MUSH’AB bin Abdillah berkata,
“Jika Rasulullah ﷺ disebutkan di hadapan Imam Malik, maka raut wajahnya berubah, ia menunduk hingga orang-orang yang ada di sekelilingnya merasa susah.”
Ketika Ja’far bin Muhammad datang. Ia adalah seorang yang banyak bercanda dan murah senyum.
Namun, jika disebutkan tentang Rasulullah ﷺ, maka ia berduka dan raut wajahnya berubah.
Saya sering bergaul dengannya, saya melihatnya hanya dalam tiga keadaan; sedang shalat, atau sedang berpuasa atau sedang membaca Al-Qur’an.
Saya tidak pernah melihatnya meriwayatkan hadits Rasulullah kecuali dalam keadaan suci.
Imam Asy-Syafi’i berkata,
“Saya melihat sekumpulan hewan di depan rumah Imam Malik, beberapa ekor kuda dari negeri Khurasan dan beberapa ekor Bighal dari Mesir.
Saya berkata,
“Alangkah indahnya.”
Imam Malik berkata, “Hewan-hewan itu menjadi hibah dariku untukmu.”
Saya berkata kepadanya,
“Tinggalkanlah satu ekor untukmu agar engkau bisa menunggangnya.”
Imam Malik menjawab,
“Saya malu kepada Allah menginjakkan telapak kaki hewan tunggangan saya ke tanah tempat Nabi Allah dimakamkan.”
Ibnu Uwais berkata,
“Jika Imam Malik duduk untuk meriwayatkan hadits, maka beliau berwudhu’ dan duduk di tengah tempat duduknya. Ia menyisir jenggotnya dan duduk dengan wibawa dan terhormat. Kemudian ia meriwayatkan hadits.”
Ia pernah ditanyakan tentang itu, ia menjawab,
“Aku ingin mengagungkan hadits Rasulullah. Aku tidak ingin meriwayatkan hadits Rasulullah kecuali dalam keadaan suci.”
Imam Malik tidak suka meriwayatkan hadits di jalan dalam keadaan tegak dan tergesa-gesa.
Ia berkata, “Saya ingin memahami hadits Rasulullah.”
Abdullah bin Al-Mubarak berkata,
“Saya berada bersama Imam Malik, beliau sedang meriwayatkan hadits kepada kami. Tiba-tiba, ia disengat kalajengking enam belas kali sengatan. Raut wajah Imam Malik berubah, namun ia tetap bersabar, ia tidak menghentikan hadits yang sedang ia riwayatkan.”
Ketika ia selesai dari majlis tersebut dan semua orang telah kembali, saya katakan kepadanya,
“Wahai Abu Abdillah, saya melihat keajaiban pada dirimu hari ini.”
Imam Malik menjawab, “Saya bersabar karena mengagungkan hadits Rasulullah.”
Ketika Khalifah Al-Mahdi memasuki kota Madinah, ia memberikan seekor Bighal kepada Imam Malik agar Imam Malik mau menunggangnya. Akan tetapi Imam Malik menolaknya seraya berkata,
“Saya malu kepada Allah jika saya menunggang hewan tunggangan di kota yang di dalamnya terdapat jasad Rasulullah.”
Imam Malik datang berjalan kaki. Ketika itu ia sedang sakit, maka ia dituntun oleh Al-Mughirah Al-Makhzumi, Ibnu Hasan Al-‘Alawi dan Ali bin Ali Al-Lahli. Mereka adalah para ulama dan tokoh di kota Madinah.
Ketika Khalifah Al-Mahdi, melihatnya, ia berkata,
“Subhanallah, ia tidak mau menunggang hewan tunggangan karena memuliakan Rasulullah, ia dituntun oleh mereka. Demi Allah, andai saya yang meminta mereka melakukan itu, pastilah mereka tidak mau menuruti ucapan saya.”
Al-Mughirah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kami bangga karena penduduk Madinah mengikuti tuntunan kami.” []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

