BANYAK orang mengira bahwa ketika usia sudah memasuki kepala lima, gairah seksual suami akan menurun dengan sendirinya. Kenyataannya, tidak selalu demikian. Ada pria berusia 50 tahun, bahkan lebih, yang masih memiliki hasrat seksual yang tinggi. Sebagian istri mungkin merasa kewalahan, apalagi jika tenaga sudah tidak sekuat dulu, atau sedang mengalami perubahan hormonal menjelang menopause.
Lalu, bagaimana Islam memandang kondisi seperti ini?
Pertama-tama, penting dipahami bahwa memiliki hasrat seksual yang tinggi bukanlah dosa. Islam justru mengakui bahwa naluri tersebut merupakan fitrah manusia. Allah menciptakan suami dan istri agar saling menjadi pakaian bagi satu sama lain, saling menjaga kehormatan, sekaligus menjadi tempat bernaung secara lahir dan batin.
Rasulullah ﷺ sendiri menganjurkan agar kebutuhan biologis pasangan dipenuhi dengan cara yang baik. Hubungan suami istri bukan hanya persoalan kenikmatan, tetapi juga ibadah apabila dilakukan sesuai syariat dan dengan niat menjaga kesucian diri.
Namun, Islam juga mengajarkan keseimbangan.
Hak suami memang harus diperhatikan. Akan tetapi, hak istri pun tidak boleh diabaikan. Pernikahan bukan hubungan satu arah yang hanya memenuhi keinginan salah satu pihak.
Allah berfirman:
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 228)
Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan rumah tangga dibangun di atas asas saling memahami, bukan saling memaksa.
Lalu bagaimana jika suami masih sangat bergairah, sedangkan istri mulai sering kelelahan?
Yang pertama adalah komunikasi.
Jangan memendam rasa lelah atau tertekan. Banyak pasangan justru mengalami masalah karena sama-sama diam. Suami mengira istrinya baik-baik saja, sementara istri terus memendam ketidaknyamanan.
Sampaikan kondisi dengan lembut. Jelaskan bila tubuh sedang tidak fit, sedang banyak pikiran, atau memang mulai mengalami perubahan fisik akibat usia.
Kedua, carilah waktu yang sama-sama nyaman.
Tidak semua hubungan intim harus terjadi secara spontan. Pasangan dapat berdiskusi mengenai waktu yang lebih sesuai sehingga keduanya berada dalam kondisi yang lebih siap, baik secara fisik maupun emosional.
Ketiga, perhatikan kesehatan.
Memasuki usia lima puluhan, baik suami maupun istri sama-sama mengalami perubahan hormon. Pada wanita, menopause dapat menyebabkan kekeringan pada organ intim, penurunan gairah, atau rasa nyeri saat berhubungan. Sementara sebagian pria tetap memiliki kadar testosteron yang cukup tinggi sehingga keinginan seksualnya masih besar.
Jika kondisi ini menimbulkan masalah, tidak ada salahnya berkonsultasi kepada dokter. Banyak solusi medis yang aman untuk membantu pasangan menjalani kehidupan rumah tangga dengan lebih nyaman.
Dalam sejarah Islam terdapat kisah menarik pada masa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Suatu malam beliau mendengar seorang wanita melantunkan syair tentang kerinduannya kepada sang suami yang sedang berjihad dalam waktu lama. Umar kemudian bertanya kepada putrinya, Hafshah radhiyallahu ‘anha, berapa lama seorang wanita mampu bersabar ditinggal suaminya. Dari dialog itulah Umar menetapkan kebijakan agar pasukan tidak terlalu lama meninggalkan keluarga mereka.
Kisah ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kebutuhan biologis suami maupun istri. Keduanya adalah kebutuhan yang harus dijaga.
Namun demikian, suami juga harus memiliki empati.
BACA JUGA: Adakah Keutamaan Suami Istri yang Berjima Sebelum Berangkat Shalat Jumat?
Apabila istri benar-benar sakit, sangat kelelahan, atau memiliki uzur syar’i, maka suami hendaknya bersabar dan tidak memaksa. Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam memperlakukan istri dengan penuh kasih sayang. Beliau tidak dikenal sebagai sosok yang memaksakan kehendak, tetapi selalu memperhatikan keadaan keluarga beliau.
Sebaliknya, istri juga hendaknya tidak menolak tanpa alasan yang dibenarkan. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan agar suami dan istri sama-sama menjaga hak pasangannya, selama tidak ada uzur yang sah.
Intinya, usia bukanlah ukuran tunggal tinggi atau rendahnya gairah seseorang. Ada yang masih sangat bersemangat di usia lima puluh, ada pula yang menurun sejak usia empat puluh. Semua itu merupakan bagian dari perbedaan yang Allah ciptakan pada setiap manusia.
Yang terpenting bukanlah seberapa sering hubungan itu terjadi, melainkan apakah suami dan istri mampu menjalaninya dengan penuh kasih sayang, saling menghormati, dan tanpa saling menyakiti.
Karena pada akhirnya, rumah tangga yang diridhai Allah bukan dibangun di atas pemenuhan keinginan sepihak, melainkan di atas musyawarah, kelembutan, dan cinta yang terus dirawat hingga rambut keduanya memutih.
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


