DI tengah kehidupan umat Islam, terkadang kita menjumpai orang yang sangat mudah menyebut amalan sesama Muslim sebagai bid’ah. Ketika melihat seseorang membaca doa bersama, mengadakan kegiatan keagamaan tertentu, memperingati peristiwa bersejarah dalam Islam, atau menjalankan tradisi keagamaan yang berbeda dari kebiasaannya, ia langsung memberikan penilaian bahwa amalan tersebut menyimpang. Bahkan, dalam beberapa keadaan, perbedaan praktik ibadah yang sebenarnya memiliki pembahasan panjang di kalangan ulama justru menjadi sumber pertengkaran dan saling menyalahkan.
Lantas, mengapa ada orang yang begitu mudah menuduh perbuatan bid’ah kepada sesama Muslim? Apakah mereka memang ingin menjaga kemurnian agama, kurang memahami perbedaan pendapat ulama, atau terlalu yakin bahwa pemahamannya sendiri merupakan satu-satunya kebenaran? Persoalan ini perlu dibahas secara hati-hati karena bid’ah memang merupakan pembahasan penting dalam Islam, tetapi menilai suatu amalan tidak boleh dilakukan secara sembarangan, apalagi sampai merendahkan kehormatan sesama Muslim.
BACA JUGA: Apakah Boleh Seorang Muslim Mengelus Seekor Anjing?
1. Terlalu Yakin Bahwa Pemahamannya Sendiri Paling Benar
Salah satu penyebab seseorang mudah menuduh amalan orang lain sebagai bid’ah adalah keyakinan yang terlalu kuat bahwa pemahamannya sendiri merupakan representasi tunggal dari ajaran Islam yang benar. Ia mungkin mempelajari dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis, kemudian menemukan penjelasan ulama yang sesuai dengan pemahamannya. Namun, ia tidak selalu menyadari bahwa persoalan fikih dan praktik keagamaan tertentu terkadang memiliki penafsiran yang berbeda di kalangan ulama yang sama-sama berusaha mengikuti petunjuk agama.
Ketika seseorang merasa hanya pendapatnya yang benar, pendapat berbeda mudah dianggap sebagai kesalahan, bahkan penyimpangan. Ia mungkin tidak lagi tertarik mempelajari alasan orang lain melakukan suatu amalan, sumber dalil yang mereka gunakan, atau bagaimana para ulama membahas persoalan tersebut. Akibatnya, diskusi yang seharusnya menjadi sarana mencari ilmu berubah menjadi ajang membuktikan bahwa kelompok sendiri paling benar.
Padahal, seorang Muslim perlu membedakan antara keyakinan terhadap pendapat yang dianggap kuat dan anggapan bahwa semua orang yang berbeda pendapat pasti menyimpang. Seseorang boleh berpegang teguh pada pendapat ulama yang diyakininya, tetapi keteguhan tersebut hendaknya disertai kerendahan hati. Memahami bahwa pengetahuan manusia terbatas merupakan bagian penting dalam menjaga adab ketika membicarakan agama.
2. Kurang Memahami Perbedaan antara Bid’ah dan Perbedaan Pendapat dalam Fikih
Istilah bid’ah memiliki pembahasan yang luas dalam khazanah keilmuan Islam. Secara umum, bid’ah dalam konteks agama berkaitan dengan perkara baru yang dimasukkan ke dalam agama tanpa dasar yang dibenarkan oleh syariat. Akan tetapi, para ulama memiliki perincian dan pendekatan yang berbeda dalam menjelaskan pengertian bid’ah, termasuk bagaimana mengklasifikasikan perkara baru dan membedakan antara urusan ibadah mahdhah dengan sarana atau kebiasaan yang mendukung pelaksanaan agama.
Perbedaan pendekatan tersebut dapat ditemukan dalam pembahasan para ulama klasik maupun kontemporer. Ada ulama yang menggunakan pembagian bid’ah berdasarkan hukum taklifi, sedangkan ulama lain lebih menekankan pengertian bid’ah syar’iyyah sebagai perkara baru dalam agama yang tercela. Karena itu, memahami satu definisi saja tanpa mempelajari konteks dan penjelasan ulama lain dapat membuat seseorang terlalu cepat memberikan vonis terhadap praktik keagamaan yang belum tentu termasuk dalam kategori yang ia bayangkan.
Misalnya, penggunaan pengeras suara untuk azan, pencetakan mushaf dalam bentuk modern, atau penyelenggaraan kajian dengan jadwal teratur merupakan hal-hal yang berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Tidak setiap hal yang tidak dilakukan persis dalam bentuk yang sama pada masa Nabi otomatis menjadi bid’ah yang tercela. Sebaliknya, suatu amalan juga tidak otomatis dibenarkan hanya karena dianggap baik oleh pelakunya. Penilaiannya perlu mempertimbangkan jenis perbuatan, tujuan, dalil, dan kaidah syariat yang relevan.
3. Menganggap Semua Perkara yang Tidak Dicontohkan Nabi Pasti Haram
Ada orang yang menggunakan satu prinsip secara sangat sederhana: jika suatu amalan tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam bentuk yang persis sama, maka amalan tersebut pasti bid’ah dan harus ditinggalkan. Sekilas, prinsip ini terlihat sebagai bentuk kehati-hatian dalam beragama. Namun, penerapannya tanpa memahami perbedaan antara ibadah yang bersifat khusus dan sarana pelaksanaan ibadah dapat menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Dalam ibadah mahdhah, umat Islam memang dituntut mengikuti tuntunan syariat dan tidak membuat tata cara ibadah sesuka hati. Jumlah rakaat shalat Subuh, misalnya, tidak boleh diubah hanya karena seseorang menganggap jumlah yang lebih banyak akan lebih baik. Akan tetapi, sarana untuk memudahkan pelaksanaan ibadah, seperti penggunaan pengeras suara, aplikasi pengingat waktu shalat, atau pencetakan buku panduan, tidak otomatis memiliki hukum yang sama dengan penambahan tata cara ibadah itu sendiri.
Oleh sebab itu, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan membuat ibadah baru dan apa yang sekadar merupakan sarana atau pengaturan teknis. Tidak semua perkara baru tercela, tetapi tidak semua amalan yang diberi label kegiatan keagamaan otomatis dibenarkan. Penilaian yang tepat membutuhkan ilmu, bukan hanya berdasarkan kesimpulan singkat bahwa sesuatu tidak pernah dilakukan dalam bentuk yang persis sama pada masa Nabi.

4. Terlalu Bersemangat Menjaga Kemurnian Agama, tetapi Melupakan Adab
Tidak sedikit orang yang menuduh amalan tertentu sebagai bid’ah karena benar-benar ingin menjaga kemurnian agama. Niat semacam ini pada dasarnya dapat muncul dari kepedulian terhadap ajaran Islam. Mereka khawatir umat Islam melakukan ibadah tanpa dasar yang kuat, mengikuti kebiasaan yang bertentangan dengan syariat, atau menganggap suatu amalan wajib padahal tidak pernah diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Namun, niat yang baik tidak otomatis menjadikan semua cara penyampaian benar. Menasihati orang lain dengan kasar, mempermalukan mereka di depan umum, atau menganggap mereka tidak memahami agama hanya karena berbeda pendapat dapat menimbulkan permusuhan. Orang yang dinasihati mungkin akhirnya lebih sibuk mempertahankan harga dirinya daripada mempertimbangkan dalil yang disampaikan.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125 agar manusia menyeru ke jalan Tuhan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdialog dengan cara yang terbaik. Ayat ini mengajarkan bahwa menyampaikan kebenaran tidak cukup hanya dengan membawa dalil, tetapi juga perlu memperhatikan cara, keadaan orang yang dinasihati, dan tujuan yang ingin dicapai. Menjaga kemurnian agama hendaknya berjalan bersama dengan akhlak yang baik, bukan menjadi alasan untuk merendahkan sesama Muslim.
5. Terbiasa Mengikuti Pendapat Kelompok Tanpa Mempelajari Persoalannya Secara Mendalam
Lingkungan pergaulan dan komunitas keagamaan dapat memengaruhi cara seseorang memahami perbedaan. Jika seseorang terus-menerus mendengar bahwa kelompok tertentu selalu melakukan bid’ah, lama-kelamaan ia mungkin menerima penilaian tersebut tanpa memeriksa amalan yang dimaksud. Bahkan, sebelum mengetahui dalil atau penjelasan pihak yang berbeda, ia sudah memiliki kesimpulan bahwa mereka pasti salah.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu kelompok tertentu. Siapa pun dapat terjebak dalam kebiasaan membenarkan kelompok sendiri dan mencurigai kelompok lain. Seseorang bisa saja menghafal banyak istilah agama, mengikuti ceramah dari berbagai sumber, dan aktif dalam kegiatan dakwah, tetapi tetap kesulitan bersikap adil ketika menghadapi perbedaan pendapat. Banyaknya informasi yang diterima tidak selalu sejalan dengan kedalaman pemahaman dan kematangan sikap.
Untuk menghindarinya, seorang Muslim perlu membiasakan diri mempelajari persoalan secara utuh. Jangan hanya mendengar satu pihak yang mengkritik sebuah amalan, tetapi pelajari pula dalil dan argumentasi orang yang melakukannya, termasuk penjelasan ulama yang menjadi rujukan mereka. Tujuannya bukan agar semua pendapat dianggap benar, melainkan supaya penilaian yang diberikan memiliki dasar ilmu dan tidak semata-mata mengikuti prasangka terhadap kelompok tertentu.
6. Tidak Membedakan antara Mengkritik Amalan dan Menghakimi Pelakunya
Hal lain yang sering menimbulkan masalah adalah ketidakmampuan membedakan penilaian terhadap suatu perbuatan dengan penilaian terhadap orang yang melakukannya. Mengatakan bahwa suatu amalan tidak memiliki dasar yang kuat merupakan pembahasan ilmiah yang dapat didiskusikan. Namun, menyimpulkan bahwa setiap orang yang melakukan amalan tersebut pasti sesat, bodoh, atau tidak memahami Islam merupakan persoalan yang berbeda dan membutuhkan kehati-hatian lebih besar.
Seseorang mungkin melakukan suatu amalan karena mengikuti guru yang dipercayainya, berpegang pada pendapat ulama tertentu, atau memahami dalil dengan cara yang berbeda. Kondisi tersebut perlu dipertimbangkan sebelum memberikan penilaian terhadap dirinya. Tentu saja, alasan mengikuti orang lain tidak membuat suatu amalan otomatis benar, tetapi kita juga tidak boleh menganggap semua orang yang keliru dalam satu persoalan memiliki niat buruk atau sengaja menentang agama.
Dalam berdakwah, kritik sebaiknya diarahkan pada persoalan dan argumentasinya, bukan digunakan sebagai alat untuk mempermalukan orang. Jika suatu amalan memang dinilai tidak sesuai dengan syariat berdasarkan penjelasan yang kuat, sampaikan alasan dan dalilnya secara jelas. Dengan demikian, orang yang menerima nasihat memiliki kesempatan untuk memahami persoalan, bukan sekadar merasa diserang oleh orang yang menganggap dirinya lebih benar.
7. Bagaimana Sikap yang Tepat Ketika Menemukan Amalan yang Diduga Bid’ah?
Ketika menemukan praktik keagamaan yang diragukan, langkah pertama adalah mencari tahu apa sebenarnya yang dilakukan dan bagaimana pelakunya memahami amalan tersebut. Jangan langsung mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan video, unggahan media sosial, atau pernyataan seseorang yang belum tentu menjelaskan persoalan secara lengkap. Informasi yang tidak utuh dapat membuat suatu amalan terlihat berbeda dari kenyataan yang sebenarnya.
Langkah berikutnya adalah memeriksa dalil dan penjelasan ulama yang memiliki kompetensi dalam bidang tersebut. Jika persoalannya termasuk perbedaan pendapat yang diakui di kalangan ulama, hendaknya kita memahami alasan masing-masing pendapat dan tidak tergesa-gesa menuduh orang lain menyimpang. Adapun jika suatu amalan jelas bertentangan dengan ajaran Islam, umat Islam tetap perlu memberikan nasihat dengan cara yang bijaksana dan berdasarkan ilmu.
Terakhir, perhatikan tujuan ketika menyampaikan kritik. Apakah kita benar-benar ingin membantu sesama Muslim memahami agama, atau justru ingin menunjukkan bahwa kelompok kita lebih unggul? Pertanyaan ini penting karena seseorang dapat menggunakan istilah agama untuk menutupi kesombongan dan keinginan merendahkan orang lain. Dakwah yang baik bukan berarti menghindari semua perbedaan, melainkan berusaha menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan keadilan, kesabaran, dan kasih sayang.
BACA JUGA: 5 Pembabakan Umat Muslim di Dunia Menurut Hadis Nabi
Mengapa ada kelompok yang sangat mudah menuduh perbuatan bid’ah kepada sesama Muslim? Penyebabnya dapat beragam, mulai dari pemahaman yang belum menyeluruh, keyakinan berlebihan terhadap pendapat sendiri, penerapan kaidah agama secara sederhana, hingga kebiasaan mengikuti penilaian kelompok tanpa mempelajari persoalan secara mendalam. Ada pula orang yang memang berniat menjaga kemurnian agama, tetapi belum mampu menyeimbangkan semangat tersebut dengan adab dan kebijaksanaan.
Kita perlu memahami bahwa membahas bid’ah merupakan bagian dari pembelajaran agama yang penting. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menerima semua amalan tanpa memeriksa dasar syariatnya. Namun, kehati-hatian dalam beribadah juga harus disertai kehati-hatian dalam menilai orang lain, terutama ketika persoalan tersebut masih menjadi ruang perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Pada akhirnya, seorang Muslim hendaknya tidak mudah menuduh sesama Muslim hanya karena mereka menjalankan amalan yang berbeda. Pelajari persoalannya, periksa dalilnya, pahami penjelasan ulama, dan sampaikan pendapat dengan akhlak yang baik. Kita boleh berbeda dalam memahami suatu persoalan, tetapi perbedaan itu seharusnya menjadi kesempatan untuk menambah ilmu dan memperbaiki diri, bukan alasan untuk saling merendahkan dan memecah belah persaudaraan umat Islam. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
