Suci dari Haid di Siang Hari, Wajib Menahan Diri dari Pembatal Puasa?

Dini Koswarini
3 Min Read
Foto: Freepik

MASALAH ini sering ditanyakan kaum muslimah.
Terutama saat Ramadhan sedang berlangsung.
Sebagian wanita mengalami haid yang berhenti pada siang hari.
Lalu muncul pertanyaan tentang kewajiban berpuasa saat itu.

Apakah ia harus langsung menahan diri seperti orang berpuasa?
Ataukah ia boleh makan dan minum hingga waktu Maghrib?

Para ulama memiliki perbedaan pendapat dalam masalah ini.
Perbedaan ini termasuk hal yang wajar dalam fikih Islam.

Pendapat pertama menyatakan wajib menahan diri.
Artinya, ia harus imsak dari makan dan minum hingga Maghrib.
Meskipun puasanya hari itu tetap tidak sah.
Ia tetap wajib mengganti puasa di hari lain.

BACA JUGA:  Haid hanya 1 Menit sebelum Adzan Maghrib, Bagaimana Hukum Puasanya?

Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hanifah.
Juga menjadi pendapat Sufyan Ats-Tsauri.
Demikian pula pendapat Al-Auza’i.
Pendapat ini juga dinukil dari Al-Hasan Al-Bashri.
Serta disebut sebagai pendapat Ibnu Shalih.

Mereka mengqiyaskan dengan orang yang batal puasanya di siang hari.
Seperti orang yang lupa niat sejak malam.
Atau orang yang baru masuk Islam di siang hari.
Menurut mereka, tetap wajib menghormati waktu puasa.

Namun ada pendapat kedua yang menyatakan tidak wajib imsak.
Artinya, wanita tersebut boleh makan dan minum.
Karena sejak awal hari ia memang tidak berstatus berpuasa.
Statusnya sama seperti orang sakit atau musafir.

https://shopee.co.id/product/146266274/19989707042?affiliate_seller_voucher_token=8bCnE5QAm6iR2WjyYue2wtRa9DCMLatZPgassd7jTy&gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkWVp3RFo3Mkw5czd4Z0hzdEF1WVFibmRNdmxzQ1libytWb1EyM01Ja0JSaG8rc1VQKzNRMklnUVFNQWR1MTE3WU5GWXAxd1VxWThXWS96dnI0QmhJbXREQWVIcjg4eW1ZU3ZVeXdKcWZlakhPaFptU2d3eVE1azBpTlVHN2VyaytNeEF2d3pmU2ZkajR3Uk41UHhhdVpvPQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54kctt0m00ko&utm_campaign=id_9GGGTm4ed7&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8zwqcxepm8t

Pendapat ini adalah pendapat jumhur ulama.
Di antaranya adalah Imam Malik.
Kemudian Imam Asy-Syafi’i.
Dan juga Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayat.
Keterangan ini dijelaskan dalam kitab Fathul ‘Allam Syarh Bulughul Maram.

Pendapat kedua dinilai lebih kuat oleh banyak ulama.
Sebab tidak ada dalil tegas yang mewajibkan imsak.
Sementara hukum asal ibadah harus berdasarkan dalil.
Tanpa dalil, tidak boleh mewajibkan sesuatu.

Pendapat ini juga dikuatkan oleh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah.
Beliau menjelaskan bahwa wanita tersebut tidak wajib menahan diri.
Namun tetap wajib mengganti puasa di hari lain.

BACA JUGA:  Haid Berhenti Sebelum Zuhur, Haruskah Qadha Shalat dan Puasa?

Keterangan yang sangat jelas juga disampaikan oleh Imam Asy-Syafi’i.
Beliau memberi contoh kasus yang serupa.
Seseorang datang dari safar dalam keadaan tidak berpuasa.
Lalu istrinya suci dari haid di siang hari.
Menurut beliau, keduanya boleh makan dan minum.
Karena sejak pagi bukan termasuk orang berpuasa.

Kesimpulannya tegas.
Wanita yang suci dari haid di siang hari tidak wajib imsak.
Ia boleh makan dan minum hingga Maghrib.
Namun tetap wajib mengganti puasa hari tersebut.

Wallahu a’lam. []

SUMBER: DARUSSALAF.OR.ID

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *