Gretta, Nenek Asri dan Kak Lusi

5 Min Read
Ilustrasi: Azkia Karima Saefullah

PAGI itu sunyi.
Angin masuk pelan dari jendela.
Tirai bergerak seperti berbisik.
Dan di sudut kamar kecilnya, Gretta duduk dengan wajah cemberut.

Hatinya penuh sesak.
Seperti balon yang hampir meletus.

Ia baru saja bertengkar dengan kakaknya.
Lusi.

Semua bermula dari hal kecil.
Sangat kecil.

Gretta ingin memakai pita biru kesayangannya.
Pita itu hadiah dari bunda.
Tapi Lusi memakainya lebih dulu.

“Aku duluan!” kata Lusi.
“Tapi itu punyaku!” balas Gretta.

Mereka saling tarik.
Pita itu terjatuh.
Kusut.

Lusi tertawa kecil.
Gretta merasa itu ejekan.

Sejak saat itu, hati Gretta mengeras.
Ia marah.
Ia kesal.

https://s.shopee.co.id/60M1zoHWHp

“Aku tidak suka Kak Lusi!” katanya dalam hati.
“Aku tidak mau melihatnya lagi!”

Gretta mengambil secarik kertas.
Tangannya kecil, tapi gerakannya cepat.

Ia menulis:
“Aku benci Lusi. Aku tidak mau punya kakak seperti dia.”

Tulisan itu miring.
Sedikit berantakan.
Tapi jelas penuh amarah.

Gretta melipat kertas itu.
Lalu berjalan ke jendela.

Tanpa berpikir panjang—
ia melemparkannya keluar.

Kertas itu terbang.
Berputar.
Turun perlahan.

Dan jatuh…
tepat di pekarangan rumah Nenek Asri.

Nenek Asri sedang menyapu.
Ia berhenti.
Melihat kertas itu.

Ia memungutnya.
Membuka lipatannya.

Matanya membaca pelan.
Lalu…
ia tersenyum.

Senyum yang hangat.
Senyum yang tahu sesuatu.

Keesokan harinya, rumah terasa berbeda.

Gretta bangun.
Ia melihat ke kamar Lusi.

Kosong.

Tempat tidur rapi.
Selimut dilipat.
Tapi Lusi tidak ada.

Gretta mengerutkan dahi.
Ia berjalan ke dapur.

“Ayah, Kak Lusi ke mana?”

Ayah menggeleng.
“Tidak tahu.”

“Bunda?”

Bunda juga menggeleng.
“Coba tanya Moel.”

Moel adalah kucing mereka.
Ia sedang duduk santai di dekat pintu.

“Moel, kamu lihat Kak Lusi?” tanya Gretta.

Moel menguap.
Mengibaskan ekornya.

“Tidak tahu,” katanya malas.
“Tanya saja Nenek Asri.”

Gretta mulai merasa aneh.
Tapi ia tetap pergi.

Ia berjalan ke rumah Nenek Asri.

“Nek, apakah Nenek melihat Kak Lusi?”

Nenek Asri tersenyum lagi.
Sama seperti kemarin.

“Tidak tahu, Nak,” katanya lembut.
“Coba tanya Kambing di hutan.”

Hutan?

Gretta menelan ludah.
Tapi ia ingin menemukan Lusi.

Ia berjalan menuju hutan kecil di dekat rumah.

Di sana, ia bertemu seekor kambing.
Kambing itu sedang makan daun.

“Permisi, apakah kamu melihat Kak Lusi?”

Kambing mengunyah pelan.
Menggeleng.

“Tidak tahu,” katanya.
“Tanya saja Kelinci.”

Gretta menghela napas.
Ia mulai lelah.

Tapi ia melanjutkan.

Tak lama, ia menemukan seekor kelinci putih.
Lompat-lompat di bawah pohon.

“Kelinci, apakah kamu melihat Kak Lusi?”

Kelinci berhenti.
Menggerakkan hidungnya.

“Tidak tahu,” jawabnya.
“Tanya saja Srigala.”

Gretta terdiam.

Srigala?

Hatinya berdebar.
Kakinya terasa dingin.

Ia takut.
Sangat takut.

Tapi ia juga khawatir.
Di mana Lusi?

Akhirnya, dengan langkah kecil,
ia masuk lebih dalam ke hutan.

Dan di sana…
ia melihat seekor srigala.

Besar.
Diam.
Matanya tajam.

Gretta hampir menangis.

“Apakah… apakah kamu melihat Kak Lusi?”

Srigala menatapnya lama.
Lalu berkata pelan,

“Kembalilah ke rumah.”

Hanya itu.

Gretta bingung.
Tapi ia menurut.

Ia berbalik.
Mulai berjalan pulang.

Di tengah jalan…
ia bertemu Kelinci lagi.

Kelinci berkata satu kalimat:
“Yang kau cari, ada di dekatmu.”

Gretta mengerutkan dahi.

Beberapa langkah kemudian,
ia bertemu Kambing.

Kambing berkata hal yang sama:
“Yang kau cari, ada di dekatmu.”

Gretta mulai berpikir.

Ia berjalan lagi.

Di dekat rumah,
ia bertemu Nenek Asri.

Nenek tersenyum.
Dan berkata:
“Yang kau cari, ada di dekatmu.”

Gretta terdiam.

Saat ia masuk halaman,
Moel duduk di sana.

Moel membuka satu mata.
Dan berkata:
“Yang kau cari, ada di dekatmu.”

Gretta berhenti.

Kalimat itu berputar di kepalanya.

Ia membuka pintu rumah.
Masuk pelan.

Dan di ruang tamu—

Lusi duduk.
Membaca buku.
Tenang.

Seolah tidak pernah pergi.

Gretta terpaku.

“Ka… Kak Lusi?”

Lusi menoleh.
Tersenyum kecil.

“Kamu dari mana?” tanya Lusi.

Gretta tidak menjawab.

Ia teringat semuanya.
Kertas itu.
Kata-kata kasar itu.
Perasaannya sendiri.

Matanya mulai basah.

“Maaf…” bisiknya.

Lusi menutup bukunya.
“Minta maaf untuk apa?”

Gretta mendekat.
Memeluk kakaknya.

“Aku marah hanya karena pita…”

Lusi tertawa pelan.
“Pita itu ada di laci. Aku cuma pinjam.”

Gretta terdiam.

https://id.shp.ee/LjngkWz

Ternyata…
ia marah karena salah paham.

Ia hampir kehilangan sesuatu yang berharga.

Kini ia mengerti.

Kalimat itu.
Yang sama dari semua makhluk yang ia temui.

“Yang kau cari, ada di dekatmu.”

Yang ia cari bukan hanya Lusi.
Tapi juga rasa sayang.
Yang sejak awal… sudah ada.

Saudara adalah harta.
Keluarga adalah tempat pulang.

Kadang, kita marah karena hal kecil.
Karena keinginan tak terpenuhi.

Tapi marah bukan jalan keluar.

Lebih baik berhenti sejenak.
Bicara baik-baik.
Mencari solusi.

Karena bisa jadi…
yang kita butuhkan
selama ini
sudah ada
di dekat kita. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *