PAGI itu cerah.
Langit biru terbuka lebar.
Burung-burung bernyanyi pelan.
Di dalam rumah kecil itu,
Ucha masih berguling di tempat tidur.
Selimutnya kusut.
Rambutnya acak-acakan.
“Ucha… bangun…” panggil ibu lembut.
Ucha membuka mata sedikit.
Lalu menutupnya lagi.
Ia menghela napas panjang.
Hari baru.
Rutinitas baru.
Dan satu hal yang selalu sama—
Ucha malas menggosok gigi.
Ia berusia delapan tahun.
Sudah kelas dua.
Tapi kebiasaan itu…
belum berubah.
“Ucha, sikat gigi dulu ya,” kata ibu.
Ucha bangkit pelan.
Berjalan ke kamar mandi.
Ia melihat sikat gigi di gelas.
Diam sejenak.
Lalu berteriak,
“Bu! Aku masih ngantuk!”
“Itu bukan alasan,” jawab ibu.
Ucha mengeluh.
Mengambil sikat gigi.
Menyikat…
sebentar saja.
Lalu berkumur.
Selesai.
Padahal belum bersih.
Hari-hari berlalu.
Setiap pagi sama.
Setiap malam sama.
Selalu ada alasan.
“Lagi buru-buru!”
“Sudah capek!”
“Nanti saja!”
Ibu sering mengingatkan.
Kakak Ali juga.
Tapi Ucha hanya mengangguk.
Lalu lupa.
Suatu sore…
Pintu rumah terbuka.
Ayah pulang dari kantor.
Langkahnya pelan.
Wajahnya pucat.
“Ayah?” panggil Ucha.
Ayah duduk.
Memegang pipinya.
Tubuhnya gemetar.
“Ibu…” suara ayah lemah.
Ibu datang cepat. “Ayah kenapa?”
“Gigi ayah sakit…”
Ucha terdiam.
Ia belum pernah melihat ayah seperti itu.
Wajah ayah meringis.
Matanya terpejam.
Badannya panas.
Demam.
Tak lama,
ayah dibawa ke dokter gigi.
Ibu ikut.
Ucha tinggal di rumah.
Bersama Kakak Ali.
Malam terasa panjang.
Jam berdetak pelan.
Ucha duduk diam.
Tidak bermain.
Tidak menonton.
Ia hanya menunggu.
“Kenapa ya gigi ayah bisa sakit?” bisiknya.
Kakak Ali mengangkat bahu. “Karena tidak dijaga,” katanya pelan.
Ucha menelan ludah.
Ia mulai merasa tidak nyaman.
Malam semakin larut.
Baru saat gelap benar,
pintu rumah terbuka.
Ayah dan ibu pulang.
Ucha berlari.
“Ayah!”
Ayah tersenyum lemah.
Sudah agak membaik.
Tapi masih terlihat lelah.
Ia duduk pelan.
“Sudah diperiksa?” tanya Kakak Ali.
Ibu mengangguk.
“Gigi ayah bolong,” katanya.
Ucha terdiam.
“Ditambal lima,” lanjut ibu.
“Dua di kiri. Tiga di kanan.”
Ucha membelalak. “Lima?”
Ayah mengangguk pelan.
“Sekarang ayah tidak boleh makan panas,” kata ibu.
“Tidak boleh juga minum dingin.”
Ucha semakin diam.
Ia melihat ayah.
Ayah tidak makan nasi malam itu.
Hanya minum pelan.
Wajahnya masih menahan sakit.
Setelah beberapa saat,
ayah memanggil mereka berdua.
“Ucha… Ali… sini…”
Mereka mendekat.
Duduk di samping ayah.
“Ayah masih muda,” kata ayah pelan.
“Tapi gigi ayah sudah bermasalah.”
Ucha dan Ali saling pandang.
“Kalian tahu kenapa?”
Mereka menggeleng.
Ayah tersenyum kecil.
Sedikit sedih.
“Waktu kecil…” katanya,
“ayah tidak pernah gosok gigi.”
Ucha terkejut. “Kenapa, Yah?”
Ayah menarik napas.
“Bukan karena malas,” katanya.
“Bukan karena tidak mau.”
Ayah berhenti sejenak. “Dulu… ayah tidak punya sikat gigi.”
Ucha menatap ayah.
“Tidak punya pasta gigi juga.”
Suara ayah pelan.
“Kadang ayah pakai abu gosok,” lanjutnya.
“Tapi jarang.”
Ruangan jadi sunyi.
“Akhirnya…” kata ayah,
“gigi ayah rusak.”
Ucha menunduk.
Hatinya terasa berat.
Ia membayangkan ayah kecil.
Tidak punya sikat gigi.
Sementara ia…
Punya.
Lengkap.
Tapi malas.
Sangat malas.
Matanya mulai basah.
Ia tidak bicara.
Malam itu,
Ucha berjalan ke kamar mandi.
Pelan.
Ia mengambil sikat gigi.
Melihatnya lama.
Lalu mulai menyikat.
Pelan.
Sungguh-sungguh.
Bukan sebentar.
Bukan asal.
Ia menyikat dengan hati-hati.
Ke kiri.
Ke kanan.
Ke depan.
Ia berkumur.
Melihat cermin.
Wajahnya berbeda.
Lebih serius.
Lebih mengerti.
Ia keluar dari kamar mandi.
Ibu tersenyum.
Kakak Ali juga.
Ayah melihatnya. “Sudah gosok gigi?”
Ucha mengangguk. “Iya…”
Ia mendekat.
Memeluk ayah pelan. “Ucha tidak mau gigi Ucha sakit seperti ayah…”
Ayah tersenyum hangat. “Bagus…”
Sejak malam itu,
Ucha berubah.
Ia tidak lagi mencari alasan.
Pagi hari, ia gosok gigi.
Malam hari, ia gosok gigi.
Dengan benar.
Dengan niat.
Karena ia sudah tahu—
Menjaga itu lebih mudah
daripada memperbaiki.
Dan apa yang kita punya hari ini…
adalah nikmat
yang tidak semua orang miliki. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

