkan adanya petunjuk dan respons manusia terhadap petunjuk tersebut. Karena itu, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa seseorang boleh berbuat dosa sesuka hati hanya karena Allah sudah mengetahui apa yang akan dilakukannya.

5. Kalau Takdir Sudah Tertulis, Mengapa Kita Harus Berusaha Mengubah Diri?

Pertanyaan ini juga perlu dijawab dengan memahami bahwa manusia diperintahkan untuk berusaha, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Ketika seseorang ingin mendapatkan rezeki halal, ia bekerja dengan cara yang dibenarkan. Ketika ingin sembuh dari penyakit, ia berobat dan menjaga kesehatannya. Ketika ingin memperoleh ampunan Allah, ia bertaubat, meninggalkan dosa, dan berusaha memperbaiki amalnya.

Usaha bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan takdir, melainkan bagian dari kehidupan yang telah Allah tetapkan. Kita tidak mengetahui apa yang tertulis bagi diri kita, sehingga tidak mempunyai alasan untuk meninggalkan sebab-sebab kebaikan. Bisa jadi, keputusan untuk bertaubat hari ini menjadi bagian dari jalan yang mengantarkan seseorang menuju akhir kehidupan yang lebih baik.

Misalnya, seseorang yang selama bertahun-tahun meninggalkan shalat kemudian menyadari kesalahannya dan mulai memperbaiki diri. Ia tidak perlu menunggu kepastian tentang takdirnya sebelum melaksanakan shalat. Ia cukup mengetahui bahwa shalat merupakan kewajiban, kemudian menjalankannya dengan sungguh-sungguh sambil memohon pertolongan Allah agar istiqamah. Yang perlu ia lakukan adalah terus berusaha, bukan mencari-cari alasan untuk mempertahankan kebiasaan buruk.

6. Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah, tetapi Jangan Pula Merasa Pasti Selamat

Ada dua sikap keliru yang perlu dihindari ketika membicarakan surga dan neraka. Pertama, seseorang merasa dirinya pasti masuk neraka sehingga menganggap semua ibadah tidak berguna. Kedua, seseorang merasa dirinya pasti masuk surga sehingga meremehkan dosa dan menganggap taubat tidak lagi diperlukan. Kedua sikap tersebut dapat menjauhkan manusia dari kesungguhan dalam menjalani kehidupan beragama.

Islam mengajarkan keseimbangan antara rasa takut terhadap hukuman Allah dan harapan terhadap rahmat-Nya. Kita takut melakukan dosa karena mengetahui bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi, tetapi kita juga berharap mendapatkan ampunan karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Rasa takut tidak boleh membuat kita putus asa, sedangkan harapan tidak boleh membuat kita berani meremehkan perintah-Nya.

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53 agar hamba-hamba-Nya yang melampaui batas terhadap diri sendiri tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ayat ini memberikan harapan kepada orang yang pernah berbuat dosa agar kembali kepada-Nya. Selama masih hidup, jangan merasa perubahan sudah terlambat, sebab kita tidak mengetahui bagaimana Allah akan membimbing dan mengakhiri perjalanan hidup kita.

7. Ibadah Bukan Sekadar Cara Mendapatkan Surga

Ada hal penting lain yang sering terlupakan, yaitu ibadah bukan hanya tentang mengejar pahala dan menghindari neraka. Ibadah merupakan bentuk penghambaan kepada Allah, ungkapan syukur atas nikmat-Nya, dan wujud ketaatan seorang hamba kepada Penciptanya. Kita beribadah karena Allah memang berhak disembah, bukan semata-mata karena ingin memperoleh keuntungan bagi diri sendiri.

Shalat, misalnya, mengingatkan manusia agar tidak melupakan Allah di tengah kesibukan dunia. Puasa melatih pengendalian diri, sedangkan zakat dan sedekah mendidik manusia agar tidak diperbudak oleh harta. Ketika dilakukan dengan benar, ibadah juga membantu seseorang membangun disiplin, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama, meskipun manfaat tersebut tidak menggantikan kedudukan ibadah sebagai kewajiban.

Karena itu, seseorang tidak seharusnya berkata bahwa ia tidak perlu beribadah hanya karena merasa masa depannya telah ditentukan. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah yang Allah tetapkan dalam kehidupan, tetapi kita mengetahui perintah yang harus dijalankan. Tugas manusia adalah beriman, beramal saleh, bertaubat ketika melakukan kesalahan, dan memohon agar Allah menerima amalnya.

Jika seseorang ditakdirkan masuk neraka, mengapa ia masih harus beribadah? Jawabannya, karena manusia tidak mengetahui takdir akhir dirinya, sedangkan Allah telah memerintahkan manusia untuk beribadah dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pengetahuan Allah tentang masa depan tidak memberikan alasan kepada manusia untuk meninggalkan kewajiban atau sengaja memilih jalan kemaksiatan.

BACA JUGA: Agar Berdosa itu Menjadi Takdir Baik

Jangan sampai kita menggunakan sesuatu yang tidak kita ketahui sebagai pembenaran untuk tidak melakukan sesuatu yang sudah jelas diperintahkan. Kita tidak mengetahui apakah akan hidup sampai besok, tetapi tetap merencanakan kehidupan. Kita tidak mengetahui apakah usaha akan berhasil, tetapi tetap bekerja. Begitu pula dengan ibadah, kita tidak mengetahui akhir perjalanan di akhirat, tetapi tetap harus menjalankan perintah Allah dengan penuh harapan dan kesungguhan.

Pada akhirnya, manusia bukan diperintahkan untuk memastikan takdirnya terlebih dahulu, melainkan untuk menjalani hidup sesuai petunjuk Allah. Jangan berkata, “Kalau saya ditakdirkan masuk neraka, buat apa beribadah?” Ubahlah menjadi, “Karena saya tidak mengetahui akhir kehidupan saya, saya akan terus berusaha taat, bertaubat, dan memohon rahmat Allah.” Sebab, selama napas masih berhembus, kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada, dan tidak seorang pun berhak memastikan dirinya atau orang lain akan berakhir di surga maupun neraka tanpa dasar yang dibenarkan oleh wahyu. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *