JIWA yang sakit memandang segala sesuatu seba salah dan tidak puas. Jiwa yang sakit mendahulukan sentimennya daripada pertimbangan akalnya.
Tidak ada yang baik dalam pandangannya. Semuanya jelek. Semuanya tidak beres. Semuanya tidak tidak puas.
Bila tidak puas lalu hendak memperbaiki, itu bukan penyakit. Bila ingin merobohkan lalu hendak membangun lebih sempurna, itu bukan kesalahan. Bila mengganti yang tidak cakap dengan yang lebih cakap itu bukan merusak.
Bila hanya menghamburkan kritik, menunjukkan tidak puas, mencerca, memaki, mencela, dan melepaskan rasa benci saja, itu adalah alamat jiwa yang sakit. []
Sumber:
Buya Hamka, Cahaya Baru, GIP, 2022
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
