MATAHARI terbit di negeri yang ramai.
Di sana hidup seorang nabi yang lembut.
Namanya Yunus ‘alaihissalam.
Beliau diutus kepada kaum Niniwe.
Sebuah kaum yang tinggal di wilayah yang kini dikenal sebagai Irak utara.
Mereka menyembah berhala.
Mereka berpaling dari Allah.
Nasihat demi nasihat telah disampaikan.
Hari demi hari berlalu.
Malam berganti pagi.
Namun hati mereka tetap keras.
Mereka menolak kebenaran.
Mereka mengejek utusan Allah.
Mereka menganggap ancaman azab hanyalah cerita.
Kesabaran Nabi Yunus terus diuji.
Beliau mengajak dengan kelembutan.
Beliau memperingatkan dengan kasih sayang.
Tetapi penolakan semakin menjadi.
Beliau merasa kaumnya sangat sulit diajak kepada kebenaran.
Hatinya pun dipenuhi kesedihan.
BACA JUGA: Hiruk Pikuk Malaikat saat Nabi Yunus di Perut Paus
Akhirnya beliau meninggalkan kaumnya.
Beliau pergi sebelum Allah mengizinkan untuk meninggalkan mereka.
Beliau berharap azab Allah segera turun kepada kaum yang terus membangkang.
Langkah beliau membawa dirinya menuju pantai.
Di hadapannya terbentang lautan yang luas.
Sebuah kapal sedang bersiap berlayar.
Beliau ikut menaikinya.
Angin bertiup pelan.
Layar terkembang.
Kapal mulai menjauh dari daratan.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Langit berubah gelap.
Ombak meninggi.
Angin menderu sangat kencang.
Kapal berguncang hebat.
Para awak kapal ketakutan.
Mereka mengira kapal kelebihan muatan.
Harus ada seseorang yang dilemparkan ke laut.
Undian pun dilakukan.
Nama Nabi Yunus keluar.
Mereka tidak percaya.
Beliau dikenal sebagai orang yang saleh.
Undian diulang.
Nama beliau keluar lagi.
Diulang untuk ketiga kalinya.
Tetap nama Nabi Yunus.
Mereka pun memahami bahwa ini adalah ketetapan Allah.
Dengan penuh kepasrahan.
Nabi Yunus melompat ke dalam lautan.
Air menelan tubuh beliau.
Gelombang menggulung.
Saat itulah Allah memerintahkan seekor ikan besar.
Bukan untuk memakan.
Tetapi untuk menyelamatkan.
Ikan itu menelan Nabi Yunus.
Beliau berada dalam tiga kegelapan.
Gelapnya malam.
Gelapnya dasar laut.
Dan gelapnya perut ikan.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada teman.
Tidak ada tempat bergantung.
Hanya Allah semata.
Di dalam kesunyian itu.
Beliau mengakui kesalahannya.
Beliau memohon ampun kepada Rabb semesta alam.
Lalu terucaplah doa yang diabadikan sepanjang zaman.
لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.”
“Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Doa itu lahir dari hati yang benar-benar tunduk.
Bukan sekadar ucapan.
Tetapi pengakuan.
Bahwa hanya Allah tempat kembali.
Allah Yang Maha Pengasih mendengar doa hamba-Nya.
Tidak ada doa yang sia-sia.
Tidak ada air mata yang luput dari pengetahuan-Nya.
Maka Allah memerintahkan ikan besar itu.
Ikan itu berenang menuju pantai.
Lalu memuntahkan Nabi Yunus ke daratan.
Tubuh beliau lemah.
Kulitnya terluka.
Tenaganya hampir habis.
Allah menumbuhkan pohon labu di dekatnya.
Daunnya menjadi pelindung.
Buahnya menjadi makanan.
Beliau dirawat langsung oleh rahmat Allah.
Setelah pulih.
Allah kembali memerintahkan Nabi Yunus mendatangi kaumnya.
Beliau pun kembali ke Niniwe.

Namun pemandangan yang beliau lihat sangat berbeda.
Kaumnya telah berubah.
Ketika tanda-tanda azab mulai tampak.
Mereka sadar.
Mereka menyesal.
Mereka bertobat kepada Allah.
Mereka meninggalkan berhala.
Mereka menangis memohon ampunan-Nya.
Allah menerima tobat mereka.
Azab yang hampir turun pun diangkat.
Kaum Niniwe menjadi kaum yang beriman.
Mereka termasuk sedikit kaum dalam sejarah para nabi yang diselamatkan setelah bertobat sebelum azab benar-benar turun.
Begitulah kasih sayang Allah.
Lebih luas daripada murka-Nya.
Lebih besar daripada dosa hamba-Nya.
Selama pintu tobat masih terbuka.
Masih ada harapan.
Masih ada ampunan.
Masih ada jalan pulang.
BACA JUGA: Semua Lika-liku Para Nabi, Dilalui Rasulullah ﷺ
Pelajaran Tauhid
Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah tempat bergantung dalam setiap kesulitan.
Tidak ada yang mampu menyelamatkan manusia selain Allah, sekalipun berada di dasar lautan.
Seorang nabi pun tidak boleh bertindak mendahului perintah Allah.
Tobat yang tulus akan mengundang rahmat Allah.
Doa adalah bukti ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Allah Maha Mendengar doa siapa pun yang kembali kepada-Nya dengan ikhlas.
Seluruh makhluk, termasuk ikan besar dan lautan, tunduk kepada perintah Allah semata.
Hikmah Kisah Nabi Yunus
Kesabaran adalah bekal utama dalam berdakwah.
Jangan berputus asa menghadapi orang yang sulit menerima nasihat.
Kesalahan hendaknya diakui, bukan dibenarkan.
Musibah bisa menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah.
Taubat yang datang sebelum terlambat akan menghapus dosa dengan izin Allah.
Jangan pernah meremehkan kekuatan doa yang lahir dari hati yang ikhlas.
Rahmat Allah selalu lebih dekat daripada yang dibayangkan oleh hamba yang mau kembali kepada-Nya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

