ALLAH telah berfirman bahwa dinding yang dibangun oleh Zulqarnain mencegah Ya’juj dan Ma’juj untuk keluar. “Mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat melubanginya.” (QS. Al-Kahfi: 97).
Allah juga mengabarkan bahwa keadaan itu berlanjut sampai akhir zaman, ketika datang janji Allah. Pada saat itu, dinding tersebut runtuh dan mereka keluar mendatangi manusia. “Jika sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji Tuhanku adalah benar.” (QS. Al-Kahfi: 98).
Mereka keluar mendatangi manusia dengan berbondong-bondong seperti ombak laut. “Pada hari itu Kami biarkan mereka bercampuraduk satu dengan yang lain.” (QS. Al-Kahfi: 99).
Kejadian itu dekat dengan terjadinya kiamat dan ditiupnya sangkakala. Allah berfirman, “Kemudian ditiuplah sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka semua.” (QS. Al-Kahfi: 99).
Dalam surah lain, Allah mengabarkan bahwa mereka melubangi dinding dan keluar. “Hingga apabila tembok Ya’juj dan Ma’juj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi, dan kedatangan janji yang benar telah dekat, tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir seraya berkata, ‘Betapa celakanya kami.’” (QS. Al-Anbiya: 96–97).
BACA JUGA: Mungkinkah Dajjal, Nabi Isa, Atau Mahdi Keluar Pada Zaman Kita?
Hal ini terjadi di akhir zaman. Firman Allah, “Dan mereka turun dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi.” (QS. Al-Anbiya: 96). Artinya, mereka dengan cepat membuat kerusakan di bumi. “Tempat yang tinggi” artinya yang sombong di bumi. Begitulah sifat mereka ketika mereka keluar.
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa pada zaman beliau, tembok Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka sebesar lingkaran ibu jari dan telunjuk. Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Zainab binti Jahsy bahwa Rasulullah ﷺ datang kepadanya dalam keadaan kaget dan bersabda, “Laa ilaaha illallaah, celakalah orang Arab karena kejahatan yang sudah dekat! Tembok Ya’juj dan Ma’juj sudah terbuka sebesar ini.” Beliau kemudian membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya.
Zainab bertanya, “Ya Rasulullah ﷺ, apakah kita akan binasa, padahal ada orang-orang saleh di antara kita?”
Beliau menjawab, “Ya, jika kekejian telah merajalela.” (145 Shahih Al-Bukhari, bab “Fitnah”, subbab “Ya’juj dan Ma’juj”. Lihat Fath Al-Bari, XIII, hlm. 106).
Ya’juj dan Ma’juj keluar setelah turunnya Isa bin Maryam dan setelah beliau mengalahkan Dajal. Dalam Shahih Muslim, dalam hadis panjang riwayat An-Nuwwas bin Sam’an, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setelah Dajal dikalahkan, Allah mewahyukan kepada Isa, “Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak mampu diperangi oleh seorang pun.”
Hamba-hamba Allah tersebut naik ke gunung untuk berlindung dan mencari keamanan. Allah kemudian mengutus Ya’juj dan Ma’juj. Mereka keluar dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi. Rombongan pertama mereka melewati Danau Thabariyah, sebuah danau besar di Palestina yang airnya lezat, lalu mereka meminumnya. Kemudian rombongan terakhir mereka melewatinya dan berkata, “Di sini pernah ada air.”
Nabi Isa a.s. dan para sahabatnya kemudian dikepung sehingga satu kepala sapi lebih baik bagi mereka daripada seratus dinar pada saat itu. Nabi Isa a.s. dan para sahabatnya lalu berdoa kepada Allah. Allah mengirimkan ulat-ulat ke leher Ya’juj dan Ma’juj sehingga mereka mati sekaligus.
Isa a.s. dan para sahabatnya kemudian turun. Mereka mendapati setiap jengkal tanah dipenuhi bau dan lendir mayat-mayat. Mereka lalu berdoa kepada Allah, dan Dia mengirimkan burung-burung seperti unta Khurasan yang mengambil dan membuang mayat-mayat itu ke tempat yang dikehendaki-Nya.
Kemudian Allah menurunkan hujan yang membasahi seluruh tanah dan mencuci bumi sehingga menjadi laksana cermin. (146 Shahih Muslim, IV, hlm. 2254, no. 2937).
Allah Swt. menyebutkan dalam surah Al-Kahfi bahwa Zulqarnain, dalam perjalanannya, sampai ke suatu tempat di antara dua gunung. Di sana, ia menemukan suatu kaum yang nyaris tidak memahami perkataan. Kaum tersebut mengadukan kepadanya bahaya yang mengancam mereka dari Ya’juj dan Ma’juj serta memintanya untuk membangun sebuah tembok yang dapat melindungi mereka dari kejahatan Ya’juj dan Ma’juj.
Zulqarnain memenuhi permintaan mereka. Allah berfirman, “Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, dia mendapati di hadapan dua bukit itu suatu kaum yang nyaris tidak mengerti pembicaraan. Kaum itu berkata, ‘Hai Zulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj membuat kerusakan di muka bumi. Dapatkah kami membayar Anda supaya Anda membuat dinding antara kami dan mereka?’ Zulqarnain berkata, ‘Yang telah diberikan oleh Tuhanku kepadaku adalah lebih baik. Cukup tolonglah saya dengan pekerja-pekerja agar saya dapat membuatkan dinding antara kalian dan mereka. Berilah saya potongan-potongan besi.’
Saat besi itu sudah sama rata dengan kedua puncak gunung, berkatalah Zulqarnain, ‘Tiuplah api itu!’ Ketika besi sudah memerah seperti api, Zulqarnain berkata, ‘Berilah saya tembaga yang mendidih untuk saya tuangkan ke atas besi panas itu.’
Ya’juj dan Ma’juj tidak dapat mendakinya dan tidak dapat melubanginya. Zulqarnain berkata, ‘Ini adalah rahmat dari Tuhanku. Maka jika sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji Tuhanku itu adalah benar.’” (QS. Al-Kahfi: 93–99).
BACA JUGA: Fitnah Ya’juj Ma’juj
Ya’juj dan Ma’juj adalah dua bangsa yang banyak jumlahnya. Mereka berasal dari keturunan Adam, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Allah berfirman pada hari kiamat, “Hai Adam!” Adam menyahut, “Ya, Tuhanku.” Allah berkata, “Bangkitkanlah kebangkitan neraka!” Adam bertanya, “Apakah kebangkitan neraka itu?” Allah menjawab, “Dari setiap seribu ada 999 ke neraka dan satu ke surga.” Pada saat itu, anak kecil akan beruban dan orang yang mengandung akan melahirkan. Allah berfirman, “Di antara kalian ada dua bangsa yang banyak dalam segala sesuatunya, yaitu Ya’juj dan Ma’juj.”
Ibnu Katsir, setelah menyebutkan hadis ini, berkata, “Dalam Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi menyampaikan cerita dari beberapa orang bahwa Ya’juj dan Ma’juj diciptakan dari air mani yang keluar dari Adam yang bercampur dengan tanah. Jadi, mereka diciptakan dari Adam, tanpa melibatkan Hawa.”
Ibnu Katsir membantah dan menolak pendapat tersebut dengan mengatakan, “Ini adalah pendapat yang sangat aneh, di samping tidak memiliki dalil, baik akli maupun nakli. Dalam masalah ini, tidak boleh memegang perkataan Ahlulkitab karena mereka mempunyai cerita-cerita yang dibuat-buat.” (Tafsir Ibnu Katsir, IV, hlm. 423). []
SUMBER: HUMAYRO
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


