9–12 Ramadhan 2 Hijriyah: Musyrikin Quraisy Menuju Badar

Nasrulloh Baksolahar
3 Min Read
Foto: Freepik

SETELAH Abu Sufyan mengirim utusan ke Mekah dengan membawa kabar—yang dilebih-lebihkan—bahwa kaum Muslimin akan merampas kafilah dagang, seluruh Musyrikin Quraisy pun bersiap untuk berperang.

Bagi orang-orang Quraisy hanya ada dua pilihan: berangkat sendiri atau mengirim wakilnya. Hampir tidak ada seorang pun pembesar Quraisy yang tertinggal, kecuali Abu Lahab. Pasukan yang berjumlah sekitar 1.300 orang itu dipimpin oleh Abu Jahal sebagai komandan tertinggi.

Perjalanan mereka digambarkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Anfāl ayat 47:

“Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya), serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.”

BACA JUGA:  17 Ramadhan 2 H: Malam dan Awal Badar

Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini, Allah melarang kaum Muslimin bersikap seperti orang-orang kafir Quraisy yang keluar dari negeri mereka dengan penuh kesombongan dan riya. Mereka menampakkan keperwiraan dan keberanian untuk membanggakan diri di hadapan manusia. Tujuan mereka bukan sekadar menyelamatkan kafilah, tetapi juga membangkitkan permusuhan terhadap Nabi Muhammad ﷺ, menghalangi dakwah beliau, serta menyiksa para sahabatnya.

Allah memperingatkan bahwa Dia Maha Mengetahui segala perbuatan mereka dan akan memberikan balasan yang setimpal atas kejahatan tersebut.

https://s.shopee.co.id/BOENjEhhY

Menurut Al-Bukhari, ayat ini turun berkenaan dengan keberangkatan kaum musyrikin Quraisy menuju Badar. Ketika Rasulullah ﷺ berhadapan dengan mereka, beliau bermunajat:

“Ya Allah, inilah kaum Quraisy datang dengan kesombongan dan kecongkakan mereka. Mereka mendustakan utusan-Mu. Maka turunkanlah pertolongan yang telah Engkau janjikan kepadaku.”

Sementara itu, ketika Abu Sufyan yang memimpin kafilah dagang mengetahui bahwa kafilahnya telah selamat melalui jalur pantai, ia mengirim pesan agar pasukan Quraisy kembali ke Mekah karena tujuan utama—menyelamatkan kafilah—telah tercapai.

BACA JUGA:  17 Ramadhan 2 H: Kekalahan Quraisy Menjelang Waktu Ashar di Badar

Namun, Abu Jahal menolak usulan tersebut. Ia berkata:

“Demi Allah, kita tidak akan kembali sebelum tiba di Badar. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari, berpesta, meminum arak, menyembelih unta, dan mengadakan hiburan. Biarlah seluruh bangsa Arab mendengar dan melihat kekuatan serta kebesaran kita, sehingga mereka senantiasa gentar terhadap kita.”

Di Badar memang terdapat pasar tahunan yang ramai didatangi para pedagang Arab. Karena itulah, Abu Jahal ingin menunjukkan kekuatan Quraisy di hadapan kabilah-kabilah lain.

Melalui peristiwa ini, Allah menegaskan agar kaum Mukminin menjaga keikhlasan, kesabaran, keteguhan, dan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ—berbeda dengan kesombongan dan riya yang menjadi ciri pasukan Quraisy. []

Sumber:
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, penerbit Ummul Qura, 2017
Kemenag
Qur’an Kemenag, Tafsir Tahlili

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *