KISAH Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu cerita yang menarik perhatian umat Islam. Mereka disebut dalam Al-Qur’an sebagai kaum yang akan menimbulkan kerusakan di bumi, sementara kemunculan mereka pada akhir zaman termasuk perkara yang dikaitkan dengan tanda-tanda besar menjelang hari kiamat. Salah satu bagian paling menarik dari kisah ini adalah pembangunan tembok penghalang oleh seorang penguasa saleh yang dikenal sebagai Dzulkarnaen. Lantas, di manakah sebenarnya gunung tempat Ya’juj dan Ma’juj dikurung? Apakah lokasinya sudah diketahui secara pasti oleh para ahli sejarah dan ulama?
Kisah Ya’juj dan Ma’juj dalam Al-Qur’an
Kisah Dzulkarnaen dan pembangunan penghalang untuk menghadapi Ya’juj dan Ma’juj terdapat dalam Surah Al-Kahfi ayat 83–98. Dalam ayat-ayat tersebut, Allah menceritakan perjalanan Dzulkarnaen ke berbagai wilayah hingga akhirnya bertemu dengan suatu kaum yang meminta pertolongannya. Mereka mengeluhkan gangguan Ya’juj dan Ma’juj yang membuat kerusakan di bumi.
BACA JUGA: 10 Fakta tentang Dajjal Berdasarkan Hadits Nabi
Kaum tersebut menawarkan imbalan kepada Dzulkarnaen agar membangun penghalang di antara mereka dan Ya’juj dan Ma’juj. Namun, Dzulkarnaen tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama. Ia bersedia membantu dengan memanfaatkan kekuatan, kemampuan, dan tenaga manusia yang tersedia untuk membangun penghalang yang kokoh.
Dzulkarnaen kemudian meminta potongan-potongan besi untuk memenuhi celah di antara dua sisi penghalang. Setelah susunan besi itu memenuhi ruang yang diperlukan, ia memerintahkan agar api dinyalakan hingga besi tersebut menjadi panas. Selanjutnya, ia meminta cairan tembaga untuk dituangkan di atasnya. Dengan cara itu, terbentuklah penghalang kuat yang membuat Ya’juj dan Ma’juj tidak mampu memanjatnya ataupun melubanginya.
Kisah ini memberikan pelajaran tentang kepemimpinan, kerja sama, dan penggunaan kemampuan untuk melindungi masyarakat dari kejahatan. Namun, Al-Qur’an tidak menyebutkan nama gunung, negara, ataupun koordinat geografis tempat penghalang tersebut dibangun.
Di manakah lokasi gunung tersebut sebenarnya?
Jawaban yang paling hati-hati adalah bahwa lokasi pasti penghalang Ya’juj dan Ma’juj belum diketahui dan belum dapat dipastikan berdasarkan sumber Islam yang sahih. Al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa Dzulkarnaen menemukan suatu tempat di antara dua penghalang atau dua sisi pegunungan, lalu membangun penghalang di kawasan tersebut. Tidak ada keterangan eksplisit yang menyebutkan nama gunungnya.
Dalam Surah Al-Kahfi ayat 93, disebutkan bahwa Dzulkarnaen sampai di suatu tempat di antara dua gunung atau dua penghalang. Ia kemudian membangun sebuah radm, yaitu penghalang atau bendungan yang kokoh, untuk memisahkan masyarakat tersebut dari Ya’juj dan Ma’juj. Gambaran geografis ini menjadi dasar bagi berbagai pendapat mengenai lokasi yang mungkin berkaitan dengan kisah tersebut.
Sebagian peneliti dan penulis sejarah pernah menghubungkan kisah itu dengan kawasan pegunungan Kaukasus, yang berada di antara wilayah Eropa Timur dan Asia Barat. Kawasan ini memiliki jalur-jalur pegunungan dan celah sempit yang sejak zaman dahulu menjadi titik penting bagi pertahanan dan pergerakan manusia. Karena kesesuaian geografis tersebut, sejumlah orang mengaitkannya dengan kisah penghalang Dzulkarnaen.
Akan tetapi, kesesuaian bentuk alam bukanlah bukti bahwa tempat itu benar-benar lokasi yang dimaksud Al-Qur’an. Sampai sekarang, tidak ada bukti kuat yang memastikan bahwa sebuah benteng, tembok, atau gunung tertentu di Kaukasus merupakan tempat Ya’juj dan Ma’juj ditahan oleh Dzulkarnaen. Karena itu, menyebut lokasi tersebut sebagai jawaban yang pasti akan melampaui bukti yang tersedia.
Apakah Ya’juj dan Ma’juj dikurung di balik Gunung Qaf?
Ada pula cerita populer yang menghubungkan Ya’juj dan Ma’juj dengan Gunung Qaf. Dalam sebagian kisah tradisional, Gunung Qaf digambarkan sebagai gunung besar yang mengelilingi bumi atau berada di batas dunia yang dikenal manusia. Gambaran semacam ini muncul dalam sejumlah tradisi cerita dan literatur lama, tetapi tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta geografis ataupun keterangan Al-Qur’an.
Al-Qur’an tidak menyebut Gunung Qaf sebagai tempat Ya’juj dan Ma’juj dikurung. Tidak ada pula ayat yang secara tegas mengatakan bahwa Dzulkarnaen membangun penghalang di gunung tersebut. Oleh sebab itu, menghubungkan Gunung Qaf dengan lokasi pengurungan Ya’juj dan Ma’juj tidak memiliki dasar yang cukup untuk dinyatakan sebagai kepastian agama.
Umat Islam perlu membedakan antara keterangan wahyu, penafsiran ulama, pendapat sejarawan, dan cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Keempatnya tidak memiliki tingkat kepastian yang sama. Cerita yang terdengar menarik atau diwariskan dari generasi ke generasi belum tentu dapat dijadikan dasar untuk menetapkan suatu perkara gaib.
Apakah penghalang Dzulkarnaen masih berdiri sampai sekarang?
Pertanyaan berikutnya adalah apakah penghalang yang dibangun Dzulkarnaen masih berdiri hingga saat ini. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 97, Allah menjelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj tidak mampu memanjat ataupun melubangi penghalang tersebut. Kemudian, pada ayat 98, Dzulkarnaen menyatakan bahwa penghalang itu merupakan rahmat dari Tuhannya, tetapi ketika janji Allah datang, penghalang tersebut akan dijadikan rata.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa penghalang itu berkaitan dengan ketetapan Allah dan peristiwa yang akan terjadi pada waktunya. Namun, Al-Qur’an tidak memberi informasi geografis yang cukup untuk menentukan kondisi fisik, lokasi modern, atau bentuk penghalang itu saat ini. Karena itu, kita tidak dapat memastikan bahwa sebuah tembok kuno yang ditemukan arkeolog merupakan penghalang tersebut hanya karena bentuknya menyerupai gambaran dalam ayat.
Ada berbagai bangunan pertahanan kuno di dunia, termasuk tembok dan benteng di kawasan pegunungan. Sebagian mungkin terlihat cocok dengan gambaran penghalang dalam kisah Dzulkarnaen, tetapi kemiripan itu belum membuktikan identitasnya. Penetapan seperti ini memerlukan bukti yang jauh lebih kuat daripada sekadar kesamaan bentuk atau lokasi.
Kapan Ya’juj dan Ma’juj akan keluar?
Dalam ajaran Islam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj berkaitan dengan peristiwa akhir zaman. Al-Qur’an menyebutkan dalam Surah Al-Anbiya ayat 96 bahwa ketika Ya’juj dan Ma’juj dibuka, mereka turun dengan cepat dari tempat yang tinggi. Sementara itu, hadis-hadis sahih juga menjelaskan keluarnya mereka dalam rangkaian peristiwa menjelang hari kiamat.
Meskipun demikian, umat Islam tidak diberi keleluasaan untuk menetapkan tanggal atau tahun kemunculan mereka. Tidak tepat jika setiap penemuan terowongan, benteng, atau berita tentang kerusakan dunia langsung dihubungkan dengan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Peristiwa akhir zaman merupakan perkara yang harus dipahami berdasarkan dalil, bukan dugaan yang dipaksakan agar sesuai dengan berita terkini.
Hal penting lainnya adalah bahwa keberadaan Ya’juj dan Ma’juj termasuk perkara yang berkaitan dengan hal gaib. Seorang Muslim dapat mengimani berita yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya tanpa harus mengetahui seluruh rincian lokasi atau keadaan fisiknya. Tidak mengetahui tempat persisnya bukan berarti menolak kisah tersebut, melainkan mengakui batas pengetahuan manusia.
Pelajaran yang dapat diambil dari kisah Dzulkarnaen
Kisah ini tidak hanya berbicara tentang lokasi geografis atau keberadaan penghalang yang misterius. Dzulkarnaen memperlihatkan bahwa kekuasaan seharusnya digunakan untuk melindungi masyarakat dan mencegah kerusakan. Ia tidak sekadar menerima imbalan dari masyarakat yang meminta pertolongan, tetapi mengajak mereka bekerja sama dan memanfaatkan kemampuan yang tersedia.
Sikap Dzulkarnaen juga mengajarkan kerendahan hati. Setelah berhasil membangun penghalang yang kokoh, ia tidak menyombongkan dirinya seolah-olah keberhasilan tersebut semata-mata berasal dari kekuatannya. Ia justru menyebut penghalang itu sebagai rahmat dari Allah dan mengakui bahwa ketetapan Allah pada akhirnya akan terlaksana.
BACA JUGA: Apakah Dajjal Keturunan Manusia?
Bagi umat Islam, kisah tersebut mengingatkan bahwa tidak semua misteri harus dijawab dengan dugaan. Ketika wahyu tidak menyebutkan nama gunung atau lokasi tertentu, sikap yang lebih bijaksana adalah menyampaikan apa yang diketahui dan mengakui apa yang belum diketahui. Dengan begitu, rasa ingin tahu tetap dapat berkembang tanpa mencampuradukkan fakta, tafsir, dan cerita yang belum terbukti.
Jadi, di mana sebenarnya gunung tempat Ya’juj dan Ma’juj dikurung oleh Raja Dzulkarnaen? Hingga kini, lokasi pastinya belum dapat dipastikan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis sahih. Kawasan Pegunungan Kaukasus dan Gunung Qaf pernah dikaitkan dengan kisah tersebut dalam berbagai pendapat atau cerita, tetapi tidak ada dasar yang cukup untuk memastikan bahwa salah satunya merupakan lokasi penghalang Dzulkarnaen.
Yang jelas, Al-Qur’an menceritakan bahwa Dzulkarnaen membangun penghalang kuat untuk melindungi suatu kaum dari gangguan Ya’juj dan Ma’juj. Kisah itu mengajarkan tanggung jawab pemimpin, kerja sama, dan keyakinan terhadap ketetapan Allah. Daripada terlalu sibuk memastikan lokasi yang belum terbukti, umat Islam sebaiknya mempelajari dalil yang ada dan mengambil pelajaran dari kisah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

