Harga Kambing di Zaman Nabi Berapa Sih?

Dini Koswarini
6 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

BANYAK orang penasaran, sebenarnya berapa harga kambing di zaman Rasulullah ﷺ? Pertanyaan ini sering muncul terutama menjelang Idul Adha, ketika harga hewan kurban mulai naik dan orang membandingkan kondisi sekarang dengan masa dahulu. Meski tidak ada daftar harga resmi seperti di zaman modern, beberapa riwayat hadits memberi gambaran tentang nilai seekor kambing pada masa Nabi ﷺ.

Dengan memahami hal ini, kita juga bisa melihat bagaimana Islam memandang harta, perdagangan, dan kemampuan ekonomi masyarakat pada masa itu.

Gambaran Mata Uang di Zaman Nabi

Di zaman Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab menggunakan mata uang dinar dan dirham.

Dinar terbuat dari emas.
Dirham terbuat dari perak.

Selain itu, transaksi juga sering dilakukan dengan barter atau tukar barang. Nilai kambing saat itu tidak selalu tetap, karena dipengaruhi kualitas hewan, umur, kesehatan, dan kondisi pasar sebagaimana sekarang.

Namun dari beberapa riwayat, para ulama memperkirakan harga seekor kambing biasa di masa Nabi ﷺ berkisar sekitar 1 dinar atau kurang, tergantung jenisnya.

BACA JUGA: Abdullah bin Masud: Anak Pengembala Kambing yang Dipenuhi Ilmu

Hadits Tentang Harga Kambing

Salah satu hadits yang terkenal adalah kisah sahabat Urwah Al-Bariqi radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ pernah memberinya uang satu dinar untuk membeli seekor kambing.

Ternyata Urwah mampu membeli dua ekor kambing dengan uang tersebut. Setelah itu ia menjual salah satunya seharga satu dinar, lalu datang kepada Nabi ﷺ dengan membawa satu kambing dan satu dinar sekaligus.

Rasulullah ﷺ pun mendoakan keberkahan untuk perdagangannya.

Hadits ini menunjukkan bahwa:

Satu dinar bisa digunakan membeli dua kambing pada waktu tertentu.
Berarti harga seekor kambing sekitar setengah dinar.
Ada kemungkinan harga berbeda tergantung kualitas dan kondisi pasar.

Kisah ini juga menunjukkan kecerdasan sahabat dalam berdagang dan keberkahan doa Nabi ﷺ.

https://s.shopee.co.id/6fbi7nDfPz

Berapa Nilai 1 Dinar Jika Dirupiahkan?

Para ulama menjelaskan bahwa 1 dinar emas beratnya sekitar 4,25 gram emas murni. Jika dihitung dengan harga emas masa sekarang, nilainya bisa mencapai jutaan rupiah.

Misalnya:

Jika harga emas per gram sekitar Rp1.800.000,
Maka 1 dinar kurang lebih senilai Rp7 jutaan.

Kalau satu kambing setara setengah dinar dalam riwayat tadi, berarti nilainya kira-kira sekitar Rp3–4 jutaan dalam ukuran sekarang.

Menariknya, angka ini tidak terlalu jauh dari harga kambing kurban di Indonesia saat ini. Ini menunjukkan bahwa hewan ternak memang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sejak dahulu.

Tidak Semua Kambing Harganya Sama

Penting dipahami bahwa harga kambing di zaman Nabi ﷺ tidak satu angka pasti. Sama seperti sekarang, ada kambing murah dan ada yang mahal.

Beberapa faktor yang mempengaruhi harga antara lain:

Usia kambing
Kondisi kesehatan
Ukuran tubuh
Jenis dan kualitas ternak
Musim dan kebutuhan pasar

Kambing yang gemuk dan sehat tentu lebih mahal dibanding kambing kecil atau kurus.

Bahkan dalam syariat kurban, hewan yang cacat berat tidak boleh dijadikan kurban. Ini menunjukkan bahwa kualitas hewan memang sangat diperhatikan dalam Islam.

Kehidupan Sederhana di Masa Nabi

Meski hewan ternak memiliki nilai tinggi, Rasulullah ﷺ hidup sangat sederhana. Beliau tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup utama.

Kadang dapur rumah beliau tidak menyala selama beberapa hari. Makanan pokok beliau sering kali hanya kurma dan air. Namun hati beliau adalah hati paling kaya.

Dari sini kita belajar bahwa keberkahan bukan hanya soal banyaknya harta, tetapi bagaimana harta digunakan dalam ketaatan.

Pelajaran dari Kisah Harga Kambing

Ada beberapa hikmah penting yang bisa diambil:

1. Islam Mengajarkan Kejujuran dalam Berdagang

Urwah Al-Bariqi radhiyallahu ‘anhu tidak mengambil keuntungan secara curang. Justru karena kejujurannya, Nabi ﷺ mendoakan keberkahan untuknya.

Perdagangan yang jujur mendatangkan keberkahan, walaupun keuntungan terlihat kecil.

Kambing, Hewan Kurban, Harga Kambing di Zaman Nabi
Foto: Freepik

2. Hewan Ternak Adalah Aset Berharga

Di masa dahulu, kambing bukan sekadar hewan biasa. Ia menjadi sumber makanan, susu, perdagangan, bahkan simbol kekayaan.

Karena itu banyak sahabat memiliki kambing dan unta sebagai aset utama mereka.

3. Harga Bisa Berubah Sesuai Kondisi

Hadits tadi juga mengajarkan bahwa harga pasar bisa berubah. Islam tidak menetapkan harga mutlak untuk semua barang.

Karena itu naik turunnya harga kambing menjelang Idul Adha adalah hal yang sudah terjadi sejak dahulu dalam dunia perdagangan.

BACA JUGA: Kambing Hitam Kambing Putih

4. Keberkahan Lebih Penting daripada Nominal

Urwah mendapatkan keberkahan karena amanah dan jujur. Dalam hidup ini, harta yang berkah jauh lebih baik daripada harta banyak tetapi penuh penipuan.

Penutup

Harga kambing di zaman Nabi ﷺ diperkirakan sekitar setengah dinar hingga satu dinar, tergantung kualitas dan kondisi pasar. Jika dikonversi ke masa sekarang, nilainya bisa setara jutaan rupiah, tidak jauh berbeda dengan harga kambing saat ini.

Namun yang paling penting bukan sekadar mengetahui nominalnya, melainkan mengambil pelajaran dari kehidupan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka berdagang dengan jujur, hidup sederhana, dan selalu mengutamakan keberkahan daripada kemewahan dunia.

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi rezeki halal, hati yang qana’ah, dan kemampuan untuk beribadah dengan harta yang Allah titipkan. Aamiin. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *