Perjuangan Mereka yang Diasingkan di Sri Lanka oleh VOC Belanda

Nasrulloh Baksolahar
4 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

SEJARAH Nusantara mencatat bahwa pengasingan bukanlah akhir dari perjuangan. Justru, dari tanah yang jauh dan terasing, semangat perlawanan tetap menyala. Hal ini tampak pada tiga tokoh penting: Syekh Yusuf Al-Makassari, Amangkurat III, dan garis perjuangan keluarga Mangkunegara.

Syekh Yusuf Al-Makassari adalah ulama, mujahid, sekaligus pemimpin spiritual yang memiliki pengaruh luas. Lahir di Gowa pada 1626, ia menempuh perjalanan panjang dalam menuntut ilmu hingga ke Makkah, Madinah, Yaman, dan Damaskus. Sepulangnya ke Nusantara, ia berperan besar di Kesultanan Banten sebagai mufti dan penasihat Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika Banten jatuh ke tangan VOC pada 1682, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Sri Lanka pada 1684.

Namun pengasingan tidak menghentikan dakwahnya. Di Sri Lanka, ia tetap mengajarkan Islam dan membina murid-murid dari berbagai wilayah, terutama India Selatan. Bahkan, pengaruhnya masih menjangkau Nusantara melalui jaringan jamaah haji. Karena aktivitasnya dianggap berbahaya, VOC kembali memindahkannya ke Afrika Selatan. Di sana pun ia tetap berdakwah hingga wafat pada 1699. Sosoknya menjadi simbol bahwa perjuangan tidak selalu dengan pedang, tetapi juga dengan ilmu dan keteguhan iman.

https://id.shp.ee/JLAL5EP

Berbeda dengan Syekh Yusuf, Amangkurat III adalah raja Mataram yang terjebak dalam konflik politik internal dan intervensi VOC. Ia naik takhta pada 1703 sebagai penerus Amangkurat II, namun menghadapi penolakan dari banyak pihak yang lebih mendukung pamannya, Pangeran Puger. Konflik ini dimanfaatkan VOC untuk memperkuat pengaruhnya.

Setelah serangkaian peperangan dan pengkhianatan, Amangkurat III akhirnya menyerah pada 1708. Ia kemudian dibawa ke Batavia dan diasingkan ke Sri Lanka hingga wafat pada 1734. Kisahnya mencerminkan rapuhnya kekuasaan yang terjebak dalam konflik internal dan ketergantungan pada kekuatan asing. Pengasingannya menjadi penutup dari perebutan kekuasaan yang melemahkan Mataram.

Sementara itu, semangat perlawanan justru diwarisi oleh generasi berikutnya, terutama dalam sosok Raden Mas Said, yang kelak dikenal sebagai Mangkunegara I. Ia adalah putra dari Pangeran Arya Mangkunegara, yang juga diasingkan VOC ke Sri Lanka. Sejak kecil, Raden Mas Said tumbuh dengan kesadaran akan ketidakadilan kolonial.

Perjuangannya dimulai sejak muda dengan bergabung dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap VOC dan kerajaan yang telah menjadi boneka kolonial. Selama sekitar 16 tahun, ia memimpin perang gerilya dengan lebih dari 250 pertempuran. Keberanian dan ketangguhannya membuatnya dijuluki “Pangeran Sambernyawa.”

Ia menolak tunduk pada VOC, bahkan ketika banyak penguasa lain memilih kompromi. Baginya, perjuangan bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi upaya menegakkan martabat dan keadilan. Pada akhirnya, melalui Perjanjian Salatiga tahun 1757, ia mendirikan Kadipaten Mangkunegaran sebagai bentuk kedaulatan yang tetap menjaga kehormatan.

BACA JUGA: Bagaimana VOC Menguasai Indonesia: Dari Dagang hingga Penjajahan Sistematis

Dari ketiga tokoh ini terlihat bahwa pengasingan ke Sri Lanka bukanlah akhir, melainkan bagian dari babak panjang perjuangan. Syekh Yusuf menunjukkan kekuatan ruhiyah melalui dakwah, Amangkurat III menjadi pelajaran tentang konflik internal, sementara Mangkunegara I mewarisi semangat perlawanan yang tak padam.

Sejarah ini mengajarkan bahwa penjajahan tidak hanya dilawan di medan perang, tetapi juga melalui keteguhan iman, kesadaran politik, dan keberanian untuk tetap berdiri, bahkan ketika berada jauh dari tanah air. []

Sumber: Salim A Fillah, Kisah-kisah Pahlawan Nusantara, Pro U Media, 2022

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *