“Apabila naik ke dalam bahtera, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya. Akan tetapi, ketika Dia (Allah) menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al-Qur’an surah Al-‘Ankabūt ayat 65)
AYAT ini mengungkap sebuah paradoks dalam kehidupan manusia. Ketika berada dalam kesulitan yang mengancam nyawa, manusia dapat menyadari bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak untuk menyelamatkannya. Namun, ketika bahaya telah berlalu dan kehidupan kembali terasa nyaman, keyakinan itu seolah-olah menghilang. Manusia kembali kepada kebiasaan lama, bahkan melupakan Tuhan yang baru saja menjadi tempatnya memohon pertolongan.
Tafsir Tahlili menjelaskan keadaan orang-orang musyrik yang hatinya sebenarnya mengakui keesaan dan kekuasaan Allah, tetapi keyakinan tersebut tertutup oleh pengaruh dunia dan hawa nafsu. Mereka mengalami pertentangan antara pengakuan batin dan perilaku sehari-hari. Dalam keadaan tertentu, mereka kembali kepada fitrah untuk mengesakan Allah. Namun, ketika keadaan berubah, mereka kembali mempersekutukan-Nya.
Allah menggambarkan keadaan tersebut melalui sebuah peristiwa di tengah lautan.
Bayangkan seseorang berada di atas kapal yang sedang mengarungi lautan luas. Tiba-tiba, angin topan datang disertai gelombang besar. Kapal terombang-ambing, dihantam ombak, dan kehilangan kestabilan. Keselamatan penumpangnya terancam. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bahwa mereka akan tiba di daratan dengan selamat.
BACA JUGA: 6 Pembebasan Diri agar Peka Melihat Tanda-tanda Kekuasaan Allah SWT
Dalam keadaan seperti itu, manusia mulai menyadari keterbatasannya. Harta, kedudukan, kekuatan fisik, dan berbagai sandaran yang selama ini dibanggakan tidak lagi memberikan kepastian. Di tengah ancaman kematian, mereka menyadari bahwa keselamatan berada di luar jangkauan kemampuan mereka sendiri.
Mereka pun berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Tidak ada lagi tempat bergantung selain Dia. Mereka mengakui bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan untuk menyelamatkan mereka dari amukan lautan.
Pada saat itu, pengakuan terhadap keesaan Allah tidak sekadar menjadi ucapan. Keyakinan tersebut hadir dalam hati, perasaan, dan doa mereka. Mereka kembali kepada fitrah, yaitu kesadaran bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak atas kehidupan dan kematian.

Ketika Allah menyelamatkan mereka hingga tiba di daratan, ancaman pun berlalu. Mereka kembali merasakan keamanan dan ketenteraman. Namun, justru ketika kehidupan kembali nyaman, sebagian dari mereka melupakan pengakuan dan doa yang sebelumnya dipanjatkan dengan penuh kesungguhan. Mereka kembali mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan untuk menyelamatkan mereka.
Di sinilah letak persoalan mendasar manusia: mengapa Allah begitu mudah diingat ketika kesulitan datang, tetapi begitu mudah dilupakan ketika kehidupan kembali menyenangkan?
Kesulitan sering kali menyingkap kelemahan manusia dan meruntuhkan kesombongannya. Sebaliknya, kenyamanan dapat membuat manusia merasa mampu mengendalikan kehidupannya sendiri. Ketika merasa berkuasa, manusia terkadang melupakan bahwa kemampuan, kesempatan, dan keselamatan yang dimilikinya tidak pernah terlepas dari kehendak Allah.
Ikrimah bin Abi Jahal: Tauhid yang Ditemukan di Tengah Badai
Gambaran tentang kesadaran tauhid di tengah bahaya dapat ditemukan dalam kisah Ikrimah bin Abi Jahal.
Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dalam kitab Sirah bahwa setelah Rasulullah saw. menaklukkan Makkah, Ikrimah melarikan diri. Ia kemudian menaiki kapal dengan tujuan Habasyah. Namun, dalam perjalanan, kapal yang ditumpanginya terombang-ambing oleh badai.
Di tengah ancaman tersebut, para penumpang kapal saling mengingatkan agar berdoa dengan ikhlas kepada Tuhan. Mereka menyadari bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka dari bencana itu selain Dia.
Perkataan tersebut menggugah kesadaran Ikrimah. Ia menyadari bahwa jika tidak ada yang dapat menyelamatkan manusia di lautan selain Allah, maka demikian pula di daratan. Kekuasaan Allah tidak terbatas pada tempat atau keadaan tertentu.
Ikrimah kemudian berjanji kepada Allah bahwa apabila dirinya selamat dari lautan, ia akan menemui Muhammad dan menyatakan keimanannya. Ia berharap akan mendapati Rasulullah sebagai sosok yang pengasih dan penyayang.
Setelah selamat, Ikrimah menepati janjinya. Ia menemui Rasulullah saw. dan akhirnya masuk Islam.
Kisah ini memperlihatkan bahwa kesulitan terkadang menjadi jalan bagi manusia untuk menemukan kembali kebenaran yang selama ini diabaikannya. Badai yang mengancam nyawa Ikrimah bukan sekadar peristiwa alam. Dalam perjalanan hidupnya, peristiwa itu menjadi momentum untuk merenungkan hakikat ketuhanan dan mengubah arah kehidupannya.
Namun, tidak semua orang mengambil pelajaran yang sama dari kesulitan. Ada yang menjadi lebih dekat kepada Allah, tetapi ada pula yang kembali melupakan-Nya setelah keadaan membaik.
Ar-Razi, sebagaimana dikutip dalam al-Lawami, menjelaskan bahwa pengetahuan tentang Tuhan merupakan bagian dari fitrah manusia. Walaupun manusia dapat lalai mengingat-Nya ketika bersenang-senang, kesadaran itu dapat muncul kembali ketika menghadapi kesusahan.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah manusia mengingat Allah ketika tertimpa musibah, melainkan apakah kesadaran tersebut tetap hidup setelah musibah berlalu.
Tauhid sebagai Jalan Keselamatan
Tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan. Tauhid juga merupakan kesadaran tentang kepada siapa manusia harus bergantung, dari mana pertolongan berasal, dan bagaimana seharusnya ia menjalani kehidupan.
Dalam pembahasan mengenai faedah tauhid, Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa tauhid menjadi jalan keselamatan dari berbagai kesulitan. Bahkan, pengakuan terhadap tauhid dapat menjadi sebab keselamatan bagi orang-orang yang sebelumnya mengingkarinya ketika mereka menghadapi bahaya di dunia.
Allah berfirman dalam surah Al-‘Ankabūt ayat 65 bahwa orang-orang musyrik berdoa kepada-Nya dengan ikhlas ketika berada di kapal yang terancam bahaya. Ayat ini menunjukkan bahwa dalam keadaan genting, mereka menyadari siapa yang benar-benar memiliki kekuasaan untuk menyelamatkan.
Bagi orang-orang yang beriman, tauhid memiliki kedudukan yang lebih mendasar. Mereka tidak hanya kembali kepada Allah ketika menghadapi ancaman, tetapi menjadikan Allah sebagai tempat bergantung dalam seluruh keadaan. Mereka berusaha menjalani kehidupan dengan keyakinan bahwa pertolongan, keselamatan, dan jalan keluar pada akhirnya berada dalam kekuasaan-Nya.
Nabi Yunus, misalnya, berdoa kepada Allah ketika berada dalam kegelapan. Ia mengakui keesaan dan kesucian Allah sekaligus menyadari kesalahannya. Allah kemudian menyelamatkannya dari kesulitan tersebut.
Demikian pula para rasul dan pengikut mereka. Dengan keimanan dan keteguhan tauhid, mereka menghadapi berbagai ujian, termasuk penindasan dari orang-orang yang menentang dakwah. Pertolongan Allah datang sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya, meskipun bentuk dan waktunya tidak selalu seperti yang mereka harapkan.
Dari sini kita memahami bahwa tauhid bukanlah jaminan bahwa seorang mukmin tidak akan mengalami kesulitan. Para nabi justru menghadapi ujian yang berat. Akan tetapi, tauhid memberikan arah, kekuatan batin, dan keteguhan untuk menghadapi ujian tanpa kehilangan keyakinan kepada Allah.
Tauhid tidak selalu menghilangkan badai dari kehidupan, tetapi tauhid mengajarkan manusia kepada siapa ia harus bergantung ketika badai datang.
Ketika Kesadaran Datang Terlambat
Al-Qur’an juga memperlihatkan bahwa pengakuan terhadap Allah ketika kematian sudah berada di depan mata tidak selalu memberikan manfaat bagi orang yang sebelumnya terus-menerus mengingkari-Nya.
Fir’aun menjadi salah satu contohnya. Ketika tenggelam, ia menyatakan beriman kepada Tuhan yang diimani Bani Israil. Namun, pengakuan itu muncul ketika kebinasaan telah nyata di hadapannya.
Peristiwa ini mengandung pelajaran penting tentang waktu dan kesempatan. Kesadaran yang muncul setelah seluruh kesempatan untuk memilih dan memperbaiki diri berakhir tidak sama dengan keimanan yang diwujudkan ketika manusia masih memiliki kesempatan untuk bertobat dan beramal.
Hal serupa digambarkan dalam surah Al-Mu’minūn ayat 107–108. Di akhirat, orang-orang yang menerima azab memohon kepada Allah agar dikeluarkan dari neraka. Mereka berjanji tidak akan kembali melakukan kezaliman. Namun, Allah memerintahkan mereka agar tetap tinggal di dalamnya dan tidak lagi berbicara kepada-Nya.
Permohonan itu memperlihatkan penyesalan yang datang ketika kesempatan beramal telah berakhir. Mereka baru menyadari betapa berharganya kesempatan yang dahulu mereka sia-siakan.
Karena itu, manusia tidak seharusnya menunggu datangnya badai, ancaman kematian, atau kesulitan yang menghimpit untuk kembali kepada Allah. Selama kehidupan masih berlangsung, pintu untuk memperbaiki diri dan memperkuat tauhid masih terbuka.
Mengapa Kesulitan Dapat Menjadi Jalan Kembali kepada Allah?
Kesulitan sering kali mengubah cara manusia memandang kehidupan. Ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan, manusia mudah merasa bahwa dirinya mampu mengendalikan keadaan. Namun, ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat dikuasainya, ia mulai menyadari keterbatasannya.
Dalam keadaan demikian, manusia dapat menemukan kembali makna ketergantungannya kepada Allah. Ia menyadari bahwa kemampuan berpikir, bekerja, merencanakan, dan mencari pertolongan tetap memiliki batas.
Kesadaran tersebut seharusnya tidak berhenti pada doa ketika keadaan darurat. Tauhid perlu membentuk cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari: ketika memperoleh rezeki, menghadapi kegagalan, meraih keberhasilan, kehilangan sesuatu yang dicintai, maupun ketika berada dalam keadaan aman.
Orang yang memahami tauhid tidak hanya mengingat Allah ketika kehilangan jalan keluar. Ia juga mengingat Allah ketika jalan hidupnya terasa lapang. Ia tidak hanya memohon pertolongan ketika terdesak, tetapi juga bersyukur ketika memperoleh nikmat. Ia tidak hanya berjanji untuk berubah ketika tertimpa musibah, tetapi berusaha menjaga ketaatan setelah musibah itu berlalu.
Inilah perbedaan antara menjadikan Allah sebagai tempat meminta pertolongan dalam keadaan darurat dan menjadikan tauhid sebagai dasar kehidupan.

Refleksi: Apakah Kita Hanya Mengingat Allah Ketika Terdesak?
Kisah di geladak kapal mengajak kita bercermin. Mungkin kita tidak pernah menghadapi badai di tengah lautan. Namun, setiap orang memiliki badai dalam bentuknya masing-masing: penyakit, kesulitan ekonomi, kegagalan, kehilangan orang yang dicintai, persoalan keluarga, atau ketidakpastian masa depan.
Ketika kesulitan datang, kita berdoa dengan sungguh-sungguh. Kita memohon agar Allah memberikan jalan keluar. Kita berjanji akan memperbaiki diri apabila keadaan kembali membaik.
BACA JUGA: Mengapa Al-Qur’an Dibuka dengan Kalimat Alhamdulillāhi Rabbil Ālamīn?
Namun, apa yang terjadi setelah pertolongan itu datang? Apakah kita menjadi lebih taat, lebih bersyukur, dan lebih peduli kepada sesama? Ataukah kita kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya, seolah-olah tidak pernah memohon pertolongan dengan penuh kerendahan hati?
Pertanyaan ini penting karena kesulitan bukan satu-satunya ujian keimanan. Kenyamanan juga merupakan ujian. Bahkan, ketika kehidupan terasa aman dan semua kebutuhan terpenuhi, manusia dapat diuji oleh rasa cukup, kesombongan, dan kelalaian.
Tauhid mengajarkan bahwa manusia tidak boleh membatasi hubungannya dengan Allah hanya pada saat membutuhkan pertolongan. Allah tetap menjadi Rabb ketika kita berada dalam kesulitan maupun kelapangan, ketika kita menangis maupun tertawa, ketika kehilangan maupun memperoleh sesuatu yang diharapkan.
Karena itu, jangan biarkan doa yang lahir dari kesulitan hanya menjadi kenangan setelah keadaan membaik. Jadikan doa itu sebagai awal perubahan. Jadikan pertolongan Allah sebagai alasan untuk semakin bersyukur, bukan kesempatan untuk kembali lalai.
Pada akhirnya, badai terbesar bukan selalu badai yang menghempaskan kapal di tengah lautan. Badai yang lebih berbahaya adalah kelalaian yang menghapus kesadaran manusia tentang siapa Tuhannya setelah ia diselamatkan.
Tauhid adalah jalan kembali kepada Allah ketika kesulitan datang, sekaligus pegangan agar kita tidak melupakan-Nya ketika kehidupan kembali lapang. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE






Tulis komentar